
Kami semua terduduk lesu dan kelelahan setelah selesai membasmi para monster. Lelah, kesal gara-gara semua kuda menghilang sangat terlihat jelas di wajah mereka. Entah monster kiriman siapa yang barusan kami basmi, yang jelas saat ini kemarahan ku semakin bertambah.
Jalur perjalanan yang kami tempuh memang tidak terlalu aman dilewati, karena tiba-tiba bisa bertemu monster seperti barusan. Niatnya pengen cepat sampai ke basecamp malah sial kayak gini.
"Kita lanjutkan saja perjalanan dengan jalan kaki, dan berharap saja para kuda brengsek itu tidak berlari jauh..." kataku meminta mereka berhenti beristirahat
"Baik putri!" untungnya mereka semua tidak banyak mengeluh
"Jika kita tidak menemukan para kuda, jalan kaki seperti ini saja sampai ke basecamp akan memakan waktu sehari semalam, jika tanpa beristirahat... apakah kalian sanggup?"
"Sanggup Putri!!" sahut mereka semangat
"Bagus! aku suka kerja kalian... saat sampai di kediaman nanti ingatkan aku untuk memberikan kenaikan gaji pada kalian..."
"Whoaa... baik putri..." sorak mereka senang
"Tapi! kalian semua harus selamat tentunya!"
"Baik Putri!!" angguk mereka semangat
Kami memulai perjalanan panjang ini dengan langkah pelan tapi pasti. Lelah mereka semua belumlah pulih, makanya aku hanya mengajak berjalan kaki, andai saja mereka semua fit mungkin akan kuajak berlari.
__ADS_1
Jalan setapak yang di tumbuhi oleh semak belukar di kanan kiri ini, terlihat leseh bekas kuda berlari, sepertinya. Semakin ke depan aku semakin ingin memastikan jika para kuda berlari ke arah yang kami tuju sekarang.
"Putri! disini ada bekas tapak kaki kuda..."
"Ya akupun menyadari nya..."
"Apakah perlu saya pastikan di depan..."
"Tidak usah! tolong jangan pernah berpisah dengan kelompok! biarkan kita bertemu kuda-kuda itu secara kebetulan yang wajar saja!"
"Baik putri!!"
Semakin masuk ke dalam, hutan semakin lebat hingga tidak bisa membuat cahaya bulan yang memang redup menelisik masuk hutan melewati celah-celah daun. Semakin masuk ke dalam aura di tempat ini juga menjadi semakin mencekam dan dingin, seperti ada sesuatu yang jahat sedang mengintai kami.
"Jika kau bisa sihir api, kenapa tidak digunakan sejak tadi..." kesalku memukul kepala prajurit yang ternyata bisa menggunakan sihir api dalam skala kecil
"Benar..." para prajurit yang lainnya juga ikut kesal dan memukulnya
"Maafkan saya..." katanya cengengesan, karena mungkin dia yang termuda di antara para prajurit
"Diantara kalian siapa lagi yang bisa mengendalikan sihir?"
__ADS_1
"Saya putri!"
"Sihir apa yang kau kuasai?"
"Hanya sihir kecil dan tak berarti... saya memiliki sihir angin.." katanya malu-malu
"Tidak ada sihir yang tidak berarti... jika kalian melatih sihir dengan benar mungkin saja kalian akan menjadi ahli sihir!"
"Putri! terdengar suara kuda dari sebelah sana..." tunjuk seorang prajurit ke arah kegelapan pekat di dalam hutan
"Jangan bilang kau memiliki sihir pendengaran?" tebak ku
"Saya? saya tidak mempunyai sihir apa-apa sejak kecil putri..." elaknya seakan-akan benar tidak memiliki sihir
"Sekarang coba kau fokuskan beberapa mil ke belakang... apakah kau mendengar sesuatu?"
"Tidak putri..." sahutnya bingung
"Mungkin skalanya terlalu jauh... ya, nanti saja kita bahas, sekarang buka jalan menuju para kuda sialan itu..."
Dari mereka berenam, tiga di antaranya adalah pengguna sihir yang umum dan biasa saja. Tapi ini cukup menguntungkan bagiku dalam melewati bahaya malam ini dan kedepannya. Semoga saja kekuatan sihir mereka masih bisa berkembang jika di bimbing dan dilatih dengan benar.
__ADS_1
Setelah kami berjalan menerobos kegelapan hutan yang sepertinya tidak pernah di lewati. Sekitar 2 mil (1 mil sama dengan 1,609 km) kami berjalan akhirnya kami menemukan para kuda yang sedang minum dari mata air di dalam hutan.
Mereka semua bahagia saat menemukan 5 ekor kuda yang kami tunggangi beberapa waktu lalu yang sempat melarikan diri meninggalkan tuannya. Setelah memarahi para kuda sialan itu kami segera kembali ke jalan utama dan lanjut menempuh perjalanan yang masih cukup panjang.