
Keadaan semakin tidak terkendali, para penyihir yang ada pun tidak bisa berbuat banyak. Kami kalah jumlah oleh para monster yang terus berdatangan tanpa henti dari segala penjuru hutan. Apakah tidak ada seorang pahlawan berkuda putih yang biasanya menyelamatkan seorang putri yang sedang kesusahan, seperti di cerita kehidupan lain-lain.
"Putri! Bertahanlah sebentar lagi, portal sihir sudah hampir rampung!" kata kepala utusan yang terus membantuku menghentikan pendarahan dengan mana hangatnya
"Aakkgghhh..." Rasanya perutku seperti di robek saat mana hangatnya menjadi panas
Para utusan lainnya juga terluka, tapi sepertinya tidak separah diriku yang bahkan menggerakkan sebelah kaki saja rasanya sudah sangat mustahil. Di depan sana, kesatria satu-satunya di antara mereka sedang berjuang memenggal kepala monster yang semakin banyak di bantu oleh beberapa penyihir lainnya.
Kerjasama mereka sangat rapi dan teratur, Hingga akhirnya sihir portal teleportasi telah rampung. Aku di papah oleh dua orang sekaligus untuk melangkah masuk ke dalam portal. Kami semua saling berdesakan, sebelum akhirnya bisa bernapas lega setelah kami berada dalam portal yang mulai terasa memabukkan ini lagi.
Masih ada banyak waktu sebelum sampai di kerajaan, mereka semua memulihkan kekuatan mana dan saling mengobati satu sama lainnya. Luka di perutku perlahan-lahan mulai menutup seperti sebuah keajaiban, bahkan gaunku yang sobek dimana-mana juga ikut kembali seperti sediakala.
Mereka semua menatap ke arahku "Ada apa?" tanyaku heran
"Bu,bukankah anda barusan menggunakan kekuatan penyembuhan?" kata kepala utusan masih dengan raut kaget
__ADS_1
"Bukannya, anda yang telah mengobati saya?" tanyaku balik
"!!!" mereka semua malah saling bertukar pandangan
"Putri adalah seorang saintes!" bisik mereka tanpa melibatkan ku
"A,aku bukan saintes seperti yang kalian maksud..." bantahan ku hanya membuat mereka menatapku semakin yakin jika aku seorang saintes
"Maaf putri, sepertinya kami harus merubah arah tujuan!" kata kepala utusan membungkuk hormat di ikuti yang lainnya
Saintes darimananya yang mereka lihat dari diriku? Untuk melindungi diri sendiri saja aku masih harus mereka yang melindungi ku. Bukankah saintes itu tugas nya memberikan perlindungan pada umat manusia dan aku malah sebaliknya. Mungkin mereka hanya salah paham, jadi aku tidak boleh berharap sedikitpun tentang keajaiban seperti itu.
Aku memilih duduk dengan posisi yang kusuka, membiarkan mereka semua berbisik-bisik tanpa melibatkan diriku. Barusan aku kembali menghadapi kematian, tapi lolos lagi lolos lagi, memang sepertinya takdir kematian ku di dunia ini masih lama. Kata mereka arah tujuan sekarang berpindah haluan, entah mereka hendak membawaku kemana, yang jelas aku ngikut aja lah.
Saintes, sepertinya aku sedikit berharap dengan keajaiban seperti itu datang pada diriku, walaupun otak sudah menyadarkan diri. Tapi sepertinya hatiku yang tidak sadar diri, karena terlalu mengharapkan hal-hal yang tidak akan mungkin terjadi seperti itu.
__ADS_1
Mungkin jika kekuatan yang kumiliki masih utuh, aku masih bisa mengharapkan hal seperti itu. Tapi karena sepertinya tubuhku sudah tercemar dengan kekuatan Leon yang berlawanan dengan kekuatan awal milikku, aku seperti sedang mengawang memikirkan hal yang bagiku konyol ini.
"Putri! apa anda baik-baik saja?" tanya kesatria yang duduk tidak jauh dariku
Aku menoleh kearah nya "Untuk saat ini aku masih baik-baik saja! lalu bagaimana dengan..." aku menatap ke arah luka di kakinya
"Sa,saya juga baik-baik saja, ini hanya luka kecil! putri tidak perlu memperhatikan luka kecil di tubuh saya seperti ini!" katanya dengan wajah malu-malu kucing
Aku menggeleng di ikuti dengan kekehan kecil karena tingkah nya yang seakan-akan tidak pernah menebas apapun dengan tangannya "Bukankah mereka bilang aku adalah saintes..."
"Putri..." teriaknya kaget saat tanganku terulur ke kakinya yang terluka
"Aku hanya ingin menguji coba kekuatanku saja, itu pun jika a..." kalimatku terhenti saat luka di kakinya menutup dengan perlahan tapi pasti
Aku segera menarik tanganku dan menyembunyikan nya, tapi terlambat sudah karena mereka semua sedang menatapku dengan tatapan takjub dengan penuh keyakinan. Tersenyum kaku adalah satu-satunya ekspresi yang bisa ku tunjukkan saat ini, rasanya sangat mustahil jika... Atau mungkin Leon salah memberikan informasi mengenai kekuatan yang telah di kembalikan nya padaku?.
__ADS_1