
BENDERA Kuning seukuran selembar kertas karton terpatri dan terikat di ujung bambu yang sengaja dipasang dan di ikat disatukan dengan tiang listrik didepan gang menuju sebuah perkampungan yang ada di pinggiran kota. ramai nya orang-orang yang biasa nya nongkrong di pos pangkalan ojek di depan gang itu, kini menjadi sepi dan tak ada seorang pun yang duduk di pos ojek tersebut.
Doni yang tujuan nya baru sampai didepan gang itu dengan menyewa ojek online, kini sudah turun dan membayar ongkos nya. setelah ojek online itu pergi, Doni hanya berkerut dahi ketika diri nya menatap tiang bambu dengan bendera kuning nya yang seperti nya sengaja dipasang di depan gang dan terikat di tiang listrik itu.
Rasa heran Doni yang melihat tanda bendera kuning itu, kini sudah paham karena tanda itu sudah pasti ada salah satu warga kampung yang meninggal di kampung tersebut. langkah kaki anak muda itu seakan dipaksakan untuk melangkah menuju gang kampung rambutan yang sudah pasti di kampung tersebut adalah tempat tinggal nya kakek Sarkim dan anak nya.
Para warga yang biasa nya ngalor-ngidul di jalanan gang lumayan lebar itu kini tak ada sama sekali. kebanyakan diantara mereka hanya terlihat berada di depan rumah nya saja. langkah kaki Doni masih berjalan menuju rumah kakek Sarkim dan tak mempedulikan rasa heran nya akan keanehan tersebut.
Orang-orang yang ada di depan rumah mereka masing-masing, hanya memperhatikan Doni dengan keanehan di dalam hati mereka masing-masing. penampilan Doni yang serba tertutup itu menjadikan rasa curiga di dalam hati dan pikiran orang-orang warga kampung rambutan tersebut.
Doni hanya cuek saja dan terus berjalan tanpa menghiraukan beberapa pasang mata milik para warga kampung tersebut. ketika Doni ingin berbelok ke arah jalan kiri nya, terlihat beberapa orang sedang duduk bersila di teras rumah kakek Sarkim dan semua nya berpakaian seperti orang mau melaksanakan shalat.
Doni yang kaget itu sudah yakin pasti dari salah satu warga yang meninggal itu, berada di dalam rumah kakek Sarkim. lutut nya mulai gemetaran ketika teringat kakek tua yang sangat baik kepada nya. seketika mata nya menjadi lembab dan berkaca-kaca. ia segera berjalan mendekati bapak-bapak yang sedang duduk merokok sambil berbincang dengan teman nya.
Para bapak-bapak itu merasa terkejut dengan kehadiran Doni itu dan kemudian Doni berkata tanya dengan sopan.
"permisi pak, yang meninggal di dalam siapa ya...???"
__ADS_1
"kamu siapa..???" tanya bapak-bapak yang memakai baju koko biru telur asin.
"saya cucu angkat nya kakek Sarkim pak." ucap Doni dengan jelas dan didengar oleh semua orang yang ada di depan rumah kakek Sarkim.
Semua nya berkerut dahi dan salah satu ada yang bilang kepada Doni.
"kakek Sarkim sudah meninggal nak. jenazah nya sedang di mandikan di belakang rumah nya oleh pak Ustad Rojak dan santri nya." mendengar hal itu, Doni langsung tersentak kaget dan ia buru-buru duduk di teras rumah itu dan membuka sepatu nya.
Tanpa basa-basi lagi, Doni segera masuk ke dalam rumah itu dan membuka tudung sweater nya. masker nya pun ia buka ketika diri nya berada di ruang tengah rumah kakek Sarkim. di dalam rumah itu ada ibu Elis dan kedua anak nya. beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang melayat, ada yang sedang membaca surah yasin dan beberapa orang lagi sedang menenangkan ibu Elis yang masih menangis tersedu-sedu.
Masuk nya Doni ke dalam ruangan rumah itu tanpa mengucap salam, membuat orang-orang yang ada di dalam semakin heran menatap Doni. kedua anak nya ibu Elis yang berumur dua tahun dan kakak nya yang masih sekolah SMP, segera bangun berlari mendekati Doni dan Doni memeluk kedua nya dengan tangis haru bercampur sedih.
"mengapa kau datang kemari hah..?! gara-gara diri mu, kakek sakit dan meninggal akibat sering memikirkan dirimu!!. heu..heu..heu.." ucapan ibu Elis itu membuat bulu kuduk Doni menjadi merinding.
Ia tak menyangka kedatangan nya itu akan dikecam oleh ibu Elis selaku anak nya kakek Sarkim. para warga yang ada di dalam sedang menenangkan ibu Elis dan kemudian Doni berkata kepada ibu Elis dengan suara parau tertahan.
"maaf kan saya bu Elis, saya memang salah telah pergi dari rumah ini dan itupun secara baik-baik karena saya sudah pamit terlebih dahulu kepada kakek." ujar Doni dengan suara parau hampir menangis.
__ADS_1
Anak kedua ibu Elis yang berumur dua tahun itu hanya menarik-narik lengan sweater Doni seraya berkata 'Kek-Akek' secara terus menerus. Doni paham akan ucapan anak perempuan yang masih belajar ngomong itu. ia hanya tersenyum kepada adik nya Dede dan Doni berkata kepada Dede agar menjaga adik nya. Doni langsung berdiri dan berkata permisi kepada orang-orang yang melayat dan ada di dalam rumah itu.
Ia berjalan menuju dapur rumah kakek Sarkim dan pintu dapur nya telah terbuka. Di sana ada tenda terpal biru yang terpasang untuk memayungi para pemandi jenazah dan di bawah nya ada orang yang sedang memandikan jenazah. di antara para santri muda itu, ada Ustad Rojak dan suami nya ibu Elis yang bernama pak Tohir. kehadiran Doni yang berada di luar dapur rumah kakek Sarkim, membuat pak Tohir dan pak Ustad Rojak berkerut dahi dan tak percaya akan apa yang mereka lihat.
Doni segera mendekati pak Ustad Rojak dan pak Tohir yang sedang berbincang. ia lalu bersalaman mencium punggung tangan pak Ustad Rojak dan kemudian bersalaman biasa dengan pak Tohir. pak Ustad Rojak langsung bertanya kepada Doni.
"kamu Doni kan...???"
"saya memang Doni pak Ustad." jawab Doni dengan parau dan air mata yang sudah mengalir di pipi nya. pak Tohir lalu berkata kepada Doni dengan ucapan yang sedih kepada Doni.
"kamu terlambat datang nak Doni. semalam sebelum kakek meninggal, ia memanggil-manggil nama mu terus. bapak dan pak Ustad Rojak bingung mau mencari mu kemana karena tak ada arah tujuan dimana dirimu berada." ucap pak Tohir dan sudah tak memusuhi Doni lagi karena sebelum nya, ketika peristiwa Doni di fitnah oleh pak Tohir tentang diri nya main serong dengan ibu Elis. mereka berdua sudah berdamai dan saling memaafkan.
Pak Ustad Rojak pun membenarkan ucapan pak Tohir karena sebelum kakek Sarkim menghembuskan napas terakhir nya, ia berkata memanggil-manggil nama Doni. anak muda itu sudah menangis dan tak terdengar suara isak tangis nya. ia kemudian mengelap air mata yang meleleh di pipi nya dan meminta izin kepada kedua nya untuk melihat jenazah kakek Sarkim yang terakhir kali nya.
Doni segera mendekati palung pemandian mayat yang di dalam nya ada jenazah kakek sarkim yang sedang di mandikan oleh ketiga santri nya pak Ustad Rojak. ketika mata nya melihat wajah kakek tua yang sangat sayang dan peduli terhadap nya, seketika itu pula pecah lagi tangis nya dan kali ini terdengar raungan tangis nya yang memilukan.
Pak Tohir hanya diam memandangi Doni yang masih sekarang sudah menjauhi palung mayat itu dan kemudian berjongkok sambil menutup wajah nya memakai kedua telapak tangan nya. anak itu menangis meraung-raung karena teringat akan kenangan nya ketika pertama kali bertemu kakek Sarkim sampai di ajak menginap di rumah nya.
__ADS_1
Hanya ustad Rojak yang paham akan perasaan Doni saat itu. anak itu sudah menganggap kakek Sarkim adalah kakek nya sendiri dan pernah diceritakan oleh Doni kepada ustad Rojak bahwa ketulusan, kebaikan serta kepedulian nya kakek Sarkim kepada nya itu, yang membuat nya bertekad ingin memberangkatkan kakek Sarkim dan pak Ustad Rojak umroh naik haji ke mekah, jika Doni sudah bekerja dan memiliki penghasilan dari upah kerja nya itu.
Tetapi semua perkataan dari tekad Doni kepada pak Ustad Rojak telah sirna dengan meninggal nya kakek Sarkim. janji tersebut yang pernah di katakan Doni kepada pak Ustad Rojak itu, sekarang hanya menjadi angan-angan saja. padahal tujuan awal Doni datang ke rumah kakek Sarkim itu, ingin bersilaturahmi dengan kakek Sarkim serta pak Ustad Rojak perihal akan membiayai kedua nya untuk berangkat haji ke mekah.