
TIBA DI Dapur rumah ibu Asih, terlihat Doni baru masuk ke dalam kamar mandi setelah ia bertemu dengan ibu Asih di dapur itu dan berbincang sebentar. ibu Asih kini berkerut dahi menatap Doni yang sesekali memegang pinggang nya ketika Doni baru keluar dari dalam kamar mandi tadi. lalu ibu Asih bertanya kepada Doni akan keheranan nya itu.
"mengapa pinggang mu den? apakah ikut terluka juga?" Doni yang hendak berjalan menuju ruang tamu rumah itu, menjadi terhenti dan menatap ibu Asih seraya berkata.
"area badan Doni terkena pukulan juga bi, mungkin yang paling parah di sebelah pinggang kanan Doni." ibu Asih yang mendengar pengakuan dari Doni tadi, segera menyuruh Doni untuk membuka baju nya.
Doni lalu mengangguk dan ia segera membuka baju ketat nya itu dan nampaklah badan kekar Doni yang dihiasi otot-otot tubuh lumayan terbentuk. ibu Asih hanya geleng-geleng kepala saja dan bertanya kepada Doni.
"apa aden sering olahraga? badan aden makin bagus saja kelihatan nya."
"iya bi, setiap pagi Doni selalu olah raga pagi dan inilah hasil yang di dapat dari olahraga itu." ujar Doni dan ibu Asih lalu menyuruh Doni untuk berbalik badan. setelah Doni berbalik, nampaklah pinggang belakang nya memar membiru dan membuat ibu Asih berkata.
"pinggang mu memar den, pasti terkena pukulan keras ya?"
"ya lumayan keras bu, karena ini terkena tendangan keras dari si Riko itu." ujar Doni dan membuat ibu Asih manggut-manggut.
Lalu ibu Asih mengajak Doni untuk kembali ke ruangan tamu rumah nya untuk di kompres di ruangan itu. ketika Doni yang tak memakai baju itu berjalan dibelakang ibu Asih yang membawa wajan berisi air hangat dan handuk kecil, Dona sedikit tersentak kaget dan langsung menunduk karena malu menatap Doni yang tanpa baju itu. ibu Asih sudah duduk di kursi seperti semula dan Doni duduk di dekat Dona. gadis itu masih menunduk malu dan Doni bertanya kepada nya.
"mengapa kau menunduk begitu?" ibu Asih yang melihat hal itu langsung berkata.
"tak perlu malu sayang, itukan calon suami mu?" ujar ibu Asih dan Dona kini menengadah menatap wajah ibu nya seraya berkata.
"Dona hanya sedikit trauma saja melihat Doni yang tanpa baju ini, gara-gara poto menjijikan yang dikirim si wanita jalank itu kepada Dona bu." setelah Dona berkata begitu, Ibu asih kemudian memberikan alat kompresan itu kepada Dona untuk mengobati luka memar Doni diwajah nya. Dona tak mengelak nya dan kini ia sedang mengompres luka memar di wajah Doni dengan penuh perasaan dan kelembutan.
Suara adzan dzuhur baru saja terdengar berkumandang dan ibu Asih berkata kepada kedua muda-mudi itu untuk nya izin shalat dzuhur dulu. Dona dan Doni mengangguk mengizinkan nya dan ibu Asih kini sudah pergi ke arah dapur rumah nya untuk mengambil wudhu. Dona lanjut mengkompres area wajah Doni yang memar itu dan pada saat itu juga Doni mencium pipi Dona yang sangat dekat sekali dengan wajah nya. Dona tersentak kaget dan langsung berkata ketus kepada Doni.
"nakal ih!" ucapan Dona tadi hanya di balas senyuman oleh Doni dan kemudian Dona bertanya kepada Doni.
"kata nya kamu mau menceritakan obrolan yang tertunda tadi sayang?" ucap Dona sembari tangan nya mengobati luka Doni.
__ADS_1
Doni hanya mengangguk dan langsung berkata.
"harga tanah itu naik dua miliyar dan aku tak bisa menawar dari harga sebelum nya."
"mengapa begitu sayang?" tanya Dona penasaran.
"kata nya setiap tahun naik satu miliyar karena pajak yang ibu Yanti dan pak Sarto tanggung. jadi wajar kata nya ia melelang tanah lahan nya itu melebihi harga asli nya karena ia juga harus bayar pajak dari penjualan lahan tersebut."
"apakah nanti berlaku bagi mu sayang?"
"pasti sayang. apalagi jika sudah menjadi rumah dan pemilik nya adalah orang berada, pasti petugas pajak tetap ada yang akan mendatangi rumah kita nanti."
"berarti hampir sama dengan perusahaan mu yang setiap tahun harus bayar pajak, begitukah sayang?"
"iya sayang." ujar Doni lagi dan Dona sekarang sudah paham kenapa harga tanah itu dijual dengan harga yang sangat tinggi.
Kini Dona menyudahi mengompres wajah Doni yang memar itu, kini Doni di suruh berbalik memunggungi Dona untuk melihat luka memar dipinggang nya itu. setelah Dona melihat hal itu, Dona berkata kepada Doni.
"memang kamu bisa memijat sayang?" tanya Doni.
"bisalah sayang! karena aku sering memijat ibu ku jika ibu sedang kecapekan sehabis bekerja."
"ouh begitu sayang. yasudah dimana kamu akan memijat badan ku sayang?" tanya Doni yang kini sudah berbalik arah menatap Dona.
Ibu Asih yang dari dapur dan hendak masuk ke dalam kamar nya itu, mendengar ucapan Dona dan Doni tadi. lalu ibu Asih berkata kepada Dona.
"coba dikamar kamu saja sayang, biar den Doni bisa sekalian beristirahat juga sembari kamu pijat."
"baik ibu." ujar Dona patuh dan kini ibu Asih berjalan masuk ke dalam kamar nya. Dona kini mengajak Doni untuk masuk ke dalam kamar nya dan Doni pun tak keberatan akan hal tersebut. pintu kamar Dona sengaja di buka karena takut dianggap kedua nya melakukan hal tak senonoh tanpa sepengetahuan ibu Asih.
__ADS_1
Doni yang melihat isi kamar Dona yang tak seberapa luas nya itu, berkata kepada Dona.
"luas ruangan kamar mu hampir sama dengan luas ruangan kamar ku ketika masih tinggal bersama ibu dan ayah tiri ku." ucapan Doni tadi hanya dibalas senyuman oleh Dona yang sembari berkata.
"semoga saja nanti kamar pengantin kita lebih besar dan luas dari kamar ku ini." Doni lalu mencubit pipi Dona dengan gemas seraya berkata.
"aku akan membuatkan kamar yang luas untuk bulan madu kita nanti, jika rencana untuk membuat rumah mulai dilakukan nanti." ucap Doni yang kini sudah terbaring telungkup di ranjang Dona. Dona lalu duduk di tepian ranjang nya itu sembari mulai memijit pinggang dan punggung Doni memakai minyak urut.
Di sela memijat Doni, Dona menjawab ucapan Doni barusan dengan pertanyaan.
"memang nya kamu mau membuat rumah yang seperti apa sayang?" Doni segera berkata kepada Dona akan membicarakan hal itu nanti setelah ia menghubungi pak Yaris untuk membuat surat pemecatan untuk mbak Yuni. pada saat ia bicara begitu, Doni segera ingat akan karyawati nya yang bernama Lesti dan Doni lalu bertanya kepada Dona.
"sayang? apakah si Lesti pernah meminta nomor whatsapp kepada mu?"
"Oh cewek itu. ia memang pernah meminta nomor whatsapp ku dan berkata mau di masukan ke dalam grup whatsapp kantor itu. apa ada yang salah sayang?" ujar Dona yang tak sadar akan permasalahan yang ia alami itu berawal dari Lesti yang meminta nomor nya kala beberapa hari yang lalu.
Doni yang mendengar pengakuan dari Dona tersebut segera berkata.
"seperti nya kamu sudah dimasukan ke dalam grup kantor yang palsu oleh si Lesti itu sayang."
"oh iya! aku baru ingat sayang! ternyata si Lesti itu yang menjadi pokok permasalahan ini terjadi! biadab juga tuh orang!" ucap Dona dengan ucapan sedikit marah. Doni segera menenangkan Dona dan berkata bahwa si Lesti itu sebenar nya di suruh oleh si Yuni untuk meminta nomor ponsel nya Dona. lalu Doni menjelaskan secara rinci apa yang sudah dikatakan Wawan kepada Doni, kini Doni katakan lagi kepada Dona.
Dona yang sudah mendengar jelas Awal dari Persekongkolan Yuni dan Lesti dari cerita Doni tadi, segera berkata menyuruh Doni untuk memecat nya juga bersamaan dengan si Yuni. Doni pun berkata bahwa ia berpikiran seperti itu dan akan memecat Lesti bersamaan dengan Yuni melalui perantara pak Yaris.
"mengapa harus lewat pak Yaris sayang?" tanya Dona penasaran dan Doni langsung menjawab nya dengan penjelasan.
"karena ada nya sistem kontrak kerja yang seumur hidup dikantor ku, maka harus di buat surat pemecatan secara resmi agar karyawan yang bersangkutan itu tidak mengambil jalur hukum atas kontrak yang sudah ditanda tangani oleh pihak karyawan dan HRD perusahaan itu jika diputuskan hubungan kontrak kerja nya." Dona yang mendengar hal itu hanya manggut-manggut paham dan masih dalam posisi memijat punggung Doni.
Doni lalu berkata kepada Dona, nanti malam ia akan pergi ke rumah nya pak Yaris untuk membicarakan langsung peristiwa tersebut dan otomatis Dona pun pasti akan di ajak oleh Doni untuk ikut bersama nya ke rumah pak Yaris. ibu Asih yang sudah selesai shalat dzuhur itu, melintas di depan kamar Dona dan tersenyum melihat mereka berdua. lalu ibu Asih berkata kepada Dona dan Doni bahwa diri nya mau keluar dulu untuk pergi ke rumah yang sedang mengadakan acara hajatan. Dona dan Doni mengizikan nya dan kemudian ibu Asih berlalu pergi ke luar rumah untuk kembali ke tempat ia membantu memasak di rumah yang mengadakan hajatan pada hari itu. kini di rumah ibu Asih hanya ada Dona dan Doni saja di rumah itu. seharus nya keadaan seperti itu adalah kesempatan emas bagi kedua nya untuk berkasih-kasihan dan memadu kasih tanpa harus takut diketahui oleh ibu Asih.
__ADS_1
...*...
...* *...