
Aku terbangun dari tidur saat tubuh ini terasa kaku dan pegal, kaki Leon masih setia berada di di bawah kepalaku. Aku mengucek-ngucek mata agar penglihatan kembali jelas, setelahnya aku berbaring telentang menatap wajah Leon yang tenang. Matanya terpejam disertai deru napas pelan yang tenang, aku baru tau kalau raja kegelapan itu ternyata juga bisa bernapas normal seperti manusia.
Saat seperti ini dia benar-benar terlihat seperti manusia biasa, dia terlihat sangat damai seperti sebuah permukaan air danau yang sangat tenang. Aku tau jika dia tidak mungkin lagi tidur, tapi tetap saja tangan ku iseng menggapai wajahnya dengan niat mengusik ketenangan di sana. Terasa sangat curang memang jika melihat ada sosok yang lebih sempurna dari diri sendiri.
"Hahhh..." Aku menghela napas berat saat jari-jari tanganku menyentuh kulit wajah nya yang lembut
"Apa yang ingin kau lakukan!" Tiba-tiba saja Leon bangun dan menangkap tanganku dengan penuh kewaspadaan
Aku memberikan senyum pada tatapan tajamnya itu "Seandainya aku lebih tua dari mu sedikit! Aku ingin memanggilmu adik kecilku!" gumamku sembarang
Dia melotot "Apa kau gila?" geramnya melepaskan tanganku
"Maaf! Maaf! Aku hanya bercanda!" Aku terkekeh geli melihat wajah kesalnya
Setelah beberapa saat terdiam saling mengabaikan, aku bangun duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepala di bahu lebarnya. Langit sudah semakin gelap, entah karena memang sudah hampir malam atau karena efek langit mendung. Beberapa kali Leon menyingkirkan kepalaku, tapi berkali-kali pula aku menyandarkan kepalaku hingga dia kesal dan mengalah.
__ADS_1
Aku tersenyum puas karena keras kepalanya masih kalah keras dari kepalaku. Aroma bunga mawar di taman ini semakin menguat menyentuh indera penciuman. Bunga yang berwarna-warni juga menambah keindahan taman yang sangat sederhana ini. Walaupun taman ini lebih kecil dari taman utama, tapi keindahan taman ini tidak kalah dengan taman utama.
Aku jadi teringat dengan taman di kediaman grand Duke, mungkin taman itu sekarang hanya di tumbuhi oleh tanaman berduri. Walaupun di rawat dan di tata dengan rapi, tanaman berduri tetaplah tanaman berduri, tidak akan berubah menjadi mawar yang indah.
"Apa kau tidak sadar, jika kau itu bukan lagi gadis kecil!" gerutu Leon lirih
"Hemmm... Kenapa?"
"Bukan apa-apa!"
Aku berpaling menatap ke arahnya "Katakan! Apa yang barusan kau katakan!" desak ku
"Bukan apa-apa!"
"Bukan apa-apa!"
__ADS_1
"Kau mau mati?" kesalku menatapnya marah
"Bunuh saja! Itupun jika bisa!" lagaknya sombong
"Kau..." tudingku ke wajahnya "... Woiiii! urusan kita belum selesai!" teriakku semakin kesal setelah dia menghilang
Setelah di tinggal sendirian aku malah menggerutu seperti orang gila, memaki-maki Leon yang membuatku kesal entah kenapa. Kembali ku atur napasku yang sempat tidak terkendali sebelum akhirnya bangkit berdiri, hendak kembali ke kamar. Di saat aku baru berdiri menepuk-nepuk gaunku yang kotor, saat itulah seorang pelayan datang menghampiri ku.
"Putri!" panggilnya segera menghampiriku "Apakah anda berbaring di tempat kotor seperti ini! Lihatlah sekarang kondisi gaun anda, dan lihat... wajah anda juga jadi kotor!" katanya membantuku menepuk-nepuk membersihkan gaun dan wajahku
"Ada apa? Kenapa kemari kan tidak kuminta!" tanyaku setelah dia selesai membersihkan wajahku
"Maafkan saya putri! Saya kemari ingin menyampaikan jika pangeran Lean sedang mencari anda!"
"Ada apa kakak mencariku?" tanyaku segera berjalan keluar taman
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu putri!" sahutnya yang segera mengikuti ku di belakang
Saat melewati tempat pencucian, para pelayan menyapaku dengan ramah sekedar basa-basi. Padahal baru sekali aku ke tempat ini, itupun hanya sebentar sekedar mencari pelayan yang bisa selalu ada di kamar jika ku butuhkan. Ya walaupun memang saat itu aku juga memberikan sedikit hadiah untuk mengapresiasi kerja keras mereka. Tapi aku tidak menyangka jika efeknya akan jadi sebesar ini.