
Jalan tol yang awalnya sepi, kini menjadi ramai di penuhi oleh polisi, para perawat, warga biasa yang lewat bahkan sampai para wartawan yang semakin banyak. Untuk kondisi pak Aldi tidak terlalu parah, hanya satu lebam di wajah dan kakinya yang terkena pukulan ringan hingga hanya menyebabkan kram yang segera di obati. Sedangkan Azka yang mendapatkan banyak lebam di wajah masih tidak seberapa dengan tangannya yang harus di gips.
Untuk para anak geng motor juga dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, aku pikir si ketua geng motor adalah anak yang paling parah mendapatkan luka, tapi nyatanya ada beberapa anak lain yang setelah di periksa mengalami keretakan pada tulang-tulang di dalam tubuhnya. Dan yang paling sedikit mendapatkan luka fisik hanyalah aku, namun beda lagi dengan luka mental karena aku sempat di lecehkan oleh anak-anak geng motor sialan itu.
"Aku pasti akan mematahkan tangan anak itu!" Gumam Azka masih marah
"apakah masih ada yang sakit mba?" tanya suster yang melihatku menahan tangis
Aku menggeleng
"Hei, tenanglah... Mereka semua akan tertangkap dan anak-anak yang berani melecehkan mu itu akan mendapatkan hukuman yang berat!" kata Azka berusaha menenangkan ku
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca
"Yaudah nangis aja!" kata Azka akhirnya
"Huuaaaa...." aku pun menangis beneran
"Ada apa?" tanya pak Aldi yang mendengar suara tangisku
"Se, senior... hiksss..."
"Oh tangan ini, udahlah ini nggak apa-apa kok!"
"Senior emang nggak apa-apa... Tapi kerjaan senior kan jadi harus saya yang ngerjain... Huaaaa... Ke,kenapa sih harus tangan senior yang terluka... Hiksss... Kan saya jadi harus lembur lagi..." kataku dengan terisak kesal
Semua orang yang mendengar keluhan ku hanya bisa saling bertukar pandangan sebelum akhirnya menahan tawa.
"Maaf ya... pfftt..."
"Kamu kan sangat kompeten, gampang lah..."
__ADS_1
"Huaaa..." Aku semakin menyaring kan suara tangisku walaupun terasa lebay, karena saat ini aku tidak butuh dukungan tapi bantuan
"Putri!!!" teriak seseorang di depan mobil ambulans yang membuatku bungkam seketika
"Maaf pak! Anda tidak bisa..."
"Minggir, Put... Yuna! Dimana Yuna? Yuna!" teriak suara yang ku kenal
"Kayak kenal suaranya!" gumamku
"Yu... Kamu, Wajah kamu kenapa di tempeli plester luka..."
"Aaww..." Teriakku lirih saat laki-laki yang membuatku kaget sampai tidak bisa bernafas melepas plester luka dari wajahku
Dia Leon, laki-laki yang datang dari dunia antah-berantah yang selama setahun ini berusaha untuk ku lupakan. Laki-laki yang selama ini kuyakini sebagai ilusi mata, kenapa bisa tiba-tiba datang kembali ke dalam hidupku yang sudah sibuk dengan urusan pekerjaan.
"Ka,kamu..." Aku menatap orang-orang yang ada di sekitar
Mereka semua menatapku dengan tatapan penuh tanya, pertanyaan tentang siapa laki-laki yang tiba-tiba datang kehadapanku ini. Jika memang benar bukan hanya aku yang melihatnya, berarti Leon bukanlah ilusi semata tetapi memang makhluk hidup di dunia ini. Tapi bukankah sejak pertama kedatangan Leon kesini sudah bisa dilihat oleh Adam hari itu. Berarti selama ini aku hanya berharap pada angan-angan yang kosong, semata-mata hanya karena tidak percaya dengan keberadaan Leon.
"Siapa kamu?" kata Azka menepis tangan Leon yang hendak menyentuh pipiku
Leon hanya melirik sekilas pada Azka "Kamu jadi semakin kurus!" katanya mencubit pipiku
"Tu,tunggu dulu... Kamu ngapain ada di sini?" Aku menepis tangannya karena merasa masih tidak percaya jika Leon yang selama ini kuanggap sebagai ilusi benar-benar hidup
"Yuna! Kamu kenal dengan orang aneh ini?" tanya Azka yang masih berusaha melindungiku dari Leon
Aku menatap Azka dengan tatapan bingung entah harus bereaksi bagaimana setelah kembali bertemu dengan kawan lama yang di kira hanya ilusi ini. Sedangkan Azka dan Leon saling adu tatapan mata penuh persaingan seperti sedang berbicara lewat pikiran masing-masing.
"Kak Yuna!" panggil Adam yang datang dengan terengah-engah
__ADS_1
"Adam! Kamu ngapain ke sini bukannya tidur..."
"Kakak nggak apa-apa kan? lukanya parah nggak? kaki kakak masih lengkap kan? fiuhh... syukurlah masih lengkap!" kata Adam setelah memeriksa kaki ku yang tertutup selimut
"Kakak baik-baik aja... Tapi kenapa kamu masih belum tidur, besok kan kamu masih ada kelas pagi..."
"Gimana aku mau tidur, kalo kakak nggak sampai-sampai juga di rumah... saat ku telpon juga nggak diangkat-angkat, untung ada pak polisi yang ngangkat telpon, kalo nggak aku bakal jadi adik yang nggak tau apa-apa lagi..."
"LAGI?" Kata Azka dan Leon bersamaan
"Kakak mau aku gendong sampai rumah atau jalan sendiri sampai motor?" kata Adam mengabaikan Azka dan Leon
"Tunggu dulu, apa yang kamu maksud dengan kata 'lagi' barusan?" tanya Azka penasaran
"Jadi ini bukan pertama kali nya kamu di jahatin orang kayak gini?" geram Leon
Azka yang paham maksud Leon ikut menatapku dengan lekat seakan-akan meminta penjelasan.
"Nanti aja ceritanya..."
Setelah menghindari pertanyaan mereka yang bagiku tidak terlalu penting lagi karena kejadian itu telah berlalu. Adam segera menuntunku menuju ke motor yang di parkirnya tidak jauh dari kerumunan orang. Tapi tiba-tiba Leon menahan tanganku, hingga membuat Adam dan aku terhenti dengan kesal.
"Biar aku yang antar kalian, motor kalian akan di bawa sama sopir!" Kata Leon yang tiba-tiba menggendong ku ala tuan putri
"Hei, turunin kak Yuna! Gue kan adiknya, harusnya gue dong yang gendong kak Yuna!" kesal Adam menghadang langkah Leon
"Udah deh anak kecil diam aja!"
Keributan yang terjadi padaku bukan berarti menghentikan keributan yang terjadi di sekitar. Karena keributan di tempat kejadian tidak terlalu memperdulikan ku yang jadi rebutan para laki-laki seperti di FTV. Semuanya masih berjalan sesuai alur, tapi karena cerita ini hanya berfokus pada diriku, makanya keadaan sekitar seperti tidak terlalu penting.
Bahkan liputan berita yang di siarkan secara langsung masih riuh memenuhi dunia pertelivisian karena kejadian ini menyebabkan orang besar dan anak geng motor yang memang tidak di sukai publik. Kebanyakan anak motor itu memang sangat menyukai cari sensasi, mau itu terang-terangan atau secara transparan.
__ADS_1
Jika tidak salah tebak, geng motor yang mencari gara-gara dengan kami hanyalah anak kecil dari sebuah organisasi besar. Karena jika hanya sekumpulan anak geng motor biasa tidak mungkin berjumlah puluhan orang. Sebenarnya jika Leon tidak datang ke tempat ini, aku masih bisa yakin jika anak-anak berandalan itu akan di tindak sesuai hukum. Tapi beda lagi dengan adanya Leon, yang seperti mengutamakan diriku dari dirinya sendiri karena kami masih terikat dengan kontrak perbudakan yang tidak masuk akal.
Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan dalam setahun terakhir, karena melibatkan terlalu banyak orang dalam kejadian kali ini.