KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
PERTEMUAN SINGKAT


__ADS_3

ANAK Gadis itu menatap wajah ibu Susi dengan tatapan mata yang sayu dan kemudian, ia berkata kepada ibu Susi Dosen nya itu.


"maaf bu, akhir-akhir ini saya kurang fokus belajar. nenek saya sedang sakit dan ibu saya kesusahan bekerja untuk mencari uang karena biaya berobat nenek agak mahal. waktu belajar saya menjadi agak terganggu karena waktu belajar saya, dipergunakan untuk membantu ibu saya bekerja." ucap Dona dengan jujur dan mata nya sudah lembab oleh air mata.


Ibu Susi menatap wajah Dona dengan raut wajah yang kasihan dan Dosen cantik itu segera berkata kepada Dona.


"oh... jadi karena itu sebab nilai mata pelajaran mu menurun. memang nya berapa biaya berobat nenek mu yang sakit itu nak...???" anak gadis itu awal nya enggan menjawab pertanyaan Dosen nya itu.


Tetapi ia tak enak hati jika ia harus diam dan tak menjawab pertanyaan dari guru nya itu. dengan berat hati Dona menjawab pertanyaan itu dengan nada parau dan kepala nya menunduk.


"biaya berobat itu sekitar satu juta setengah bu." ucap Dona dan kepala ibu Susi hanya manggut-manggut dan lalu ia membuka tas nya.


Ia mengambil dompet nya dan membuka isi dompet tersebut. Dona yang masih menunduk segera mengangkat kepala setelah ibu Susi berkata kepada Dona.


"ini ibu ada rezeki buat biaya berobat nenek kamu nak. ambilah..."


ucapan tersebut membuat Dona semakin enggan menerima nya dan berkata.


"tidak perlu bu. ibu saya pasti sudah mendapatkan nya dari meminjam uang kepada tetangga." ucap Dona beralasan.

__ADS_1


Ibu Susi yang jarang tersenyum itu kini tersenyum kepada Dona dan berkata.


"yasudah kalau begitu pakai saja uang ini untuk bayar utang ibu kamu itu. ambilah ini nak, ibu iklas kok dan tak perlu kamu ganti." ujar ibu Susi dengan ucapan yang santai.


Dona menatap uang yang ada di tangan ibu Dona. uang berwarna merah pecahan seratus ribuan itu menumpuk lumayan tebal dan sudah disodorkan kepada Dona. anak gadis itu menatap ibu Susi dan bertanya.


"saya jadi enggak enak hati bu."


"sudah ambil saja nak. anggap saja ibu sedekah kepada mu. sebagai anak yang terlahir yatim, ibu juga merasakan perasaan sedih yang di alami kamu saat ini juga nak." ucap ibu Susi yang sudah tahu latar belakang Dona. anak gadis itu hanya mengangguk dan menerima uang itu seraya berkata berterima kasih sebanyak-banyak nya kepada ibu Susi.


Dosen yang terbilang judes itu ternyata memiliki sisi kepribadian yang baik dan peduli terhadap apa yang sedang di alami oleh Dona saat itu. anak gadis itu lalu pamit kepada ibu Susi dan kemudian ia pulang menuju rumah nya dengan perasaan hati yang tidak risau seperti sebelum nya.


Doni sudah berada di dalam masjid itu bersama ustad Rojak dan pak Tohir. ketiga nya sedang duduk bersila menunggu semua orang-orang yang akan ikut menshalati jenazah kakek Sarkim masuk semua nya. setelah dirasa semua nya masuk dan duduk bersila di lantai karpet hijau masjid tersebut, pak ustad Rojak langsung bangun dan berjalan menuju depan keranda mayat. ia lalu menghadap kepada para jamaah yang akan menjadi makmum shalat mayit itu dan mulai berceramah perihal tentang almarhum kakek Sarkim.


Terdengar pak ustad Rojak berkata agak lantang dan tidak memakai speaker.


"assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh..."


"wa'alaikum salam warahmatulahi wabarakatuh..." ucap para orang yang hadir di dalam masjid itu secara serempak.

__ADS_1


Lalu pak ustad Rojak mulai berceramah nya.


"terima kasih kepada semua orang yang sudah hadir di dalam masjid ini. saya sebagai perantara dari keluarga almarhum kakek Sarkim, turut berduka cita atas berpulang nya kakek Sarkim ke rahmatullah. beliau adalah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun dan meninggal dalam keadaan sakit yang diderita nya. beliau adalah orang yang bekerja sebagai marbot masjid ini dan beliau seringkali mengumandangkan adzan ketika diantara kita tidak ada yang sempat melakukan nya. saya harap diantara kalian semua yang pernah merasa di rugikan oleh tingkah laku almarhum semasa hidup nya, saya harap kalian iklas dan rela memaafkan atas kesalahan yang pernah di lakukan oleh almarhum semasa hidup nya kepada orang yang bersangkutan hadir disini. kemudian mari kita doakan almarhum kakek Sarkim semoga beliau tenang di alam sana, alfatihah..." lalu ustad Rojak membaca doa dan di ikuti oleh semua orang yang hadir di dalam masjid itu.


Doni pun ikut membaca doa tersebut dan pandangan mata nya sejak tadi menatap kosong ke arah keranda yang ditutupi kain hijau berlafaz arab itu. pikiran nya masih tertuju kepada masa ia bekerja membantu almarhum kakek Sarkim mengurus masjid tersebut. kenangan yang tak seberapa lama nya itu, masih membekas hangat di ingatan nya tentang kebaikan kakek Sarkim kepada nya.


Setelah semua nya membaca Doa, pak ustad Rojak segera berkata amin dan kemudian menyuruh para jamaah nya merapatkan barisan nya. Doni yang awal nya melamun itu sudah bangun dari duduk bersila nya bersama jamaah yang lain nya dan kini ikut menshalati jenazah kakek Sarkim sampai selesai.


Di satu sisi dan berada di pinggir jalanan trotoar, Dona sedang berjalan pulang menuju rumah nya. ia sengaja tak naik angkutan umum dan ingin berjalan saja dari tempat nya kuliah sampai menuju rumah nya. jarak tersebut lumayan jauh dan Dona tak peduli akan hal itu. kaki nya memang pegal dan memang Dona sengaja melakukan itu karena sudah lama sekali ia tak melangkahkan kaki nya berjalan jauh seperti itu. sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, diri nya selalu jalan kaki ketika berangkat sekolah sampai pulang sekolah menuju rumah nya.


Anak gadis itu sudah memasukan uang yang diberikan oleh ibu Susi ke dalam tas nya. uang yang diperkirakan sekitar dua juta rupiah itu tidak Dona apa-apakan. ia ingin memberikan nya kepada ibu nya langsung untuk biaya obat nenek nya yang kini sedang terbaring sakit. ketika diri nya berjalan jauh dan sebentar lagi sampai menuju gang kampung tempat rumah nya tinggal, ia melihat rombongan pengusung mayat sedang beriringan di seberang jalan trotoar menuju pemakaman umum yang letak nya tak jauh dari pinggir jalan itu.


Mata Dona menatap kepada pengusung tandu yang beriringan itu dan terlihat lelaki muda juga menatap nya. lelaki muda itu berada di belakang pengusung keranda dan ikut memanggul keranda mayat tersebut. lelaki muda itu yang ternyata adalah Doni dan ia sudah memakai masker nya lagi. perempuan muda yang ada di seberang jalan trotoar jalan itu pun sama telah memakai masker nya ketika pulang dari tempat kuliah nya sampai sekarang. Pertemuan Singkat mereka yang tak di sengaja untuk yang kedua kali nya itu, masing-masing hanya bisa memandang dari kejauhan karena keadaan mereka yang tidak tepat untuk saling bertanya perihal diri mereka masing-masing.


Doni segera ingat dan hapal dengan wajah perempuan muda yang berpakaian jas anak kuliahan itu. Dona pun sama hal nya dengan Doni, ia ingat wajah lelaki muda itu ketika diri nya pertama kali bertemu secara tak sengaja dan sampai kehilangan kartu pelajar nya.


Doni yang tadi nya ingin memanggil perempuan itu dan menghampiri nya untuk menyeberang, menjadi batal karena ia dalam posisi memanggul keranda mayat dan tak enak hati jika diri nya tidak ikut memakamkan jenazah orang yang sudah berjasa kepada nya.


Hanya tatapan mata saja dari kedua muda-mudi itu dan itu pun tak lama. Doni segera berlalu menuju pemakaman umum dan Dona juga sudah pergi beranjak menuju gang kampung tempat tinggal nya bersama ibu dan nenek nya.

__ADS_1


__ADS_2