
PAGI Hari yang cerah menyambut sinar nya cahaya mentari di sebelah timur. bias cahaya matahari memancarkan sinarnya dipagi hari yang damai kala itu. suara Kokok ayam bersahutan menyambut indah nya mentari di ufuk timur yang mulai naik perlahan mengikuti garis sang kodrat Ilahi. semua mahkluk merasakan nikmatnya ciptaan tuhan yang tak terbatas hingga akhir waktu tersebut.
Pagi itu, pemuda yang bernama Doni terlihat sedang bersiap-siap untuk berangkat mencari pekerjaan. ia berada di teras rumah kakek Sarkim dan sudah berpamitan kepada pemilik rumah yaitu kakek Sarkim sendiri. awal nya Doni ingin mencari pekerjaan dan membawa barang-barang nya. tetapi kakek Sarkim, bu Elis serta Dede anak ibu Elis melarang nya karena sudah menganggap Doni sebagai anggota keluarga di rumah itu.
Larangan mereka tak di dengar dan Doni Nekat memaksa untuk pergi karena ia tak enak hati kepada suami nya ibu Elis. kemarin sore suami ibu Elis baru pulang dari pekerjaan nya di kota. Doni yang kala itu baru pulang dari masjid dengan pak Sarkim, membuat suami nya ibu Elis curiga dan blak-blakan menuding istri nya sudah bermain serong dengan lelaki yang lebih muda dari nya.
Kakek Sarkim selaku orang tua dari ibu Elis membantah tuduhan itu. ibu Elis dan anak nya yang bernama Dede juga membantah nya. Doni serba bingung di tuduh hal demikian karena sejujur-jujur nya dirinya menyergah tuduhan itu, tetap saja tidak dapat membuat keras kepala nya suami ibu Elis hilang. malah suami ibu Elis nekat ingin membunuh Doni memakai pisau dapur.
Para warga berdatangan ke rumah kakek Sarkim karena di dalam rumah itu terdengar ibu Elis berteriak histeris. kakek Sarkim tak bisa berbuat apa-apa karena dirinya sudah tua renta dan tak bisa mencegah aksi nekat suami bu Elis. untung ada warga, aksi pembunuhan akibat kecemburuan dari suami nya bu Elis dapat di redakan dan para tetangga juga membenarkan bahwa Doni adalah anak yang tak punya tempat tinggal yang menumpang tinggal dan membantu kakek Sarkim bekerja membersihkan masjid.
Suami ibu Elis yang bernama pak Tohir itu di kecam habis-habisan oleh para warga dan istri nya. ia malu setengah mati dan kemudian meminta maaf kepada Doni. pemuda itu sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan dan tuduhan pak Tohir kepada nya. Doni memaafkan tuduhan menyakitkan itu tetapi ia bilang akan pergi dari rumah itu secara baik-baik.
Anggota keluarga rumah itu menolak dan melarang Doni untuk pergi dari rumah itu. kakek Sarkim sudah sayang sekali kepada anak itu karena Doni orang nya penurut dan mau membantu pekerjaan kakek Sarkim dengan senang hati. ibu Elis pun melarang Doni untuk pergi karena Doni selalu membantu ibu Elis ketika pergi ke pasar untuk membantu membawakan belanjaan nya. mengasuh anak nya yang masih berumur dua tahun, serta membantu anak gadis nya yaitu Dede belajar di rumah nya.
Suami ibu Elis akhirnya menyesali perbuatan nya. ia pun memohon kepada Doni agar tetap tinggal di rumah nya. tetapi hati sanubari Doni sudah tergores luka akibat ucapan pak Tohir yang sangat menyakitkan perasaan Doni. yang membuat Doni terluka dari ucapan pak Tohir itu adalah Doni dituduh melakukan hubungan gelap atau berzinah dengan ibu Elis ketika keadaan rumah sedang sepi. tuduhan itulah yang membuat nya sakit hati dan hati nya sangat pilu bagai disayat-sayat tajam nya silet.
__ADS_1
Diri nya di tuduh melakukan tindakan tak senonoh dengan ibu Elis. padahal, Doni adalah orang yang tak berani macam-macam terhadap siapapun itu. memang pernah ibu Elis mencoba merayu Doni untuk melayani gairah nya karena sudah lama ia tak merasakan kehangatan dari sang suami. tetapi Doni menolak dan balik menceramahi ibu Elis dan membuat ibu Elis menjadi malu sendiri.
Kejadian itu sudah beberapa hari yang lalu ketika Doni awal baru menumpang tinggal. karena semenjak Doni tinggal di rumah kakek Sarkim sampai sekarang, diri nya sudah menumpang sekitar hampir seminggu kurang. sampai sekarang, ibu Elis agak malu terhadap Doni dan Doni sudah melupakan kejadian itu dan ia tidak pernah membongkar apa yang ibu Elis pernah lakukan kepada nya.
Kini, kepergian Doni pagi itu hanya ditemani kakek Sarkim dan anggota rumah lain nya masih tertidur pulas. terdengar kakek Sarkim berkata kepada Doni.
"kamu yakin mau pergi nak..??"
"iya kek. saya sangat yakin. terima kasih telah menolong saya sejauh ini kek." ujar Doni dan ia mencium punggung tangan kakek Sarkim dan kemudian Doni pamit.
Kakek Sarkim hanya bisa melepas kepergian cucu angkat nya itu dengan lelehan air mata membasahi pipi tua nya. ia hanya bisa mendoakan Doni agar sukses dan dapat pekerjaan yang layak. perjalanan Doni kini di lanjut menuju arah keramaian kota. ia teringat dengan pesan pak ustad Rojak sebelum-sebelum nya kepada nya.
Ingatan Doni tentang saran pak ustad Rojak sedang ia pikirkan dan akan ia lakukan. ia kini hanya berjalan saja di pinggir trotoar jalanan umum dan ketika ia merogoh kantong nya, sisa uang yang ia punya hanya ada tiga puluh ribu. untung sebelum pergi ia meminta air minum di botol air mineral kepada kakek Sarkim. jadi ia tak takut kehausan dan sisa uang nya di belikan air minum.
Sebelum berangkat juga ia sudah sarapan di rumah kakek Sarkim. jadi ia masih bersemangat dan tidak loyo seperti sebelum-sebelum nya. tiba Doni di depan ruko yang menjual makanan semacam bakmi ayam dan karyawan nya ada yang sedang merokok di depan parkiran nya. Doni mendekati karyawan restoran itu dan berkata.
__ADS_1
"permisi bang. apa di restoran ini masih ada lowongan pekerjaan..???" karyawan yang diperkirakan ada tiga orang itu menatap Doni dan salah satu nya menjawab.
"sudah ada yang masuk bang kemarin. lowongan nya sudah di tutup."
"oh begitu bang. baiklah kalau begitu. saya pamit lagi." ujar Doni sopan dan ketiga karyawan itu hanya tersenyum ramah. ketiga nya merasa aneh ketika melihat doni yang membawa koper dan tas dan pakaian nya hitam putih seperti orang mau melamar pekerjaan.
Disepanjang Doni menyusuri parkiran ruko-ruko restoran yang menjual makanan cepat saji itu, tidak ada lowongan pekerjaan sama sekali ketika Doni menanyakan nya kepada para karyawan yang sedang berjaga di tempat tersebut. padahal, Doni melihat ada kertas-kertas yang menempel di setiap tembok perusahaan yang sedang mencari karyawan untuk perusahaan itu. tetapi ketika Doni menanyakan nya kepada para karyawan perusahaan-perusahaan itu, mereka selalu bilang sudah penuh dan tidak ada lowongan pekerjaan lagi.
Rasa lelah dan capek membuat Doni duduk dan merenung di depan ruko yang kosong dan seperti nya masih tutup. ia sedang minum air karena kehausan dan ketika Doni ingin beranjak dari tempat nya duduk, ada satpam yang menuju ke arah nya dan bertanya.
"kamu sedang apa di sini nak..???"
"saya sedang istirahat pak. saya kecapekan habis mencari lowongan pekerjaan tetapi tidak ada lowongan sama sekali." jawab Doni kepada pak satpam itu.
Pak satpam yang di perkirakan berumur tiga puluh delapan tahun itu berbadan agak gemuk dan wajah nya lumayan ganteng dan berkumis tipis. pak satpam itu lalu berkata kepada Doni.
__ADS_1
"kamu ada lamaran nya tidak nak..??"
"ada pak. ini saya bawa dan ada di dalam koper saya." ujar Doni dan kemudian ia membuka koper nya. pak satpam itu manggut-manggut ketika melihat Doni memberikan lamaran nya kepada pak satpam itu dan pak satpam itu segera membuka berkas-berkas lamaran Doni untuk ia lihat isi nya.