
KETIKA Doni membalikan badan nya ke arah rumah bercat putih tersebut, seketika itu juga dua orang tadi kaget dan tercengang menatap Doni. pemuda itu berjalan mendekati ibu setengah tua itu dan kemudian ia salim seraya berkata.
"apa kabar bu Romlah?" Doni tersenyum menatap ibu-ibu yang disebut ibu Romlah tadi oleh Doni. pemuda yang tadi sedang membabat rumput pun segera mendekati Doni seraya bertanya.
"Doni kan?!"
"ya ini memang aku Wan."
"wah...! beda amat tampilan mu sekarang Don!? kayak orang kaya beneran, hehehe." ucap pemuda itu yang bernama asli Wawan. ibu setengah tua yang sejak tadi diam karena bingung, segera bertanya.
"maksud mu Doni anak nya ibu Dewi itu Wan???"
"iya bu. memang ini Doni, apa ibu sudah lupa sama wajah tampan nya ini???" tanya Wawan menyanjung Doni dengan candaan.
"ahh bisa saja kamu tutup gelas." ujar Doni berkelakar kepada Wawan dan kedua nya kini tertawa sembari berpelukan persahabatan.
Ibu Romlah yang ternyata ibu nya Wawan itu, langsung bertanya kepada Doni.
"ibu pikir kamu siapa Don, pakaian kamu bagus sekali mirip orang kantoran." ujar ibu Romlah dan Doni yang sudah melepaskan pelukan persahabatan nya dengan Wawan, segera menjawab ucapan ibu Romlah tersebut.
"alhamdulilah, Doni sekarang sudah mendapat pekerjaan bu dan ini seragam kantor yang Doni kenakan." ujar Doni dan langsung di timpali oleh Wawan.
"hebat sekali kamu Doni, dua tahun menghilang dan datang-datang berpenampilan seperti ini dan membawa mobil bagus itu. aku benar-benar iri sekali sama kamu Don. hehehe." ujar Wawan dan setelah itu ibu Romlah mengajak Doni untuk masuk ke rumah nya untuk melanjutkan perbincangan mereka lebih lanjut lagi.
Setelah Doni duduk di kursi ruang tamu rumah tersebut, Wawan duduk di kursi yang kosong sembari berbincang-bincang lagi dengan Doni. sedangkan ibu Romlah sedang ke dapur rumah nya untuk menyuguhkan hidangan ala kadar nya untuk tamu nya.
"apa kabar mu sekarang Doni???"
"alhamdulilah baik Wan. kabar mu sendiri bagaimana??? aku pikir kamu masih bekerja di tempat yang dulu Wan?" ujar Doni bertanya.
"alhamdulilah aku juga baik Don. aku sudah mengundurkan diri bekerja ditempat lama ku, karena kerjaan nya terlalu berat dan jam istirahat pun sangat sempit." ujar Wawan mengeluh dan Doni langsung menjawab nya.
"bukankah kamu dulu bekerja sebagai OB di hotel Amarta itu ya Wan."
__ADS_1
"iya Don. gaji sih lumayan di atas UMR, tapi untuk kerja sehari semalam penuh. jujur aku tak sanggup melakukan nya, sampai aku sakit dan kemudian aku berhenti bekerja." jawab Wawan lagi dan kemudian Doni bertanya lagi.
"apakah motor yang ada di depan rumah ini hasil dari kerja mu itu Wan???" setelah Doni berkata begitu, Wawan langsung menatap ke arah luar jendela dan ia berkata.
"motor matic yang di depan itu memang hasil dari kerja ku setahun yang lalu Don. setelah berhenti bekerja, paling aku nongkrong di pengkolan ojek mencari penumpang." ujar Wawan berterus terang.
"apa kamu enggak mau masuk kerja lagi Wan???"
"kalau ada kerjaan yang enak sih, aku mau Don."
"kerjaan yang enak itu makan dan tidur Wan!." tiba-tiba saja ibu Romlah berkata begitu kepada anak nya dan membuat sang anak tertawa cengengesan.
Doni juga ikut tertawa walaupun tak terlalu keras. setelah ibu nya Wawan menyuguhkan hidangan ala kadar nya untuk Doni, kini ibu Romlah ikut duduk di kursi yang kosong dan bertanya kepada Doni.
"sudah dua tahun berlalu ibu tidak bertemu dengan kamu Doni. terakhir yang ibu tahu dari tetangga, kata nya kamu di usir oleh ibu Dewi dan ayah tiri mu itu??? apa benar begitu Don???" tanya ibu Romlah penasaran dan Wawan pun kini ikut menunggu jawaban dari Doni karena ia juga penasaran.
Setelah Doni meneguk air suguhan ibu Romlah tadi, Doni langsung menjawab nya.
"iya benar bu. apa yang dulu pernah Doni katakan kepada ibu, ternyata kejadian juga pada saat itu." ujar Doni sedikit murung dan Wawan langsung berkata.
"sejak kejadian kamu di usir, ada lagi kejadian yang paling parah. kala itu ibu Dewi beserta keluarga nya di tangkap oleh polisi dan para warga bilang kata nya ibu Dewi menyuruh orang untuk untuk merampok sertifikat kantor milik mendiang suami nya dulu. kata nya kamu juga terlibat, apa benar begitu Doni???"
"berita yang dulu sempat viral di TV itu ya bu???" tanya Wawan dan ibu nya mengangguk membenarkan.
Doni yang dihujam pertanyaan terus menerus dari dua orang tersebut, hanya menarik napas sesak nya saja dan menghembuskan napas nya pelan-pelan. kemudian ia berkata kepada kedua nya untuk menjawab dari pertanyaan ibu dan anak tadi.
"apa yang ibu katakan itu memang benar ada nya bu. sekarang Doni yang sudah mewarisi warisan mendiang ayah tanpa ada nya campur tangan dari ibu dan keluarga nya." ucapan Doni tersebut membuat anak dan ibu itu manggut-manggut paham. lalu ibu Romlah bertanya lagi kepada Doni tentang maksud tujuan nya datang ke rumah itu.
"apakah maksud tujuan mu datang kemari ini untuk mengajak Wawan bekerja di tempat mu bekerja Doni???"
"memang benar tujuan saya seperti itu bu. tetapi apakah Wawan nya mau bekerja sebagai OB di kantor tempat Doni memimpin???" ucapan dari Doni tersebut membuat kedua nya saling tatap dan sang ibu langsung berkata kepada anak nya.
"tuh kamu mau enggak bekerja sebagai OB lagi???" Wawan yang ditanya seperti itu, hanya garuk-garuk kepala saja dan bertanya kepada ibu nya.
__ADS_1
"aku sih mau saja bu, karena kelamaan menganggur pun bosan juga. tetapi kerjaan nya yang kayak gimana dulu. kalau sama seperti ditempat kerja ku dulu, lebih baik aku ngojek saja." ucapan dari Wawan tersebut membuat sang ibu berkata mengecam nya.
"mau sampai kapan kamu ngojek??? apa kamu enggak mau berumah tangga seperti teman mu si Rosid itu yang kini sudah menikah hah?!!" tanya ibu nya sedikit mengecam Wawan dan Doni langsung bertanya.
"kapan si Rosid menikah bu???"
"sudah setahun yang lalu Don, padahal kalau Wawan telaten dan rajin kerja nya. mungkin sudah seperti si Rosid."
"ahh ibu ini kepada anak sendiri kok begitu!" ujar Wawan ketus kepada ibu nya dan ibu nya hanya berkata kepada wawan agar jangan malas untuk bekerja.
Setelah ibu dan anak itu cekcok mengemukakan pendapat mereka masing-masing. kini Doni berkata lagi setelah Wawan bertanya kepada Doni tentang sistem kerja OB di kantor nya seperti apa.
"tidak terlalu berat kok Wan. paling masuk pagi jam tujuh, terus menyapu lantai dan mengepel nya. nanti pulang jam lima sore harus buang sampah. sudah begitu doang gak berat kok." ujar Doni dan Wawan bertanya lagi kepada Doni.
"memang nya berapa lantai kantor mu itu Doni???"
"cuman tiga lantai kok Wan."
"hah?!! kalau tiga lantai di kerjakan sendirian, bisa mati aku...!?" ucap Wawan kaget dan ia sedikit ragu akan pekerjaan tersebut.
Ibu Romlah yang mendengar penuh keraguan dari anak nya itu langsung berkata.
"mungkin tiga lantai juga tidak luas kali ya Don???"
"ruangan nya luas bu. tetapi hanya lantai dua saja yang lebar. kalau lantai satu tak terlalu lebar karena ruangan nya penuh barang-barang kantor."
"lalu kalau lantai tiga nya bagaimana???" tanya Wawan lagi penasaran.
"kalau lantai tiga tak perlu di bereskan, karena lantai itu adalah tempat tinggal ku selama ini." Wawan dan ibu nya telah paham mendengar ucapan dari Doni tersebut. Wawan lalu berkata kepada Doni untuk menyepakati akan mencoba bekerja dulu di kantor nya Doni selama seminggu. jika di rasa Wawan kerjaan nya enak bagi nya, ia pasti akan betah dan berapapun gaji nya ia mau. jika kerjaan nya menurut nya kurang sreg dihati nya, ia berkata tak akan melanjutkan pekerjaan nya itu.
Doni pun menyetujui Kesepakatan dari Wawan tersebut dan ibu Romlah yang sebagai saksi dari kesepakatan tersebut. setelah di rasa obrolan mereka cukup, Doni berkata kepada Wawan untuk menyiapkan lamaran kerja nya besok dan nanti akan di interview oleh HRD kantor nya. Wawan menyetujui nya dan sebelum mereka berpamitan, Doni memberikan segepok uang kepada ibu Romlah dengan ucapan 'Terima Kasih Banyak' karena sewaktu Doni masih susah, ia sering menginap di rumah nya Wawan bahkan sampai disuruh makan oleh ibu Romlah. uang tersebut Doni anggap untuk balas budi dari kebaikan ibu Romlah beserta Wawan yang sebenar nya dulu ketika Doni masih sekolah sampai lulus dan menganggur, Wawan adalah sahabat terdekat nya Doni dalam susah maupun senang. kini Doni sudah pulang kembali ke kantor CV.Group Perkasa dengan mengemudikan mobil nya kembali setelah ia memberikan nomor whatsapp nya kepada Wawan untuk dihubungi nya lagi nanti. Wawan dan ibu nya hanya menatap kepergian mobil Doni dengan air mata penuh keharuan dari kedua nya. mereka tak menyangka akan orang yang dulu miskin dan sudah mereka anggap keluarga sendiri, kini telah sukses atas cita-cita nya yang dulu pernah dikatakan oleh Doni kepada kedua nya dan kini sudah terbukti dengan seiring berjalan nya waktu.
...*...
__ADS_1
...* *...