KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Putri Kecil


__ADS_3

Lean melangkah dengan ringan keluar dari ruang penjara bawah tanah dengan menggendong diriku di pelukannya. Orang-orang yang melihat kami berdua menatap dengan tatapan penuh tanya penuh tebakan serta bisik-bisik yang kurang nyaman di dengar. Kulihat wajah Lean tidak menunjukkan ekspresi apa-apa selain ekspresi tajam dan dingin, udah kayak bukan dirinya waktu bersamaku.


Tapi memang beginilah fuckboy sejati, dia akan terlihat keren dan tambah keren lagi kalo sudah berkata-kata manis dengan bumbu penyedap. Kebanyakan korban Lean sendiri adalah pelayan wanita di kekaisaran yang usianya beragam, mau itu muda, tua yang penting menarik.


"Ka,kakak!" seorang putri kecil memiliki rupa yang hampir mirip dengan Lean mencegat di depan


"Siapa dia? Adik seibu mu?" tanyaku saat gadis kecil itu menatapku tajam penuh kebencian


"Dia Resta, putri kesayangan permaisuri!" sahutnya tajam dan berlalu mengabaikan adiknya itu


Aku menoleh ke belakang menatap Resta yang semakin marah karena di abaikan Lean "Dia kan adikmu, kenapa di abaikan? tidak takut dimarahi ibumu kah?"


Dia tersenyum sinis "Apa peduliku dengan mereka! Abaikan saja dia!" katanya terdengar sangat tidak peduli dengan adik seibu nya itu


"Kakak! Turunkan wanita itu!" teriak Resta menghadang jalan kami lagi dengan tangan membentang

__ADS_1


"Apa urusannya denganmu!" kata Lean tajam


Dia terlihat ketakutan "A,aku adikmu... Aku saja tidak pernah kakak gendong, lalu bagaimana bisa wanita rendahan..."


"Diam!!" teriak Lean membentak adiknya "Singkirkan dia dari hadapanku sekarang!" perintah Lean pada pengawalnya


"Ka,kakak tidak bisa melakukan ini kepadaku... Atas dasar apa kakak lebih membelanya daripada aku adik sendiri!!" teriaknya berontak


Aku yang masih berada di gendongan Lean hanya bisa menutup kuping karena teriakan mereka terlalu berisik "Berhentilah berteriak!" kesalku memukul mulutnya yang hendak berucap


"Dasar wanita sinting! sihir apa yang kau gunakan pada saudaraku?" teriaknya marah


"Berhenti!" kataku meminta Lean menghentikan langkahnya "Berbalik!" Lean hanya menurut "Anak kecil tidak perlu tahu sihir apa yang kugunakan." kataku saat kami bertatapan


Dia terdiam begitu pula dengan yang lain, setelah aku meminta Lean melanjutkan langkahnya, Resta kembali marah-marah saat kami semakin menjauh darinya. Aku masih belum puas menindas orang, rasanya aku siap membunuh beberapa orang lagi untuk memenuhi nafsu ingin membunuh ini.

__ADS_1


Kulihat wajah Lean terus berkedut seperti sedang memikirkan sesuatu. Jika benar tebakanku ini, mungkin sekarang dia sedang memikirkan sihir apa yang kuberikan padanya hingga menjadi penurut saat kusuruh. Jawabannya ya jelas saja uang, karena Lean tidak dapat di bujuk selain dengan uang dan kesenangan yang telah menjadi hobinya.


Untuk saat ini aku masih belum menggunakan sihir apa-apa padanya, karena saat ini dia masih sangat mudah di kendalikan. Hanya saja, otak bodohnya itu membuatku sedikit takut, karena dia mungkin berpikiran jika aku telah menggunakan sihir untuk mengendalikannya.


"Emmm..."


"Aku tidak punya kekuatan sihir untuk mengendalikan sihir, jadi berhentilah berpikiran macam-macam tentangku!" kataku segera menjelaskan apa yang ingin dia tanyakan


Dia menghentikan langkahnya "Bagaimana kau tahu jika sekarang aku sedang memikirkan masalah sihir itu?" wajahnya terlihat lucu saat menatapku


"Hehh... Wajahmu itu mengungkapkan apa saja yang sedang kau pikirkan, bodoh!"


"Benarkah?" Lean melanjutkan langkahnya menuju suatu tempat yang tidak kuketahui


.......

__ADS_1


__ADS_2