
Akhirnya setelah menunggu selama satu jam, mereka semua berhasil membersihkan kamarku dengan rapi. Wajah mereka yang masih terlihat ketakutan saat berdiri di hadapanku, lumayan seru untuk di lihat. Setelah puas melihat wajah ketakutan mereka, aku segera mengusir mereka dari kamar.
"Haahhhh.... Akhirnya aku bisa hidup nyaman!" Aku melemparkan tubuhku ke atas kasur yang telah di ganti dengan kasur empuk dan wangi
Aku mengendus dalam aroma kamarku yang awalnya bau apek, kini menjadi segar "... Seharusnya, sejak dulu aku melakukan hal ini! Waktu itu aku terlalu bodoh mengurus diri sendiri... Tapi sekarang aku akan melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri!" Aku tersenyum puas dengan diriku sendiri
Kini kamarku di ganti dengan nuansa berwarna merah muda yang sangat segar di lihat. Walaupun rasanya terlalu kekanak-kanakan dengan dekorasi seperti ini, aku tetap merasa puas. Dulu kamarku di kediaman grand Duke jika tidak salah berwarna abu-abu muda, yang terlalu kelam.
Tidak terasa, kini aku telah menjalani hidup untuk kedua kalinya di dunia ini. Mungkin dunia ini memang hanya sebuah bunga tidur yang bisa ku kendalikan lewat pikiran. Dimana aku bisa bertindak sesuka hati, kuharap mimpi panjang ini akan terus berlanjut hingga aku benar-benar bosan dengan dunia ini.
"Anjing busuk!" kagetku saat aku membalikkan badan ke arah samping, wajahku segera bertatapan dengan Leon
"A,apa yang sedang kau lakukan disini? Bukannya tadi lagi marah..." Kesalku memukulnya dengan bantal di wajahnya yang melotot
"Suka-suka..."
"Isshh... Nggak bisa sesuka anda lah, ini kan kamar saya!" sekali lagi aku memukulnya
__ADS_1
"Bisa nggak jangan mukul muka!" kesalnya menahan bantal yang hendak menampar wajahnya
"Nggak bisa!" kataku semakin menjadi-jadi memukulinya
Leon yang tersulut emosi ikut mengangkat bantal dan memukulkannya padaku. Hanya dalam sekali pukulannya, aku sudah terlempar terbang dari kasur membentur meja. Dia memukulku dengan tenaga yang berlebihan, saat aku meringis kesakitan ia terlihat kaget dan segera menghampiriku.
Aku menepis tangannya yang hendak melihat punggungku yang mengenai meja. Memang punggungku rasanya mau patah akibat benturan yang sangat keras. Kulihat wajah penyesalan di wajahnya sangat kasihan, hingga membuatku menyemburkan tawa.
"Ppttfff.... A, apa-apaan dengan wajahmu itu... Hahahaha...." tawaku semakin menjadi-jadi saat wajahnya kembali berubah ke mode kesal
"!!!" Dia menjentikkan jarinya sekali dan membuatku bungkam seketika
Leon mengabaikan ku yang meringis kesakitan dalam diam, mungkin dia berpikir aku sedang berakting. Dia benar-benar mengabaikan ku, dan malah duduk dengan santai di atas kasur membuka sebuah novel romantis yang baru lagi.
Sumpah, punggungku rasanya akan patah jika bergerak sembarangan. Apa yang harus kulakukan saat ini? suara di ambil Leon dengan paksa, punggung sedang patah, hanya bisa duduk diam dengan posisi kaku. Bahkan rasa sakitnya sampai menyerang ke kepala dan bagian leher, yang ikut kaku tidak bisa di gerakkan.
Karena kesal dengan Leon yang duduk dengan acuh di atas tempat tidur, tiba-tiba air mataku luluh lantak membasahi mata dan pipi. Aku marah ingin teriak, tapi tidak bisa, aku ingin menampar wajahnya yang sok keren itu, padahal sedang membaca novel romantis. Lama aku terdiam dalam tangis, hingga akhirnya Leon mengembalikan suaraku secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Huwwaaaaa...." Aku semburkan tangis sepuasnya
Leon menoleh kaget ke arahku dengan tatapan bingung "Apa yang kau tangisi?" Tanya nya segera menghampiriku
"Brengsek! Lo nggak liat apa gue lagi kesakitan... Huwwaaaaa..." Tangisku semakin menjadi-jadi
"Dasar bodoh!" dia menepuk jidat "Bukannya kau memiliki kekuatan menyembuhkan diri..." kesalnya kembali ke kasur
"Hikss... Oh iya juga ya!" kataku mungkin memasang wajah bodoh
"Dasar bodoh!" Leon menggeleng dengan decak mencibir
"Tapi gue nggak tau cara gunain nya..." Leon meletakkan buku yang sedang di bacanya
"Dasar dungu!!" umpatnya kesal bercampur kaget "Itu kan kekuatan situ! gimana ceritanya sampai situ nggak tau cara gunain nya!!"
Setelah mengatakan hal itu, dia menghilang entah kemana, namun kembali lagi beberapa detik hanya untuk mengambil novel yang tertinggal.
__ADS_1
"Dasar dungu! Giliran novel aja peduli..." kataku berusaha memfokuskan diri untuk mengobati sakit di punggungku