
IBU ELIS kini kembali lagi ke tempat ruang tamu nya sembari menggendong anak perempuan kedua nya. Doni tersenyum menatap Asri yang kini diperkirakan sudah berumur empat tahun. ibu Elis lalu duduk dan berkata kepada anak kedua nya itu.
"gih salim sama kak Doni dulu sayang." anak kecil itu hanya geleng-geleng kepala saja dan malah menelusup kepala nya di dada ibu nya. Doni hanya tersenyum dan berkata kepada ibu Elis.
"mungkin Asri sudah lupa dan tak mengenali wajah ku bu. wajar saja sudah dua tahun lama nya Doni baru datang kembali ke rumah ini." lalu ibu Elis menjawab ucapan Doni tadi.
"iya bisa jadi Don. mungkin lama kelamaan Asri bisa mengenali kamu kok."
"iya bu semoga saja." ujar Doni dan pada saat itu muncul Dede yang membawakan nampan untuk alas sepiring martabak telur dan martabak manis disatukan serta segelas air putih untuk Doni.
Dede menyimpan segelas air itu di dekat Doni dan Doni menerima suguhan air putih itu dan meneguk nya. lalu Dede menawari adik nya martabak dan adik nya menerima nya dan memakan nya. lalu Asri berjalan mendekati Dede dan kini di pangku. setelah itu ibu Elis bertanya kepada Doni setelah Doni selesai minum air tadi.
"penampilan dan perawakan mu sangat berbeda sekali dengan dirimu yang dua tahun lalu Don. pantas saja Asri tak mengenali mu sama sekali." Doni hanya tersenyum dan ia sejak tadi menatap Asri yang membenamkan wajah nya di balik pelukan Dede. Dede hanya tertawa saja ketika Asri di sodorkan kepada Doni untuk di gendong dan Asri menolak nya dan malah menangis ketakutan.
Kemudian Dede bertanya kepada Doni.
"bukankah tadi kak Doni tadi menanyakan bapak ya??"
"oh iya. hampir saja Kak Doni lupa De." ujar Doni dan ibu Elis bertanya.
"apa ada yang penting dengan bapak nya Dede, Don??" lalu Doni menjawab nya.
__ADS_1
"jadi begini bu. kedatangan Doni kemari bukan untuk sekedar silaturahmi saja, tetapi ada hal penting yang harus dibicarakan dengan pak Tohir dan ibu juga."
"apa itu Don???" tanya Ibu Elis dan Dede hanya jadi pendengar saja bersama adik nya yang sedang makan martabak manis itu.
"di tempat kerja Doni lagi butuh karyawan sebagai petugas kebersihan atau singkat nya Cleaning Service. jadi Doni mau mengajak pak Tohir untuk menjadi karyawan di kantor saya itu." ujar Doni dan langsung dijawab oleh ibu Elis.
"tapi suami ibu enggak punya ijazah atau surat lamaran kerja Don. apalagi pengalaman sebagai petugas kebersihan seperti itu." Doni yang mendengar ucapan ibu Elis itu hanya tersenyum dan segera menjawab nya.
"ibu tak usah khawatir. pekerjaan seperti itu tak perlu memakai otak dan pikiran. hanya memakai tenaga saja dan lagi pula pak Tohir tak perlu memikirkan surat lamaran untuk bekerja nanti."
"tapi Don. apakah bakal diterima?" tanya ibu Elis lagi dan Doni menjawab nya.
"pasti bu. karena saya adalah bos dikantor itu."
Doni lalu berkata di sela kedua nya masih sama-sama kaget itu.
"Ibu Elis dan Dede tak perlu kaget. semenjak saya datang kemari dua tahun yang lalu, saya sudah menjadi bos perusahaan. tetapi dulu saya hanya berkata bahwa saya memang sudah bekerja dikantoran dan tidak mengatakan jabatan saya." ujar Doni dan ia melanjutkan ucapan nya lagi.
"oh iya mana pak Tohir???" lalu Ibu Elis berkata menyuruh Dede untuk memanggil ayah nya.
"bapak mu panggil gih De."
__ADS_1
"memang nya bapak kemana bu??"
"coba cari di pos ronda. pasti bapak mu ada di situ."
"baik bu. Asri sama ibu dulu ya..." setelah Dede memberikan Asri kepada ibu nya, Dede segera beranjak dari rumah nya menuju pos ronda tempat bapak nya berada.
Kemudian Doni dan ibu Elis melanjutkan obrolan mereka tadi.
"jadi kamu sekarang sudah menjadi bos perusahaan Don?? wah ibu tak menyangka akan nasib mu yang sangat beruntung sekali itu."
"iya ibu, mungkin tanpa ada nya warisan yang dititipkan oleh ayah kandung saya kepada sekertaris nya dulu. mungkin saya masih menjadi seorang yang miskin dan tak bisa membalas budi baik keluarga ibu termasuk mendiang kakek Sarkim dan pak ustad Rojak." ibu Elis hanya tersenyum mendengar nya dan berkata.
"kamu sekarang sudah menjadi Pria Miskin Yang Tajir Don. meskipun kamu selalu merendah layak nya orang miskin yang tak mempunyai apa-apa, tetapi dibalik semua itu kamu memiliki harta kekayaan yang jarang sekali dimiliki orang lain. baru kali ini ibu menemukan orang yang seperti diri mu Don. meskipun kamu sudah menjadi bos dan memiliki kekayaan yang tidak sedikit, tetapi kamu masih mau datang ke rumah kumuh ini dan bersilaturahmi. biasa nya orang yang derajat nya sudah seperti dirimu ini, kebanyakan mereka mulai kehilangan jati diri nya yang memicu perilaku sombong dan congkak akan apa yang dimiliki nya itu. ditambah pasti orang itu akan melupakan orang yang dulu pernah berjasa kepada nya." ujar ibu Elis dan air mata nya sedikit menetes karena ia terharu akan Doni yang sangat baik kepada keluarga nya itu dan ucapan nya tersebut membuat nya sedikit terenyuh juga.
Doni yang mendengarkan ucapan dari ibu Elis pun merasa terenyuh juga dan ia lalu berkata.
"mungkin dulu, jika Doni tak bertemu dengan mendiang kakek Sarkim. mungkin jalan cerita hidup Doni tak akan seperti ini dan pasti sekarang hidup Doni masih tanpa arah dan tujuan. kebaikan yang diberikan mendiang kakek Sarkim dulu untuk menginap di rumah ini, membuat semangat Doni yang dulu nya sudah redup malah makin bersemangat lagi dalam menjalani hidup. di samping itu, pak Ustad Rojak pun telah membantu kesusahan Doni pada masa yang telah lalu itu." ujar Doni sedikit menunduk dan ia lalu mengelap air mata nya yang sedikit menetes di pipi nya karena ia sedih menceritakan hal yang sudah terjadi dan telah berlalu dalam
hidup nya itu.
Ibu Elis pun terenyuh mendengar ucapan Doni tersebut dan kemudian Doni menyudahi kesedihan nya itu dan menatap ibu Elis yang masih duduk memangku anak kedua nya itu. lalu Doni berkata kepada ibu Elis akan pekerjaan pak Tohir yang sekarang ini sedang dilakoni nya. kemudian ibu Elis menjawab nya bahwa sekarang pak Tohir hanya menjadi tukang ojek saja dan berkata bahwa uang yang dulu pernah Doni berikan kepada keluarga ibu Elis itu, separuh nya dipakai untuk membeli motor bekas yang masih bagus. Doni hanya manggut-manggut mengerti dan ibu Elis pun berkata juga bahwa modal warung ketoprak yang ada di depan rumah nya itu, hasil dari uang yang diberikan Doni dulu dan Doni tersenyum karena ikut senang akan uang yang pernah ia berikan kepada keluarga ibu Elis itu ada manfaat nya sampai sekarang.
__ADS_1
Kemudian mereka menyudahi obrolan nya dulu dan mulai mencicipi martabak yang Doni beli itu. sembari menunggu kedatangan pak Tohir dan Dede, kedua nya saling berbincang lagi dan hanya sekedar curhat kecil-kecilan di antara kedua nya dan sesekali Doni bercanda dengan Asri yang masih terlihat antara takut dan malu terhadap Doni.