
DI Rumah nya ibu Asih yang berada di kampung duren, terlihat ibu Asih sedang menyapu teras rumah nya dan ia sudah tak menangis seperti sebelum nya. mata nya memang sedikit terlihat memerah, tetapi ibu Asih tak menampakan kesedihan nya ketika ia saat itu di datangi oleh ibu Yanti yang tak lain tetangga rumah nya itu.
"permisi bu Asih,..."
"ouh ibu Yanti. iya ada apa ya?" tanya ibu Asih kepada ibu Yanti yang kini sudah naik ke teras rumah nya ibu Asih. lalu ibu Yanti menjawab pertanyaan dari ibu Asih barusan.
"saya mau tanya bu. apa benar pemuda yang nama nya Doni itu benar akan membuat rumah di lahan kebun yang sudah saya jual itu kepada nya?" pertanyaan ibu Yanti tadi membuat ibu Asih berkerut dahi tanda tak mengerti.
Lalu ibu Asih bertanya kepada ibu Yanti akan ucapan nya tadi.
"kata nya sih memang benar apa yang dikatakan den Doni itu. tetapi ibu Yanti tahu darimana akan den Doni akan membuat rumah di lahan kebun ibu itu dan kapan den Doni membeli lahan yang ibu Yanti jual itu???" pertanyaan tersebut langsung di jawab oleh ibu Yanti.
"waktu pagi tadi sekitar jam sembilan, pemuda yang bernama Doni itu datang bersama seorang notaris ke rumah saya. setelah tau maksud kedatangan mereka yang akan membeli tanah kebun itu, saya menjual nya. nak Doni tadi pun berkata bahwa ia akan membangun rumah di lahan kebun itu jika nanti ia akan menikah dengan anak ibu."
"benarkah bu? kok saya tak tahu akan hal tersebut ya?" ujar ibu Asih yang sedikit kaget juga mendengar pengakuan dari ibu Yanti tadi.
Di saat itu juga, Dona terlihat sedang berganti pakaian di dalam kamar nya. ia baru saja selesai mandi pagi nya yang sudah telat itu dan ia pun sudah tak berpenampilan seperti orang gila pada pagi sebelum nya. kantung mata nya memang masih membengkak karena dipakai menangis terus-menerus. tetapi hati dan perasaan nya sudah mulai tenang ketika Doni menjelaskan bahwa poto yang dikirim mbak Yuni hanyalah editan saja. Dona yang berada di dalam kamar nya yang kini sedang berdandan itu, mendengar ucapan dari obrolan ibu nya dan ibu Yanti diluar. Dona pada saat itu juga langsung berjalan menuju jendela kamar nya yang gordeng nya sudah dibuka.
Ia melihat dan mendengar apa yang dikatakan ibu Yanti itu kepada ibu nya.
"nasib Dona bagus sekali ya bu, bisa mendapatkan jodoh laki-laki yang kaya raya dan tampan pula. kalau saya masih semuda anak ibu, pasti saya merasa sangat iri. hehehe"
__ADS_1
"ahhh ibu Yanti ini bisa saja." ujar ibu Asih menepiskan candaan ibu Yanti tadi. Dona hanya tersenyum melihat hal itu sembari membatin.
"apa jadi nya jika peristiwa tadi ternyata benar-benar kenyataan. pasti pada saat ini juga aku sudah gila dan tak punya gairah untuk hidup lagi." ucap batin Dona mengenang kejadian pagi tadi.
Tak seberapa lama nya obrolan ibu Asih dan ibu Yanti itu selesai dan ibu Yanti pulang kembali ke rumah nya. ibu Asih hanya geleng-geleng kepala saja menatap kepergian ibu Yanti akan ucapan nya yang tadi. di saat ibu Asih mau masuk ke dalam rumah nya, mobil Doni tiba dan masuk ke dalam halaman rumah ibu Asih yang lumayan luas itu. ibu Asih memalingkan tubuh nya menatap ke arah mobil Doni berada dan Dona yang ada di kamar nya, segera keluar dan sedang menuju ke tempat ibu nya berada.
Setelah Dona sampai di dekat ibu nya, Doni keluar dari dalam mobil nya yang sudah terparkir itu dan membuat anak serta ibu itu tercengang. Doni dengan gontai nya berjalan mendekati teras rumah ibu Asih seraya tersenyum dengan raut wajah yang babak belur tak terlalu parah. Dona segera berlari mendekati Doni yang baru saja naik ke atas teras rumah ibu Asih. Dona langsung memeluk Doni dan ia menangis lagi dan ibu Asih segera mendekati kedua nya untuk menyuruh mereka masuk ke dalam rumah. setelah Doni masuk dengan dipapah oleh Dona dan ibu Asih, Doni duduk di kursi ruangan tamu rumah itu dan Dona memeluk Doni dengan erat sembari meneruskan tangisan nya.
Ibu Asih pun sudah meneteskan air mata nya walaupun tak sampai terisak-isak seperti Dona.
pada saat itu Doni mengusap rambut Dona dengan lembut sembari berkata.
"maafkan kau Dona. gara-gara aku yang tak tegas kepada si Yuni itu, kamu jadi merasakan akibat dari kebodohan ku ini. sekali lagi maafkan aku sayang, cuppp." ujar Doni dan ia lalu mencium kepala Dona dengan mesra nya. Dona masih menangis memeluk Doni dengan erat nya dan kedua nya sudah duduk di kursi. ibu Asih segera mengusap air mata nya dan bertanya kepada Doni akan luka nya itu.
"ini akibat perkelahian Doni dengan suami nya si Yuni itu bi."
"kok bisa den? apakah permasalahan aden itu berkaitan dengan suami nya perempuan pelakor itu???" Doni hanya menggelengkan kepala nya satu kali dan menjawab nya.
"suami nya tak tahu akan kebejatan istri nya itu dari masa mereka masih pacaran sampai menikah. Doni berkelahi dengan suami nya si Yuni itu, karena awal nya Doni yang salah ketika datang ke rumah mereka malah langsung mengamuk kepada pemilik rumah itu." ujar Doni mengakui kesalahan nya itu dan ibu Asih langsung berkata.
"tidak apa-apa den, justru kalau ada alasan nya kita mengamuk kepada seseorang itu. semua hal itu wajar-wajar saja dilakukan, yang penting jangan mengamuk tanpa ada alasan yang jelas."
__ADS_1
"iya bi." ujar Doni pendek dan Dona kini menengadahkan wajah nya ke arah Doni dan berkata.
"lalu kelakuan si wanita jalank itu sekarang bagaimana sayang? apa ia harus di tuntut ke pengadilan?" Doni yang mendengar ucapan Dona tadi, menatap ibu Asih dan ibu Asih hanya angkat bahu saja tanda tak tahu.
Lalu Doni mengusap air mata yang membasahi kedua bawah kelopak mata Dona sembari berkata.
"dia sedang hamil, aku tak tega jika harus menuntut nya ke pengadilan. permasalahan ku tentang kelakuan bejat nya itu, cukup suami nya saja yang menindaklanjuti nya nanti. tugas ku sekarang hanya akan memecat nya saja nanti melalui pak Yaris." ujar Doni menjelaskan nya dan Dona pun hanya menuruti apa kata Doni tadi tanpa harus membantah nya. lalu ibu Asih yang sejak tadi mendengarkan ucapan Dona dan Doni tadi, segera berkata.
"yang penting Permasalahan ini sudah diketahui titik temu nya. ibu pernah bilang kepada kalian berdua dulu, setiap hubungan apapun itu jenis nya. pasti ada saja yang nama nya masalah dan hambatan, maka dari itu jadikanlah permasalahan ini untuk kalian jadikan pelajaran jika nanti kalian menemukan permasalahan yang berbeda dari yang sekarang sudah Terselesaikan masalah nya. ibu harap kalian berdua awet-awet dalam berhubungan sampai nanti kalian resmi menikah."
"baik ibu." ujar Dona dan Doni menimpali nya sembari tersenyum menatap ibu Asih.
"iya bi, saya pasti akan menjaga cinta suci hubungan Doni dan Dona sampai menikah nanti."
"amin." ujar ibu Asih dan Dona. kini ibu Asih bangun dari duduk nya dan berkata akan menyiapkan air hangat untuk kompresan di wajah Doni yang memar membiru itu. Doni hanya mengangguk kepada ibu Asih dan Dona langsung berkata kepada Doni.
"benarkah kamu sudah membeli tanah lahan kebun milik ibu Yanti dan pak Sarto itu sayang?" Doni hanya mengangguk dan Dona lanjut bertanya lagi.
"berapa harga nya sayang?"
"sekitar tujuh miliyar rupiah sayang."
__ADS_1
"apa?! kenapa jadi semakin mahal sayang?!" tanya Dona kaget dan Doni berkata menjawab nya.
"nanti aku ceritakan sayang. aku mau pipis dulu, kamar mandi nya dimana sayang?." ujar Doni bertanya dan Dona berkata bahwa kamar mandi rumah nya berada di dapur. Doni lalu bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju arah dapur rumah itu. Dona masih duduk di kursi sambil melihat Doni yang pergi ke arah dapur rumah nya untuk buang air kecil dahulu.