
Akhirnya aku bisa mengirup udara di kediaman ini lagi setelah 2 bulan terkurung di tempat penuh wabah itu. Hal pertama yang harus kulakukan setelah sampai di kediaman ini lagi adalah, tentu saja menghadiri pesta para lady untuk membuat kekacauan.
Apalagi akhir-akhir ini kudengar, putra mahkota mengabaikan tunangannya demi seorang lady yang tidak memiliki gelar bangsawan. Entah kenapa seperti masuk ke dalam cerita babak baru di dunia ini.
Putra mahkota memang sudah memiliki tunangan sejak kecil, semua orang juga tahu itu. Tapi karena tunangannya bersikap congkak dan sombong hingga membuat putra mahkota tidak menyukainya sejak awal mereka di tunangkan. Dan jelasnya tunangan putra mahkota adalah seorang lady dari keluarga Count Tremor.
Count Tremor sendiri adalah pejabat yang menduduki salah satu bidang pemerintahan di dalam kekaisaran. Lady Sena namanya, yang kutahu lady Sena tidak pernah membuat masalah dengan lady Ayla. Sehingga membuatku bertekad untuk membantunya mewujudkan impian yang diinginkan oleh lady Sena.
"Apakah hanya karena dia tidak pernah mencibir temanmu yang sudah mati itu... Sehingga kau berniat membantu kisah cintanya?" Kata Leon yang sedang berbaring santai di tempat tidurku sambil membaca novel romantis atas saranku untuk mengurangi kebosanan dirinya
"Entahlah! Mungkin aku hanya tidak tega melihat seseorang yang di abaikan oleh cintanya..."
"Bukankah itu artinya kau merasa kasihan dengan dirimu sendiri!" Ledeknya
Benar aku kasihan dengan diriku sendiri, karena cintaku yang selama ini kudambakan tidak akan pernah terwujud sedikit pun. Zed si pemilik menara sihir itu telah membuatku murka dengan dirinya yang berasa seperti dewa itu. Aku membencinya yang telah menghinaku di depan semua orang hanya karena aku memiliki perasaan dengannya.
Bukan hanya menolak cintaku tapi dia juga telah membuatku tidak bisa melepaskan rasa cintaku padanya, karena ambisi yang tidak jelas dalam diri ini untuk memilikinya. Zed telah menyatakan kepada semua orang jika dia tidak akan menikah dengan wanita manapun, setelah aku menyatakan perasaanku hari itu. Hari dimana aku akan kembali ke kediaman ini setelah lama terkurung di wilayah penuh wabah.
Dia tidak menghargai rasa cintaku, tapi entah kenapa aku tidak bisa membelokkan rasa cinta ini darinya. Penolakannya malah menjadikan ku semakin berambisi untuk memilikinya. Dia cinta pertamaku di dunia ini, bagaimana bisa aku melupakannya yang telah memikat hati ini.
"Sudahlah! Jangan pikirkan manusia brengsek itu lagi..."
"Pukk..." Aku melemparkan bantal yang kupeluk ke wajah Leon
"Apa-apaan in... Hei! Kenapa kau menangis?" Wajah marahnya berganti menjadi wajah bingung saat melihatku yang sedang menahan tangis
__ADS_1
"Jangan mengintip pikiran ku sesuka hatimu, dasar mesum!!" Teriakku kesal
"Apakah kau menangis hanya karena itu? Dasar lemah!" Ledeknya
"Jangan meledekku... Hikss... Kau tidak akan mengerti bagaimana sakitnya di tolak saat menyatakan cinta... Hikss... Bahkan bukan hanya sakit hati, tapi aku juga menanggung malu... Huwaaa..." Tangisku pecah
"Di,diamlah, aku tidak akan membaca pikiran mu sesuka hati lagi... Berhentilah menangis, karena kau terlihat semakin jelek jika mena..."
"Huwwaaa...." Aku menangis semakin kencang
"Putri! Ada apa?" Deti masuk mendobrak pintu kamarku terburu-buru
"Hikss..." Aku kaget melihatnya yang seakan-akan siap menusuk seseorang
"Aku baik-baik saja... Hikss..." Kataku memintanya tenang
"Tapi kenapa..."
"Tinggalkan aku sendirian..." Pintaku lirih
"Ba,baik! Tapi jika putri... Saya akan keluar sekarang!" Katanya segera keluar kamar dan membiarkanku menangis sesenggukan
Aku menatap kearah Leon yang masih asik membaca novel romantis yang kupinjamkan dengan kesal. Aku pikir dia memasang sihir pengedap suara saat aku menangis, tapi ternyata dia tidak melakukan apa-apa. Aku malu, karena ini sudah keberapa kalinya aku tepergok sedang menangis oleh para dayang ku.
Sejak tadi Leon memang tidak kemana-mana, tapi saat ini hanya aku seorang yang bisa melihatnya. Makanya tadi Deti terlihat kebingungan saat aku menangis sendirian di kamar, tidak seperti biasanya. Semakin lama, rasanya aku menjadi semakin terbuka dengan Leon yang sekarang acuh tak acuh padaku yang sedang menahan tangis di dekatnya.
__ADS_1
Wajahnya yang datar itu malah masih fokus membaca setiap kata dari isi novel romantis yang banyak mengandung bawang itu. Benar-benar makhluk yang tidak memiliki perasaan, entah harus pakai cara apa untuk membuatnya meneteskan air mata seperti yang biasanya ia lakukan padaku.
"Iihhh... Lap ingusmu sana!" Katanya dengan wajah jijik saat menatap ke arahku sambil melemparkan kain
"..." Walaupun masih kesal dengannya, tapi pada akhirnya aku tetap menurut dengan apa yang ia katakan.
"Apakah kau benar-benar tidak punya tata Krama..." Kesalnya saat aku membuang ingus
"???" Aku menatapnya bingung
"Hah! Lupakan saja, karena kau bersikap sembrono seperti ini hanya padaku seorang..." Leon menggeleng-gelengkan kepalanya
Suasana kembali hening karena aku kembali hanyut dalam lamunanku yang sangat panjang dan beragam. Hanya saat melamun seperti inilah aku bisa merasakan jika sekarang aku masih hidup, karena kadang ada beberapa kejadian di luar nalar yang membuatku merasa hidup di alam mimpi. Yang jelas jika sedang bermimpi tidak mungkin bisa melamun seperti sekarang, bukan?.
Rasanya sudah sangat lama aku meninggalkan kediaman ini, tapi dari yang kulihat tidak ada perubahan sama sekali di tempat ini. Bahkan orang-orang di kediaman ini masih sama seperti saat aku pergi ke wilayah itu.
Berbicara tentang wilayah yang ada di luar kota kekaisaran, saat ini sedang di tangani oleh pasukan kuil suci yang di pimpin langsung oleh Zed, atas perintah kaisar. Seharusnya wabah di wilayah itu, sudah akan hilang jika Zed tidak membuat masalah denganku. Leon yang tidak suka melihatku menjadi bahan olok-olokkan mereka, membuat wabah menjadi semakin parah hingga sampai ke dalam kota kekaisaran.
Dia membatalkan permintaanku waktu itu hanya karena kesal dengan Zed yang memperlakukanku seperti orang yang tidak pernah ada. Tapi tak apalah, biarkan mereka menguras habis pikiran dan tenaga untuk menyembuhkan wabah ini.
Dari sisi lain, kabar gembira hampir datang, karena sudah tersiar kabar jika perang telah di kuasai oleh pihak kekaisaran. Benua musuh ternyata juga terkena wabah yang sedang terjadi di luar kota kekaisaran dan dari kabarnya wabah di tempat itu lebih ganas dan mengerikan. Sepertinya Leon benar-benar memberikan sihir pada benua musuh yang sekarang mungkin sedang kalang kabut menangani perang dan wabah.
"Leon!!" gumamku lirih menatap pohon duri yang sedang berbunga
Terlihat cantik namun sangat berbahaya, persis seperti raja kegelapan yang sekarang sedang membaca novel romantis di atas tempat tidur ku.
__ADS_1