KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Monster Lagi...


__ADS_3

Hari itu, aku masih ingat dengan jelas sosok berjubah hitam dengan topeng yang menutupi hampir seluruh wajahnya di pemakaman lady Ayla. Dia bersandar di pohon besar dekat dengan makam lady Ayla entah bagaimana ekspresi wajahnya saat itu. Tapi yang jelas aku sempat bertukar pandangan dengannya yang terlihat sangat sedih Dan sekarang aku melihat lagi tatapan itu di dalam diri Lean.


Tapi sekarang percuma semua tebakan yang kupikirkan, karena sekarang aku masih berada dalam portal yang memabukkan ini. Mereka semua tidak menjelaskan apa-apa padaku, entah harus memakan waktu berapa lama sampai tiba ke kerajaan mereka. Mereka semua terlihat datar dan kaku, seakan-akan mereka sedang di kendalikan oleh sesuatu.


Aku menutup mulut karena tiba-tiba rasanya ingin muntah "Hoekk!" Tapi anehnya bukan aku yang muntah tapi salah satu utusan yang ada di belakang


Aku tidak akan menoleh karena aku tahu jika muntahan seseorang itu sangat menjijikkan "Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanyaku memecah keheningan


"Ijin menjawab! sekitar 7 jam lagi putri!" sahut utusan tua


"Apa selama itu kita hanya akan berada di dalam portal ini saja?"


"Jika putri ingin istirahat di tengah jalan, kami akan berhenti!"


"Baiklah, kalau begitu bisakah berhenti sekarang!" kataku memijit kepala yang semakin puyeng


"Baik putri! Hentikan sekarang!" utusan tua itu mengangkat tangannya meminta penyihir yang ada di belakang menghentikan perjalanan dengan portal memabukkan ini


Perjalanan di hentikan dan kami semua mendarat di sebuah tanah lapang yang di kelilingi oleh hutan. Rasanya sedikit bahaya jika di dalam hutan ada monster, ingin mengusulkan pindah tempat, semua utusan sudah terlanjur duduk melepas lelah dan pusing.


Kupikir hanya aku yang akan pusing dan mabuk dalam perjalanan melalui portal teleportasi, ternyata para utusan juga mabuk perjalanan. Tapi mereka semua bisa dengan cepat mengembalikan tenaga tidak seperti diriku yang makin merasa mual dan pusing. Tiba-tiba dari arah selatan hutan terdengar suara binatang buas yang sedang menuju kemari.


"Lindungi tuan putri!" teriak ketua utusan


"Tetap waspada, karena kita tidak tahu bahaya apa yang sedang menuju kemari..." katanya lagi mengingatkan

__ADS_1


semua utusan segera membuat dinding perlindungan dengan sihir mereka untuk melindungi ku. Aku merasa terharu, tapi memang semua itu adalah tugas mereka untuk melindungi ku. Benar saja, apa yang kutakutkan makhluk itu bukan binatang buas biasa tapi para monster yang terlihat lapar.


Mereka semua adalah penyihir hanya satu orang yang merupakan kesatria, tapi kesatria itu sedang mabuk oleh perjalanan barusan. Jika mereka semua pintar, seharusnya mereka kembali melanjutkan perjalanan bukannya melawan para monster yang terlihat lapar itu.



Tapi ada hal yang lebih tidak terduga lagi, ternyata para monster ini datangnya bergerombol. Saat para utusan saling bertukar pandangan aku berusaha menahan tawa, karena aku tahu jika akhirnya para monster itu akan berkelahi satu sama lain dulu sebelum menyerang mangsanya, sebab mereka memiliki sistem rimba di dalam diri para monster itu.


"Tetap waspada!" kata kepala utusan bersiap-siap untuk menyerang


"Baik!" sahut yang lainnya serempak


"Eh, ada yang aneh!" mereka semua memandang ku


"Ada apa putri?" tanya kepala utusan


"Bener putri! monster di tanah ini berbeda dengan para monster di tanah kekaisaran anda, jika para monster di kekaisaran terlihat melakukan sistem rimba, tapi di hutan ini para monster lebih mengerikan, mereka seperti terhubung satu sama lainnya!"


"Apa! Lalu kenapa kalian diam saja, sebelum ada korban, lebih baik kalian menyiapkan portal teleportasi sekarang..." kataku berdiri dari duduk


Mereka semua malah saling bertukar pandangan "Baik, segera putri!" katanya setelah itu


Belum selesai mereka membaca sihir teleportasi, tiba-tiba para monster itu datang menyerbu. Untungnya mereka semua telah memasang sihir pelindung yang awalnya kupikir akan aman, tapi tiba-tiba pelindung retak di hantam oleh para monster ini. Tidak berselang lama seluruh pelindung sihir retak berkeping-keping dan para monster pun menerkam kami semua yang tidak memiliki kesiapan karena masih sibuk merapal mantra sihir teleportasi.


Bahkan aku yang ada di balik perlindungan mereka semua ikut tercakar oleh kuku panjang mengerikan para monster. Lengan bajuku menjadi sobek dibuatnya, benar-benar kacau sudah dan keadaan pun semakin kacau saat salah satu monster menyeret ujung gaunku masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


rasanya seperti main tarik upih, menyenangkan jika bisa dinikmati, tapi sekarang aku mana mungkin bisa menikmati penderitaan ini. Beberapa kali kepalaku terantuk akar kayu yang di lewati. Ranting-ranting juga ikut mencakar tubuh dan wajahku, yang masih di tarik monster dengan posisi telentang.


"Dasar Leon brengsek! Katanya dia sudah mengembalikan kekuatan ku... Tapi mana kekuatan... Aww..." aku berteriak kesal hingga membuat monster membanting ku ke depan


"Hhrrrrr..." dia mengerang dengan air liur yang menetes


"Ihhh, jijik!" aku bergedik melihat monster bengis di depanku


"Hhrrrrggghhh...." Geraman nya semakin membuat ku begidik


"Hiyah..." teriakku mencoba mengulurkan tangan berharap sihirku aktif "Sial, kenapa masih kagak bisa!" umpatku setelah berkali-kali mencoba segala gerakan seperti yang dilakukan penyihir


Tanpa kusadari monster yang ada di depanku berlari menerjang ke arahku dengan ganasnya. Aku yang tidak bisa apa-apa hanya bisa pasrah saat tanganku digigit olehnya.


"Aaakkkk..." aku berteriak kesakitan karena gigitan tajamnya


Cakar monster yang menggigit tanganku terayun ke arah tubuh ku yang segera tercabik oleh cakaran nya. Gaun putihku segera berubah warna menjadi merah saat rasa perih menjalari perutku yang tercabik. Gaunku juga sudah sobek dimana-mana dibuatnya. Hingga detik berikutnya monster lain datang ikut menerjang ke arahku, namun ternyata binatang tetaplah binatang.


Tubuhku terlempar beberapa meter kesamping saat monster itu mengayunkan tangan besarnya ke arahku. Kepala utusan yang sudah berlumuran darah datang dengan langkah yang terpincang-pincang menghampiri ke arahku. Tapi sebelum sampai ke tempatku berada seekor monster menerjang tubuhnya hingga tersungkur jatuh.


"Putri, bertahanlah!" teriak kepala utusan yang masih berusaha melawan monster


Aku hanya tersenyum melihat perjuangan sulitnya, sambil menekan perutku yang terus mengeluarkan darah "Apakah tidak ada penyihir api yang ikut?" tanyaku lirih


"Api!" tiba-tiba kepala utusan terpikirkan sebuah cara

__ADS_1


Seberapapun besarnya monster, kalo sudah bertemu dengan api mereka tetap saja terbakar. Tapi apinya harus lebih besar dari monster-monster ini dulu, itupun kalo ada penyihir api di antara mereka. Jika aku mati di sini, maka aku tidak perlu menikah dan tidak perlu susah-susah lagi memikirkan bagaimana harus menjalani hidup, pasrah aja lah.


"Seharusnya tadi aku tidak minta mereka berhenti di tengah-tengah perjalanan..." Sesalku saat darah yang keluar dari luka di perut tak kunjung berhenti


__ADS_2