KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
MENUMPANG TIDUR


__ADS_3

SUARA Adzan maghrib berkumandang sangat dekat di sebelah kiri pemuda yang sedang berjalan ditrotoar itu. ia kini memasuki pintu masjid itu dan menaruh koper dan tas gendong nya diteras masjid besar tersebut. Doni kelelahan dan ingin beristirahat di teras masjid itu. tetapi, ia dikejutkan oleh suara lelaki tua.


"jangan tiduran di sini nak. kotor lantai nya."


"maaf kek. numpang istirahat sebentar di sini boleh ya..???" ujar Doni memelas.


"iya tapi kan sekarang waktu nya shalat magrib nak. banyak orang yang mau shalat. nanti mereka terganggu. ada baik nya kamu ikut shalat yuk bareng kakek." ucap kakek tua itu mengajak kepada Doni. pemuda itu hanya mengangguk dan kemudian melepaskan sweater hitam nya.


Ia membersihkan diri untuk mandi di masjid besar itu. setelah mandi, ia berganti pakaian dan mengikuti jamaah shalat maghrib yang sebentar lagi selesai. Doni shalat seperti biasa dan sampai selesai ia berdoa dalam hati nya agar dimudahkan dalam perjalanan nya mencari pekerjaan yang halal dan berkah. setelah Doni berdoa, ia segera kembali ke tempat barang-barang nya yang ia simpan di tempat penyimpanan barang. kakek tua yang sebelum nya berbincang dengan Doni kini datang menghampiri Doni dan berkata.


"kamu mau kemana nak bawa koper dan tas itu..??"


"saya mau mencari pekerjaan kek."


"memang nya kamu bisa bekerja apa nak..??"

__ADS_1


"apa saja saya bakal melakukan nya kek yang penting halal." ujar doni dan kini sedang mengemas pakaian nya yang kotor. kakek itu manggut-manggut dan berkata kepada Doni.


"lalu kamu tinggal dimana nak..??"


"saya tinggal di daerah kampung kebon kopi kek."


"wah jauh sekali kamu nak. memang nya kamu tidak ada tempat tinggal sampai bawa barang-barang ini..??" Doni hanya menggelengkan kepala nya dan kakek itu sudah paham bahwa anak itu hanya modal nekat saja mencari pekerjaan tanpa ada persiapan yang matang.


Disela Doni ingin kembali berjalan, kakek itu mencegah nya dan berkata kepada Doni.


"bagaimana jika kamu bekerja di sini membantu kakek untuk membersihkan masjid ini setiap hari nak..??" Doni menatap kakek tua berumur tujuh puluh tahun itu. ada senyum terulas di pipi Doni.


Doni hanya mengangguk setuju dan mencium punggung tangan kakek tua itu seraya berkata terima kasih banyak atas tawaran yang di berikan kepada nya. kini Doni ikut sang kakek untuk pergi ke rumah nya yang berada di kampung rambutan dekat masjid itu. rumah sang kakek sangat sederhana sekali meskipun terbilang beratap genteng dan bertembok cat luntur, tetapi lantai nya sudah keramik dan bukan lantai semen.


Doni di ajak masuk oleh kakek itu ke rumah nya dan disambut oleh anak kakek itu yang sudah berumah tangga. anak kakek itu hanya satu dan anak nya perempuan. umur anak perempuan kakek itu kira-kira berumur empat puluh tahunan dan memiliki anak dua perempuan semua. anak yang besar sekolah SMP berumur lima belas tahun dan yang kecil masih berumur dua tahun. ibu dua anak itu bersalaman dengan Doni dan ibu itu mengaku bernama ibu Elis.

__ADS_1


Setelah mereka berbincang mengakrabkan diri, Doni mendengar bahwa suami ibu Elis sedang bekerja bangunan di luar kota dengan teman nya dan belum pulang selama seminggu ini. setelah mereka berbincang dan malam telah larut, waktu tidur pun tiba. Doni hanya tidur di ruangan tamu beralaskan samak seadanya dan pemilik rumah tidur di kamar mereka masing-masing. Doni kini merasa beruntung sekali bisa Menumpang Tidur di rumah orang yang baru dikenal nya. awal nya ia ingin tidur di emperan jalan atau didepan ruko yang telah tutup. tetapi ada saja rezeki yang selalu menyertai anak itu. dan kini Doni telah tertidur dengan lelap nya tanpa kedinginan oleh hawa dingin nya angin malam.


Anak itu bermimpi lagi dan kali ini dengan seorang anak perempuan yang sejak kecil menjadi teman main nya. Doni sedang berada di kamar yang mewah lagi. ia sedang terbaring dikasur yang empuk itu dan tiba-tiba ia mendengar suara perempuan kecil memanggil nama nya.


"Doni main yukk..." anak muda itu membuka mata nya dan ia berbalik ke arah lantai kamar itu.


Disana ada anak kecil sedang bermain mainan dengan diri nya yang kala itu masih kecil.


"hah?! Dona..??? tapp..tapi, bukan kah anak kecil itu diriku..??" ujar batin Doni yang yang sedang terbaring. Doni memperhatikan kedua nya bermain dengan riang nya. ia jadi terenyuh melihat kejadian yang telah lalu itu. ingin sekali dirinya kembali ke masa kecil yang hobi nya hanya main saja tanpa memikirkan sulit nya mencari napkah. tanpa disadari, Doni meneteskan air mata ketika Dona dipulangkan oleh ibu nya yang kejam itu. bibi Asih terlihat sedih dan terpaksa ia membawa anak nya pulang ke kampung nya. Doni melihat jelas kejadian itu didepan mata nya kala ia masih kecil dan kini jelas terlihat di alam mimpi nya setelah ia dewasa.


Rasa kesal melihat sang ibu yang angkuh dan sombong itu membuat Doni besar beranjak bangun dari tidur nya dan ingin menghajar ibu kandung nya itu. tetapi, apa daya diri nya sedang berada di alam mimpi. badan nya tak bisa digerakan dan lemas sekujur tubuh nya. ia hanya bisa berteriak keras mencaci maki ibu nya dalam mimpi dan tak lama Doni di bangunkan oleh kakek pemilik rumah yang bernama kakek Sarkim.


"nak..kamu kenapa nak..??"


"hah..?? aku bermimpi kek.." ujar Doni terbangun dan ia celingak-celingak mencari sesuatu.

__ADS_1


Kakek itu berkata menenangkan Doni agar beristigfar dan Doni pun menuruti nya. waktu itu adalah adzan subuh dan mereka berdua kini telah berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh. Doni sejak berangkat ke masjid itu selalu berpikiran tentang mimpi nya yang akhir-akhir ini terlihat sangat nyata. Doni masih terngiang-ngiang akan mimpi nya yang kedua kali nya itu. pertama ia bermimpi dengan almarhum ayah nya dan kedua kali bermimpi dengan orang yang pernah hadir di hidupnya yaitu Dona dan Ibu nya Dona yang bernama bibi Asih. ibu Dewi sudah tidak dipedulikan oleh Doni karena ia sangat membenci ibu nya.


Semenjak kecil Doni tidak mengerti dengan apa yang di lakukan ibu nya dan Tomi selingkuhan nya kala itu. setelah dewasa sekarang, Doni telah tahu dan sadar bahwa mereka telah melakukan tindakan tak senonoh yang belum sah karena pernikahan. ditambah bayi pertama anak mereka yang dikandung adalah anak haram. kecamuk batin nya masih saja memikirkan apa yang telah lalu dan terjadi. Didalam shalat nya pun Doni tidak fokus dan terngiang-ngiang terus dengan masa lalu nya yang indah itu, kini sekarang sudah bercampur masa kehancuran akibat ulah keserakahan ibu nya dari dulu sampai sekarang.


__ADS_2