KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
KEPUTUSAN IBU ASIH


__ADS_3

DONA Yang bingung dengan jawaban dari pertanyaan mantan nya yang bernama Andi itu, kini malah balik bertanya.


"apa kamu enggak bosan balikan lagi sama aku? kita pacaran sudah hampir sepuluh tahun dan itu pun putus nyambung putus nyambung terus sampai sekarang." ujar Dona dan suara lelaki yang ada si telepon menjawab nya.


"bosen sih enggak, tetapi aku masih sayang sama kamu Dona. aku berniat akan melamar mu jika kamu sudah lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana." ujar suara lelaki itu dan membuat Dona semakin bingung lagi untuk menjawab nya.


Padahal hati Dona sudah enggan untuk mengenal seorang lelaki lagi dan hanya akan fokus di masa kuliah nya saja. tetapi tekad yang Dona tanamkan dalam hati nya itu yang seperti itu, baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. hati nya masih membekas luka akibat tindakan mantan nya itu yang memutuskan nya secara sepihak. di saat mantan nya yang bernama Andi itu memanggil-manggil nama Dona di panggilan telepon tersebut, Dona yang merenung tadi segera menjawab nya.


"maaf ya Andi. aku sudah cukup merasakan indah dan pedih nya hubungan kita selama ini. semenjak kamu memutuskan ku secara sepihak, aku sakit hati sekali atas tindakan mu yang masih kekanak-kanakan itu. apa-apa main blokir dan bagaimana cara ku menjelaskan permasalahan ku kepada mu? andai kamu tahu Andi, disaat kau memutuskan hubungan kita. di saat itu aku masih berkabung karena nenek ku telah meninggal dunia seminggu yang lalu. apakah aku salah karena tak sempat membalas pesan mu itu hanya di karenakan aku sedang membantu ibu ku beres-beres rumah? apa kamu mengerti apa yang aku rasakan saat itu hah? setelah sekian lama kamu menghilang dan aku pun sudah mencoba melupakan mu, mengapa di saat aku sudah muak terhadap seorang lelaki kau malah datang lagi untuk mengemis cinta kepada ku? apa kau tak punya malu hah?! hik..hik..hik.." ucapan panjang lebar dari uneg-uneg Dona itu membuat Andi diam tak bisa berkata apa-apa.


Dona kini menangis terisak-isak dan tanpa disadari, ibu nya telah menguping pembicaraan itu di balik pintu Dona yang tidak terkunci. di saat Dona menangis itu, ibu Asih membuka pintu kamar itu dan membuat Dona kaget. ia segera mengelap air mata nya dan ibu nya berkata seraya mendekati nya.


"sini nak ponsel mu, biar ibu yang bicara." mau tak mau Dona harus menyerahkan ponsel nya kepada ibu nya. suara andi yang terdengar berkata bahwa diri nya mengaku salah, kini langsung di balas oleh ibu Asih.


"halo apakah ini kamu nak Andi?"


"halo..iya ini saya. ini siapa ya?" jawab Andi karena suara nya berbeda dari Dona.


"ini ibu Asih, ibu nya Dona."

__ADS_1


"oh ibu, maaf saya pikir siapa...he he" ucapan tersebut langsung dijawab oleh ibu Asih.


"nak Andi. padahal ibu dahulu sudah mempercayai mu semoga berjodoh dengan anak ibu. tetapi ketika ibu mendengar keluhan dari anak ibu barusan, ibu menjadi tak terima akan perlakuan nak Andi ini. apakah nak Andi bisa untuk melupakan Dona saja? untuk sekarang ini ibu melarang Dona untuk berpacaran lagi dengan siapa pun orang nya."


"alasan nya apa bu? padahal saya nanti berniat akan melamar Dona jika sudah lulus kuliah."


"alasan ibu sederhana nak. ibu tak mengizinkan Dona untuk menikah terlebih dahulu sebelum mendapatkan pekerjaan yang layak. ibu tak mau menjadikan anak ibu yang sudah susah payah ibu korbankan apapun itu demi lulus kuliah nya, menjadi sia-sia setelah menikah dan hanya menjadi ibu rumah tangga saja. kalau begitu kejadian nya, lebih baik tidak ibu sekolahkan anak ibu semenjak lulus SD." ujar ibu Asih panjang lebar dan membuat Andi mati kutu tak bisa beralasan untuk menjawab nya.


Dona yang sudah meredakan tangis nya itu, hanya bisa diam menatap ibu nya yang berkata lagi.


"sudah ya nak Andi. kamu jangan hubungi Dona lagi. biarkan dia fokus di masa kuliah nya dulu."


"baiklah jika Keputusan Ibu Asih begitu. saya harap ibu dan Dona jangan menyesali keputusan ini. baiklah kalau begitu, terima kasih semoga ibu dan Dona sehat- sehat selalu ya."


"amin, kamu juga ya nak.," setelah ibu Asih berkata begitu, panggilan telepon ditutup oleh Andi dan kini ibu Asih duduk di dekat anak nya seraya mengembalikan ponsel nya.


Dona yang sudah meredakan tangis nya itu langsung berkata kepada ibu nya.


"apa ibu tak berlebihan berkata begitu kepada Andi?"

__ADS_1


"laki-laki itu harus ditegaskan nak. jangan di kasih hati lagi jika kita sebagai seorang perempuan pernah di sakiti oleh nya. kecuali suami, kita sebagai seorang perempuan harus bisa memaafkan kesalahan suami kalau tidak kita akan berdosa nak." ujar ibu Asih kepada anak nya itu. anak gadis itu hanya mengangguk dan kemudian ibu nya berkata agar Dona melanjutkan belajar nya lagi.


Setelah begitu ibu Asih pergi keluar kamar menuju ruang tengah untuk menonton TV. Dona kini melanjutkan belajar nya lagi setelah kepergian ibu nya. hati dan pikiran nya sudah tak kalut lagi seperti ketika di hubungi oleh mantan kekasih nya itu. di salah satu dalam ruangan rumah sakit, terlihat Doni sedang memainkan ponsel nya. kala jam tujuh malam tadi, Doni sudah terbangun dari tidur nya karena perut nya terasa lapar. lalu ia memanggil suster untuk mengambilkan nya makanan berupa roti dan air susu. setelah Doni selesai makan, ia langsung memainkan ponsel nya untuk mengurangi rasa jenuh nya.


Kaki nya kini sudah bisa digerakan dan invusan darah nya sudah di lepas. tangan nya kini bisa leluasa memegang apapun tanpa terhalangi selang invusan. entah sudah berapa jam lama nya Doni memainkan ponsel nya itu. di sela ia masih main ponsel nya, ia mendapat pesan dari mbak Yuni. isi pesan tersebut adalah ucapan semoga cepat sembuh kepada nya. Doni awal nya tak mau membalas nya karena sudah merasa benci kepada mbak Yuni. tetapi ia sadar bahwa perbuatan itu tak baik dan ia hanya membalas nya dengan singkat.


"terima kasih ya." setelah membalas pesan tersebut, Doni langsung menutup ponsel nya dan menaruh nya di pinggir bantal nya.


Ia lalu memejamkan mata nya lagi untuk tidur karena jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam hari. di saat ia tertidur dengan lelap nya, ia lalu bermimpi dan ia berada di sebuah tempat asing yang disekelilingi hanya hamparan berwarna putih saja. keadaan nya sedang terbaring seperti di ranjang itu dan kemudian ia mencoba bangun setengah terbaring. mata nya menatap kesana kesini dan hati nya berkata.


"dimana ini?" mata nya terus saja menatap kesana kemari dan ketika ia menatap di satu titik di depan nya, ia melihat punggung seorang perempuan berambut panjang sebatas iga nya.


Perempuan itu berpakaian jas anak kuliahan yang sebelum nya pernah Doni lihat. dalam hati ia membatin lagi.


"siapa itu? pakaian nya mirip sekali dengan anak gadis yang dulu pernah aku cari keberadaan nya?" ucap nya dalam hati. ia lalu turun dari ranjang itu dan berjalan mendekati perempuan yang berdiri membelakangi nya. posisi berdiri perempuan itu agak jauh dan Doni berjalan seperti tak pernah merasakan sakit di kaki nya. ia terus saja melangkah mendekati perempuan itu dan sejauh ia melangkah, perempuan itu semakin terasa menjauh. semakin Doni berjalan cepat, perempuan itu semakin jauh dan susah untuk digapai oleh jangkauan Doni.


Ketika Doni berhenti dan menatap perempuan itu, ia melontarkan kata memanggil nya.


"hai kamu siapa? mengapa berdiri membelakangi ku?" ucapan bernada seruan itu tak di dengar oleh perempuan asing itu. Doni yang masih bermimpi itu tak sadar bahwa diri nya sedang berada di alam impian. Doni yang semakin penasaran akan siapa perempuan itu segera mendekati nya lagi dan kali ini ia berlari agar cepat menggapai perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2