
GEMERICIK Air terdengar menetes dari balik pintu kamar mandi. Doni tahu itu adalah air yang keran nya sudah berkarat dan hampir rusak. Doni masa bodo akan hal itu dan ia kini sudah selesai mandi dan berpakaian memakai celana jeans pendek sebatas lutut dan kaos biru. ia sedang berbaring menatap layar ponsel nya untuk melihat jam dan kemudian ia menatap televisi yang masih menyala.
Doni sudah meletakan ponsel nya di sebelah nya berbaring dan kemudian ia memegang remot televisi untuk memperbesar volume suara TV tersebut. waktu kala itu jam tujuh malam dan Doni sudah selesai sholat maghrib. pemuda itu sedang asyik menonton televisi. Doni sedang menonton berita lokal tentang wabah penyebaran virus yang semakin hari kian meningkat gejala nya.
Doni hanya diam menatap layar televisi tersebut dan memperhatikan acara berita tersebut dengan seksama. hati dan pikiran nya berkecamuk tentang ada nya acara berita penyebaran virus berbahaya pada tahun ini. lama nya Doni menonton televisi membuat perut nya lapar dan ia sadar bahwa diri nya lupa membeli cemilan dan makanan untuk stock nya makan nanti malam. isi dalam kulkas di ruangan tersebut masih kosong dan soal air minum Doni tak perlu membeli nya karena sudah ada stok galon didalam kamar tersebut.
Doni lalu bergegas bangkit dari ranjang nya dan tak lupa ia mengantongi ponsel nya serta mengambil kunci serep di kantor tersebut. tak lupa juga ia memakai masker yang baru ia ambil dari dalam tas nya. Doni ingat akan dari mana masker itu ia dapatkan. ingatan nya kembali kepada masa dimana Doni awal nya di usir dan kelaparan sampai bertemu dengan pak satpol pp dan kemudian dibelikan makanan. masker yang sekarang Doni pakai itu adalah pemberian dari pak satpol pp yang pernah membelikan makanan untuk Doni serta uang untuk bekal Doni. di situlah awal pertemuan Doni dengan pak satpol pp yang belum jelas di ketahui nama nya oleh Doni.
Setelah memakai masker, kemudian Doni mengambil uang yang berada di brankas milik ayah nya. brankas sebesar box kerat minuman itu, isi nya hanya uang gepokan pecahan seratus ribuan. brankas yang isi nya hanya uang itu memang uang dari cek milik ayah Doni yang sudah di cairkan oleh pak Yaris untuk bekal Doni hidup mandiri di kantor tersebut. Doni hanya mengambil satu lembar pecahan uang seratus ribuan saja karena ia yakin uang segitu cukup untuk makan malam nya dan membeli cemilan lain nya. mungkin bisa saja masih tersisa lebih dari kembalian nya jika Doni membeli makanan di kaki lima.
Setelah mengambil uang, Doni keluar kamar nya dan turun tangga menuju lantai dua. ia sengaja tak mematikan lampu lantai dua yang isi nya barang-barang kerja karyawan kantor tersebut. nyala terang ruangan kantor itu tak membuat Doni merasa ketakutan seperti malam sebelum nya. ia sekarang turun ke lantai satu dan kemudian membuka pintu kantor yang terkunci dari luar.
Doni membuka nya menggunakan kunci serep dan terbukalah pintu kantor yang terkunci itu. lalu Doni keluar dan mengunci kembali pintu kantor tersebut dari luar. ia mengunci pintu nya kembali hanya untuk berjaga-jaga agar tidak ada orang yang mencoba masuk untuk mencuri apa yang ada di dalam kantor tersebut.
Langkah pemuda tampan itu berjalan menyusuri jalanan aspal ruko yang bernama Ruko Pinangsia. ruko tersebut cukup luas dan dari kiri sampai kanan nya bangunan tersebut, kebanyakan restoran cepat saji dan beberapa kantor nya yang sudah tutup. Doni sedang mencari-cari abang-abang menjual nasi goreng yang malam sebelum nya pernah ia beli.
Ia mencari di sekitaran jalanan aspal ruko tersebut sampai di dekat trotoar jalan umum, ia sama sekali tak menemukan pedagang nasi goreng keliling itu. rasa lapar mulai membuat perut Doni melilit sakit dan ketika Doni hendak pergi ke minimarket untuk membeli roti, ia melihat ada ruko restoran yang atas nya ada pajangan banner spanduk berbagai masakan siap saji. di salah satu gambar masakan cepat saji di banner spanduk tersebut ada gambar nasi goreng.
__ADS_1
Rasa lapar nya teringat akan nasi goreng makanan kesukaan nya itu, segera membawa langkah kaki nya yang hanya memakai sandal jepit itu menuju restoran lumayan mewah dan besar itu. para pengunjung nya lumayan ramai dan beberapa ada yang makan di dalam dan yang memesan untuk di take away atau dibungkus untuk di makan di rumah nya pun ada.
Para ojek online banyak yang sedang mengantri duduk di kursi tunggu restoran tersebut dan masing-masing sedang menunggu pesanan nya selesai di kemas oleh karyawan restoran tersebut. Doni kemudian mendekati beberapa karyawan yang sedang menyiapkan makanan yang di bungkus untuk ojek online.
Terlihat sebagian karyawan lain nya sedang memasak makanan cepat saji di depan ruko restoran tersebut dan beberapa karyawan lain nya ada yang menyiapkan pesanan makanan dan minuman untuk para pengunjung yang makan di tempat. mereka semua berseragam restoran lengkap dan memakai masker juga. baru saja Doni ingin bertanya kepada salah satu karyawan lelaki yang sedang membungkus makanan yang baru saja di masukan ke dalam plastik, ia tak jadi meneruskan ucapan nya karena karyawan lelaki itu yang bertubuh agak gemuk dengan sinis nya menatap Doni dan berkata tegas.
"minta-minta nya ke tempat sebelah sana saja mas! di sini lagi pada sibuk!" ucap karyawan lelaki itu dengan tegas dan ketus nya kepada Doni.
Doni hanya berkerut dahi dengan ucapan dari karyawan tersebut. Doni lalu memandangi penampilan nya yang hanya memakai kaos biru polos, celana jeans sepanjang lutut, memakai masker serta sepasang sandal jepit menghiasi kaki nya. Doni lalu menatap karyawan itu lagi karena ia di sangka pengemis oleh karyawan tersebut. penampilan Doni yang sederhana itu malah di salah artikan oleh karyawan restoran itu. untung Doni masih bisa sabar akan ucapan tak sopan dari karyawan tersebut.
"heh mas! saya mau pesan makanan bukan mau minta-minta!" ucap Doni dengan tegas pula dan membuat karyawan tadi menatap Doni dengan tajam seraya berkata.
"nada bicara mu bisa gak biasa saja woi!!" gertak karyawan itu mulai naik pitam akibat suara tegas dari Doni barusan.
Doni yang sudah kesal juga akibat kedatangan nya di salah artikan, segera meninju wajah karyawan tersebut dengan cepat dan terjengkang lah karyawan yang terlihat songong itu ke lantai restoran itu. para karyawan yang sedang ada di dekat nya pun tersentak kaget akan kejadian tersebut. para pengunjung yang sedang makan pun segera menatap ke arah luar restoran.
Para ojek online yang sejak tadi sedang menunggu pesanan nya jadi, segera memisahkan Doni dan karyawan songong yang terjengkang tadi. kedua nya sudah berkelahi dan segera di pisahkan oleh para ojek online tadi. keributan tersebut membuat menejer restoran tersebut turun tangan dan segera mendekati kerumunan itu. terdengar suara perempuan muda berkata kepada orang yang ada di depan restoran cepat saji itu.
__ADS_1
"ada apa ini ribut-ribut hah..?!" tanya seorang perempuan yang memakai jas kantor dan rok hitam sebatas betis nya.
Doni langsung menatap siapa perempuan yang bertanya itu dan karyawan restoran yang songong itu segera menjawab pertanyaan atasan nya itu.
"orang ini datang-datang ngajak ribut sama saya bu!!"
"ngajak ribut bagaimana maksud mu pak Joko..???" tanya perempuan muda itu lagi.
Doni masih diam memandang tajam kepada karyawan yang agak gemuk dan lebih tua dari nya itu. karyawan kantor yang di sebut pak Joko itu segera menjawab pertanyaan atasan nya itu.
"orang ini datang-datang bentak-bentak saya bu!! saya tak terima akan bentakan orang ini.!!" ucap karyawan itu beralasan membela diri nya.
Lalu perempuan cantik yang memakai masker itu, menatap wajah Doni yang memakai masker juga lekat-lekat dan kemudian bertanya kepada Doni. para ojek online yang awal nya memisahkan perkelahian Doni dan karyawan songong itu hanya diam saja tak mau ikut campur masalah tersebut. mereka lebih mementingkan pesanan customer nya daripada ikut-ikutan terlibat masalah yang tidak ada hasil nya itu.
Doni yang ditanya oleh perempuan muda berpakaian seragam kantor itu, segera menjawab pertanyaan sebelum nya.
"saya datang kemari bukan untuk minta-minta seperti yang karyawan ibu ini katakan!. saya hanya ingin bertanya tentang harga nasi goreng yang dijual di tempat ini!." ujar Doni dengan ucapan nada menegaskan perkataan nya sambil mata nya menatap perempuan kantoran yang terbilang cantik dan tegas itu.
__ADS_1