
Aku penasaran dengan sikap grand Duke tanpa pengaruh dari kekuatan yang kumiliki. Akankah grand Duke berubah menjadi seorang yang benar-benar tidak kukenali seperti Qirca saat ini. Aku merasakan perasaan kesal dan jengkel dari Qirca yang masih berdiri dengan angkuh memerintahkan ku untuk segera kembali ke kamar.
"Baiklah-baiklah aku akan kembali ke kamar!"
"Baguslah jika anda sadar!"
Aku kembali memakai sepatu yang sempat kjlepaskan barusan dan segera kembali menuju ke dalam. Dia pikir aku akan dengan mudah mengikuti keinginannya yang sok berkuasa itu, jangan harap. Aku juga telah memastikan beberapa kali jika saat ini Qirca tidak sedang dalam pengaruh ku.
Kejutan terus berlanjut saat aku berpapasan dengan para pelayan yang dulu selalu menyapaku dengan ramah. Kini mereka semua terlihat mengabaikan ku, bahkan dengan terang-terangan seperti sekarang. Aku hanya bisa menelan ludah dan kembali menurunkan tanganku yang sempat hendak menyapa mereka.
Ingin rasanya aku kembali mengendalikan mereka semua agar kembali ramah padaku, tapi itu tidak bisa. Sebelum aku mengetahui siapa dan bagaimana tanggapan mereka tentangku, aku tidak bisa mengendalikan mereka sesuka hati. Kuharap salah satu dari mereka benar-benar ada yang bersikap ramah padaku bukan karena pengaruh kekuatan ini.
Bagaimana cara aku mengetahui jika saat ini mengendalikan kekuatanku, itu sangat mudah. Karena saat aku mengendalikan kekuatanku pada seseorang tubuh ini akan terasa hangat karena aliran mana dalam tubuh. Tapi akan terasa biasa-biasa saja saat aku tidak melakukan apapun dengan kekuatan ini.
__ADS_1
"Paman!" entah kenapa aku merasa takut dengan grand Duke yang ada di depan sana
Tanpa sadar aku kembali mengaktifkan kekuatanku, mungkin aku takut kecewa setelah mengetahui perasaan yang sebenarnya grand Duke tentang diriku. Karena aku masih belum bisa mengontrol dengan sempurna kekuatan ini. Maka semua yang ada di dekatku kembali terpengaruh dengan apa yang kuinginkan.
Saat ini aku tidak ingin berbicara dengan grand Duke, biarkan saja beliau lewat tanpa menyapaku. Tatapan kami sempat bertemu dan grand Duke memberikan seulas senyum sebelum berlalu melewati diriku yang sedang tegang. Setelah grand Duke jauh dari tempatku berdiri, aku kembali mengendalikan kekuatanku agar tidak mempengaruhi siapapun.
"Aku takut..."
"Nona..." panggil seorang dayang berlari ke arahku
"Apakah nona menikmati jalan-jalan..."
"Deti! apa yang kau lakukan! kenapa kau berbicara santai dengan yang mulia putri?" kesal Qirca
__ADS_1
"Apa? Kenapa? bukankah biasanya juga begitu?" dia terlihat bingung
"Bagaimanapun jaga sikapmu pada yang mulia putri, walaupun ia hanya seorang putri yang di abaikan..." Qirca meremehkan ku
"Da...dayang Qirca, kenapa cara bicara anda pada yang mulia putri sangat keterlaluan?"
"Memang biasanya aku bagaimana? kau ingin aku bersikap ramah pada yang mulia putri, apakah selama ini aku tidak ramah?" dia menekan Deti
"Bu...bukan begitu... maafkan saya yang mulia putri! kedepannya saya akan lebih berhati-hati!"
"Kalian semua... Wahhh, aku benar-benar tertipu oleh diriku sendiri... Deti! kau ikut denganku dan yang lain..."
"Yang mulia, anda tidak bisa berbuat seenaknya... karena saya adalah dayang yang di tugaskan grand Duke untuk mengawasi anda!"
__ADS_1
"Terserah apa katamu..."
Aku segera menarik Deti menuju kamarku, karena sepertinya hanya dia seorang yang bisa ku andalkan untuk kedepannya. Kuharap dia tidak banyak tanya seperti kebiasaannya, karena jika harus menjelaskan hal rumit ini akupun bingung harus memulai darimana, karena ini semua juga mengejutkan bagiku.