KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Quality Time


__ADS_3

Penyembuhan tubuhku terjadi sangat cepat, bahkan belum 3 hari berlalu luka yang awalnya sangat perih dan menyakitkan kini tertutup rapat sepenuhnya, bahkan tidak ada bekas luka sedikitpun. Ternyata beginilah nikmatnya hidup di dunia novel yang punya sihir, walaupun tidak ada handphone, aku masih bisa mengandalkan makhluk tidak jelas bernama Leon untuk mengusir kebosanan ku.


Saat ini aku hanya berdua saja dengan Leon yang sibuk membaca sebuah novel di sampingku dengan posisi tubuh menyender ke tiang tempat tidur dengan nyaman. Sedangkan posisiku saat ini tengkurap ke arahnya sambil membaca novel juga sambil menikmati cemilan. Khusus hari ini kami ingin menghabiskan quality time berdua saja sambil menikmati kalimat-perkalimat yang membius di dalam novel yang kami baca.


"Ckckck..." Leon berdecak entah karena apa "Bisakah kau diam!" kesalnya kepadaku yang memang hanya diam


Aku mengangkat wajah menatapnya yang terlihat kesal dengan mulut penuh cookies dan dengan mata mengerjap-ngerjap "What! aku kan dari tadi memang cuma diam aja!" kataku kembali mengalihkan fokus ke novel


Tiba-tiba dan sangat tiba-tiba Leon mengikat kakiku dengan tali pita yang entah muncul dari mana hingga membuatku sedikit kaget "Diamlah dengan tenang!" kesalnya kembali mengalihkan fokus ke novel di tangannya


"Dasar mesum!" gumamku saat menyadari jika apa yang di lakukan Leon untuk menutupi kakiku yang memang sejak tadi kugerak-gerakkan hingga membuat kakiku terlihat


"Kau yang mesum! Sudah tau aku ada disini, masih saja bersikap seenaknya..." marahnya


"Ya ya ya... Anda memang selalu benar!" kataku malas menanggapi lebih lanjut


Setelah beberapa saat berlalu dengan hening aku menggerakkan tubuhku ke arah pangkuan Leon untuk numpang merebahkan kepalaku di kakinya yang panjang. Dia hanya diam namun menatapku dengan tajam, yang tentu saja kuabaikan.


"Berhentilah menatapku dengan mesum, aku masih anak-anak om!" kataku menutupi tubuhku dengan tangan berlagak polos


"Kau membuatku jijik!" kesalnya memutar bola matanya

__ADS_1


"Hehe... Tapi imut kan?" tanyaku memasang wajah imut


Leon tidak berkomentar apa-apa dan memilih kembali lanjut dengan novel di tangannya begitu pula dengan ku. Selama beberapa hari ini aku hanya berada di kamar dengan alibi memulihkan luka, padahal sebenarnya aku sering pergi keluar bersama Leon, walaupun hanya sekedar mencari jajan di pasar.


Entah itu hal yang mendesak atau hanya sebatas kegabutan aku, sekarang aku menjadi lebih sering meminta sesuatu pada Leon. Bukan karena tanpa alasan, tapi karena aku ingin cepat-cepat membebaskan Leon dari keterikatan nya denganku. Seandainya dulu aku tidak meminta seribu permintaan padanya, mungkin dia sekarang bisa hidup bebas, walaupun belum tentu sebahagia saat bersamaku.


Bisa diakui, jika aku adalah manusia dengan kepribadian yang aneh, karena kadang-kadang aku bertingkah seenaknya sendiri dan kadang-kadang aku juga bisa bersikap dingin dan malas melakukan sesuatu. Mungkin karena sekarang aku kembali lagi ke umur 14 tahun makanya aku malas.melakukan apa-apa, karena setiap akhir dari kehidupan yang kujalani ini akan selalu bertemu dengan kematian.


Bukannya sia-sia berjuang demi hidup sesuai dengan yang kita inginkan, tapi aku hanya bisa saja. Entah kapan aku bisa benar-benar mati dengan tenang tanpa ada kehidupan selanjutnya atau kehidupan apalah itu. Kalaupun memang ada lagi kehidupan selanjutnya, aku hanya ingin menjadi hiasan dinding yang cantik dan di kagumi orang-orang tanpa perlu berusaha.


"Awww..." Tiba-tiba Leon memukul jidatku dengan satu jari lentiknya


"Berbaringlah dengan benar, ada yang akan datang berkunjung!" katanya memindahkan tubuhku ke posisi yang lebih pantas untuk disebut sebagai posisi rebahan seorang putri


"Diam! Jangan banyak membantah... Aku akan mengawasi mu dari sini!" katanya kembali tenang membaca novel dengan wujud transparan


"Tok...tokkk.. tookkk... Putri! saya akan masuk!" kata Vya membuka pintu "Putri! Apakah anda masih tidur?" tanya Vya memeriksa ku yang pura-pura tidur


"Awww..." Tiba-tiba Leon mencubit kakiku


"Putri!" Vya menggeleng yang hanya kubalas cengiran "Dokter akan memeriksa keadaan anda hari ini..." kata Vya diiringi dengan masuknya seorang dokter muda yang lumayan enak di pandang

__ADS_1


"Saya memberi salam kepada tuan putri!" sapanya ramah


"Berapa umur anda?" tanyaku tanpa berpikir


"Saya! 19 tahun putri!" jawabnya heran


"Oh!" sahutku simple yang membuat Vya dan dokter muda itu menelengkan kepalanya heran ke arahku


"Akhmmm... Baiklah saya akan memulai pemeriksaan pada anda!" kata dokter muda itu setelah hening sejenak


"Kapan saya boleh keluar?" tanyaku saat dokter memeriksa denyut nadi ku


"Saat anda pulih total tentunya! Bolehkah saya melihat bekas luka di tubuh anda?" katanya sopan


"Aku menolak!" kataku yang membuat Vya mendelik heran


"Tapi putri! Bagaimana dokter bisa mengobati anda, jika anda tidak mengijinkan beliau melihat luka anda?"


"Baiklah! karena anda menolak untuk diperiksa oleh saya, mungkin saya hanya bisa menyarankan resep obat yang biasa anda minum..."


"Baiklah!" sahutku tersenyum puas karena dokter muda ini tidak melunjak

__ADS_1


Namun disisi lain kulihat Vya yang masih bingung dengan alasanku yang menolak di periksa oleh dokter muda itu terlihat jelas. Sedangkan Leon masih fokus dengan bacaannya dengan senyum mengerikan, yang membuatku merinding.


__ADS_2