KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
RASA PERHATIAN


__ADS_3

SETELAH Kedua nya selesai makan dan minum, waktu sudah jam sembilan malam dan saat nya mereka pulang. mereka masih duduk di meja makan itu dan belum beranjak karena mereka masih menunggu pesanan nasi bungkus untuk di bawa pulang. Doni sengaja memesan nya untuk ibu nya Dona dan Dona tak keberatan akan usul Doni tersebut. disela menunggu, mereka mulai berbincang-bincang.


"habis ini kita akan kemana sayang?" tanya Doni kepada Dona.


"pulang saja sayang. memang nya kita mau kemana lagi malam-malam begini???" Doni hanya angkat bahu saja tanda tak tahu dan Dona berkata.


"besok kita kan masuk kerja lagi sayang. jangan pulang terlalu larut malam, kamu harus jaga kesehatan sayang." ucapan dari Dona tersebut membuat Doni semakin sayang dan cinta kepada Dona.


Doni lalu mengusap rambut Dona yang halus itu dengan lembut dan berkata.


"terima kasih atas Rasa Perhatian mu kepada ku sayang. kamu adalah sosok yang selama ini aku harapkan setelah aku kehilangan seorang ayah dan ibu asuh ku yaitu ibu mu." ucapan Doni tersebut hanya membuat Dona tersenyum manis sembari berkata.


"sama-sama sayang. aku pun sebenar nya mengharapkan seorang pendamping seperti dirimu sayang. walaupun harapan ku tak mudah juga untuk mendapatkan nya." ucapan Dona tersebut membuat Doni segera mendekatkan wajah nya kepada Dona dan Dona masih diam menatap mata Dona lekat-lekat bagai ingin menembus hati sanubari gadis cantik itu.


Bagai dunia milik berdua, mereka tak sadar bahwa kedua nya sedang berada di tempat umum dan ketika mereka berciuman mesra, ada suara lelaki membuyarkan kemesraan kedua nya.


"permisi..." Dona dan Doni segera melepas ciuman mereka dan Doni hanya tersenyum malu kepada karyawan lelaki yang ternyata sudah membawakan bungkusan nasi padang yang Doni pesan sebelum nya. sedangkan Dona hanya merunduk malu dan setelah Doni membayar semua pesanan nya, Doni dan Dona segera keluar dari restorant padang tersebut dengan perasaan hati yang masih campur aduk antara malu dan risih.


Kepergian mereka diperhatikan terus oleh para karyawan yang sejak tadi sesekali memperhatikan Dona dan Doni yang berjalan menuju pintu keluar restorant itu. setelah mereka berada di dalam mobil, Doni hanya tertawa geli ketika Dona memarahi Doni.


"kamu sih! kalau mau berciuman harus tahu tempat juga! huh!" ucap Dona ketus sembari tangan nya bersidekap di dada nya.


"hehehe. maaf sayang, aku tergoda dengan bibir seksi mu itu." Dona masih diam dan menatap lurus ke arah depan.

__ADS_1


"sekarang boleh kan kita meneruskan ciuman mesra kita yang tertunda tadi sayang?" ucapan Doni tersebut tak di balas oleh Dona dan Doni tak banyak menuntut dan ia segera mengemudikan mobil nya kembali untuk pulang menuju rumah nya Dona.


Diperjalanan, Doni bertanya kepada Dona lagi.


"ketika kita pulang dari mall kemarin malam lalu, kamu lihat kotak cincin berlian yang aku pilih itu tidak? apakah ada dirumah mu sayang???" Dona lalu menatap ke arah Doni dan menjawab nya.


"ada di kamar ku, aku simpan rapat-rapat agar jangan sampai jatuh ke tangan si wanita jalank itu." Doni berkerut dahi menatap Dona dan bertanya dengan wanita jalank yang Dona katakan tadi.


"si Yuni itu adalah wanita jalank yang aku maksud sayang! aku takut kamu tergoda akan kecantikan dan bodi seksi si wanita jalank itu dan nanti malah memberikan cincin tersebut kepada nya jika ia nanti datang lagi ke kantor mu!"


"tidak mungkin lah sayang. mana mau dia merayu ku, sedangkan ia sudah bersuami dan sedang hamil muda. mau cari mati kali dia jika nekat menggoda ku dan diketahui oleh suami nya." ujar Doni menjelaskan nya dan Dona berkata membantah ucapan Doni.


"yang nama nya wanita jalank itu tak kenal takut atau pun mati sayang! orang macam itu tak akan puas sampai apa yang ia inginkan menjadi milik nya seutuh nya."


"yah anggap saja begitu!" ucap Dona masih ketus dan Doni lanjut fokus menyetir mobil nya sembari merenungi ucapan dari Dona sebelum nya.


Perjalanan pulang mereka kini sudah memasuki kampung duren dan keadaan malam itu sudah sepi sekali. padahal jam baru saja menunjukan pukul sepuluh malam dan Dona berkata kepada Doni bahwa sudah hal yang biasa di kampung nya itu selalu sepi jika sudah jam sepuluh malam ke atas. Doni hanya manggut-manggut saja memahami ucapan Dona dan kini mobil Doni sudah sampai di depan rumah nya ibu Asih. kedua nya turun dari mobil dan saat itu juga ibu Asih membuka pintu rumah nya dan menatap Dona serta Doni yang menuju rumah itu.


Setelah Dona mengucap salam kepada ibu nya, Doni salim kepada ibu Asih seraya berkata.


"bi saya pamit pulang lagi ya. ini ada oleh-oleh nasi padang masih hangat bi." lalu Doni memberikan bungkusan nasi padang itu kepada bibi Asih dan bibi Asih terlihat nampak senang sekali.


"wah terima kasih den. sudah lama sekali ibu tak makan nasi padang." Dona yang melihat ibu nya berkata begitu, menjadi sedikit terharu.

__ADS_1


"sama-sama bi. Dona pun lahap sekali makan di restorant padang itu." ucapan Doni tersebut membuat ibu Asih tersenyum menatap Dona. yang di tatap hanya cuek saja tak membantah ucapan Doni barusan. kemudian Doni bertanya kepada ibu Asih.


"bi, kebun pisang di sebelah rumah ini milik bibi bukan?"


"memang nya kenapa den??" tanya ibu Asih sembari menatap kebun pisang agak luas di samping rumah nya. Dona sudah bisa menebak bahwa Doni bertanya begitu, pasti ada sesuatu yang belum ia ketahui tujuan nya.


Lalu Doni menjawab pertanyaan dari bibi Asih tadi.


"begini bi. sebelum saya nanti menikah dengan Dona, Doni ingin punya rumah yang sekira nya dekat dengan bibi. jadi Doni bertanya barusan, jika lahan itu bukan punya bibi, Doni mau membeli nya dari yang punya tanah kebun itu."


"untuk apa kamu membeli kebun itu??" tanya Dona penasaran. ibu Asih yang mendengar ucapan Doni barusan segera menjawab nya.


"tanah kebun itu milik rumah disebelah kebun itu den. tapi ibu sanksi jika aden mencoba menawar nya untuk aden beli."


"memang nya sanksi kenapa bi???" tanya Doni penasaran. lalu Dona yang menjawab rasa penasaran dari Doni itu.


"pemilik kebun itu agak mata duitan. pasti ia akan mematok harga tinggi, apalagi yang menawar nya orang berduit kayak kamu sayang."


"benar apa yang dikatakan Dona den. pernah ada yang menawari nya dulu dari orang yang berduit, tetapi orang itu tak jadi membeli nya karena mematok harga yang tidak wajar."


"begitu kah bi??" tanya Doni dan ibu Asih mengangguk membenarkan.


"sudah larut malam sayang. kamu pulang dulu gih, urusan itu di kebelakangkan dulu saja." ucap Dona dan kemudian Doni pamit kepada Dona dan ibu nya untuk kembali ke ruko kantor nya tempat ia tinggal selama ini. setelah Doni masuk ke dalam mobil nya, ia melambaikan tangan kepada ibu Asih dan Dona dan kedua nya pun membalas lambaian tangan Doni.

__ADS_1


Setelah mobil Doni berlalu dari hadapan mereka, kini kedua nya masuk ke dalam rumah nya dan Doni masih dalam perjalanan menuju pulang ke ruko pinangsia. dalam hati Doni, mulai muncul tentang kekhawatiran nya akan pacar nya itu jika nanti bertemu dengan Wawan. sipat jelek dari Wawan yang tak di sukai oleh Doni adalah sipat Wawan yang tak boleh sekali pun melihat wanita cantik siapa pun itu, pasti ia akan nekat mencoba mendekati nya dan hal itu yang Doni khawatirkan jika Wawan bertemu dengan Dona di kantor CV.Group Perkasa besok.


__ADS_2