KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Kejadian Tidak Terduga


__ADS_3

Seminggu kembali berlalu setelah pembicaraan terakhir dengan pangeran Lean. Dan dalam waktu seminggu itu pula aku tidak sedikitpun melangkah keluar dari kamar. Karena aku sibuk merenung dan menyusun rencana kehidupan yang seperti apa yang kuinginkan. Tapi, walaupun aku tidak melangkah keluar dari kamar, sempat beberapa kali aku meminta Leon membawaku ke tempat di mana aku bisa istirahat dengan tenang sambil merenung.


Rasanya lama-kelamaan aku menjadi semakin bergantung pada Leon, padahal sudah bertekad untuk melakukan apa-apa dengan usaha diri sendiri. Mungkin kini saatnya aku bergerak dan melakukan sesuatu yang berguna untukku di masa depan nanti. Adopsi diriku juga sudah di batalkan kaisar, kini aku sepenuhnya kembali menjadi putri kekaisaran, yang namanya mulai memanjat naik dengan perlahan-lahan.


Padahal aku belum pernah ikut ke pesta minum teh ataupun pesta apapun itu, tapi sejak 3 hari yang lalu undangan pesta berdatangan walaupun tidak banyak tapi tetap ada undangan. Semua undangan yang datang memang bukan pesta yang besar, tetapi cukup terkenal di pergaulan kelas atas. Buktinya, kini ada surat dari putri keluarga Count Gerill, yang terkenal sejak jaman dulu hingga nanti menjadi keluarga pergaulan kelas atas tingkat tinggi.


Di kehidupan sebelumnya aku juga pernah satu kali menghadiri undangan dari keluarga Count Gerill. Yang memang acaranya selalu saja mewah, mau itu acara kecil ataupun besar.


"Apakah putri akan pergi ke pesta teh lady Gerill?" tanya Via pelayan yang sudah kuangkat menjadi dayang


Aku mengalihkan tatapan dari surat yang sudah lama kutatap ke arahnya "Hemmm... Siapkan saja dulu gaun dan perhiasan yang nanti bisa saja kubutuhkan!"


"Baik putri!" Sahutnya senang "Apakah putri ingin pergi jalan-jalan keluar? Lihat lah putri, langit di luar sedang cerah, sangat cocok untuk jalan-jalan!" Dia memang sedikit bawel, tapi otaknya lumayan encer


Aku menatap ke arah luar menatap langit yang memang sedang cerah "Tiba-tiba aku ingin bertemu dengannya..." gumamku lirih


"Ya putri! Siapa yang ingin anda temui?"


"Bukan siapa-siapa!" sahutku kembali membuka surat undangan yang lain


"Whoaahh... Putri! lihatlah kupu-kupu cantik ini..." katanya mengagumi seekor kupu-kupu berwarna biru cerah masuk ke kamarku lewat jendela yang terbuka


Aku ikut memalingkan wajah untuk melihat kupu-kupu yang masuk tanpa di undang itu "Usir kupu-kupu itu!" kataku datar menatap lurus ke arah kupu-kupu


"Ya! tapi kenapa putri?" tanya Via heran

__ADS_1


"Usir saja! Dan ingat, aku tidak ingin menerima tamu yang akan datang hati ini... usir sa..." kalimatku terhenti saat tiba-tiba pintu terdorong membuka memperlihatikan putra mahkota di depan pintu


"Salam yang mulia putra mahkota, semoga anda selalu di berkahi Dewi cahaya!" kata Via memberi salam kepada nya


Putra mahkota berjalan lurus ke arahku mengabaikan Via yang masih membungkuk padanya. Dia menatapku tajam sebelum akhirnya duduk berhadapan denganku dengan lancang. Ada apa ini, kenapa tiba-tiba benar-benar ada tamu yang tidak kuharapkan datang. Apakah aku juga punya kekuatan firasat buruk?.


"Kau! Apa yang kau mau agar kau bisa membantuku mengembalikan kehormatan ku sebagai putra mahkota?" tanya nya to the point


"Memangnya apa hubungan antara kehormatan anda dengan saya? Saya tidak tahu apa-apa masalah anda sekarang!" kataku meletakkan surat yang sedang kubaca


"Jangan berpura-pura bodoh! Bukankah kau yang mempengaruhi semua orang untuk bertindak kurang ajar padaku!" geramnya marah mengepalkan tinju


"Kapan? Perasaan beberapa hari terakhir ini saja saya tidak pernah menginjakkan kaki keluar kamar, bagaimana saya bisa mempengaruhi orang-orang yang ada di luar..."


"Brakkk..." dia menggebrak meja hingga membuat gelas teh ku tumpah "Kau pikir aku bodoh! Kau pasti membayar seseorang untuk menyebarkan gosip tidak baik tentangku di luar sana, tanpa perlu kau bergerak dari tempat tidur!" teriaknya marah


"Hahh... Meresahkan katamu? Apa kau tidak takut mati!" Marahnya memegang wajahku dengan keras


"Ya,yang mulai.... Lepaskan tuan putri..."


"Diam!" Bentaknya pada Via dengan kasar


Aku berhasil melepaskan cengkraman tangannya dari wajahku, Walaupun sedikit terluka akibat tergores kuku tajamnya. Putra mahkota terlihat semakin kesal dan kembali menyerang ku dengan menarik kerah gaun tidur ku, hingga membuat Via bertindak dengan tenaga. Tapi karena tenaga nya kalah dari putra mahkota, ia pun terhempas ke lantai dengan keras.


Tidak habis pikir, Via segera bangkit dan berlari keluar menarik seorang prajurit untuk membantuku melepaskan diri dari putra mahkota yang sedang di kuasai emosi. Perasaan kondisinya tidak separah ini deh, bukannya bisa di bicarakan baik-baik, tapi kenapa sekarang malah seperti ini. Apakah ada tindakanku yang membuatnya tersulut emosi sampai seperti ini, atau jangan-jangan, tanpa sadar aku menyeringai tanpa sepengetahuan ku sendiri di depan putra mahkota?.

__ADS_1


"Leon!!" teriakku memanggil Leon yang entah sedang apa di dunianya sana


"Apa sekarang kau juga telah mempunyai seorang ksatria bayangan... kita lihat seberapa cepat ksatria mu itu bisa menyelamatkan mu dari pedang ini!" Entah sejak kapan Putra mahkota mencabut pedang prajurit di sampingnya


"Putriiii!!!!" teriak Via histeris saat pedang di tangan putra mahkota menusuk perutku


Senyum puas terukir di wajahnya yang tampan itu saat aku memuntahkan darah dari mulutku. Saat itulah sebuah kekuatan yang mengerikan menghantam dan melemparkannya hingga membentur dinding kamar dengan keras. Sebelum tubuhku jatuh tersungkur ke lantai Via yang masih histeris segera menangkap tubuhku, tapi keduluan oleh Leon tentunya.


"Kenapa malah senyum!" Kata Leon dengan wajah datarnya


"Ka, karena... Kau datang... Uhukkk..." sekali lagi aku muntah darah, tapi kali ini ikut muncrat ke wajah Leon


"Kau!!" dia terlihat kesal


"Bu,bukankah... Kau menyukai darah..." kataku masih sanggup bercanda di tengah kondisi kritis


"Pu, putri... Berhenti bicara! Jangan membuang-buang tenaga anda... Cepat panggilkan dokter..." teriak Via hendak merebut diriku dari pelukan Leon


"Apa yang kau lakukan!" kata Leon tajam kepada Via


"Sa,saya adalah dayang pribadi putri... Saya lebih berhak memeluk putri dari pada anda si orang asing!" katanya masih berusaha maju walaupun sudah gemetar ketakutan oleh Leon


"Hehe... Su,sudahlah... Ka,kau tenang saja di sana, Biarkan dia yang membantuku... Uhukkk..." sekali lagi aku muntah darah


"Putri!!!" Teriak Via takut-takut hendak menghampiriku karena tatapan tajam Leon

__ADS_1


"Apakah aku harus membunuhnya?" Tanya Leon menatap ke arah putra mahkota yang pingsan


Aku menggeleng lemah, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran "Pu, putri...." hanya suara panggilan Via yang terakhir terdengar olehku


__ADS_2