
SORE Hari yang sejuk karena semilir angin sore itu, membuat Doni iseng-iseng membuka jendela ruangan kerja nya untuk menghirup udara segar. tak lama setelah itu ia melamun di ambang jendela itu sembari menatap ke arah kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan umum. tak lama kemudian, lamunan nya sedikit tergugah dengan suara bell kantor yang berbunyi. Doni segera menutup jendela kantor nya itu dan segera membereskan pekerjaan nya. waktu sudah jam lima sore dan sudah saat nya para karyawan kantor selesai bekerja dan setelah itu masing-masing pulang ke tempat tinggal nya.
Setelah Doni membereskan semua pekerjaan nya, ia lalu keluar dari dalam ruangan kerja nya dan berpas-pasan dengan pak Yaris yang sudah keluar dari dalam ruangan kerja nya juga. lalu pak Yaris bertanya kepada Doni tentang dimana tempat ia membeli tanah lahan tersebut.
"ayo kita cek tempat lahan tanah yang akan kamu jadikan rumah mu itu nak. bapak tak tahu tempat nya dimana." ujar pak Yaris dan Doni menjawab nya.
"pak Yaris pergi bersama Dona saja dulu ya, saya mau pergi ke rumah nya orang yang akan dipekerjakan sebagai OB di kantor ini."
"oh begitu. baiklah kalau begitu, mana nak Dona? apa ia masih berada di dalam ruangan nya?" tanya pak Yaris dan Doni pun berkata tak tahu. lalu kedua nya mendekati pintu masuk ruangan kerja Dona dan Avril. pada saat itu juga, pintu ruangan itu terbuka lebar dan nampaklah Avril dan Dona yang sudah mau pergi keluar dari dalam ruangan itu.
Kemudian Doni berkata kepada Dona.
"kamu pulang di antar pak Yaris dulu ya sayang. aku mau pergi ke rumah nya orang yang akan bekerja sebagai OB di kantor ini."
"ya sudah tak apa-apa sayang." balas Dona dan Doni berkata lagi.
"oh iya. nanti kasih tahu tempat lahan tanah kebun yang aku beli itu ya sayang. pak Yaris ingin Mengecek tempat itu kata nya sayang."
"iya sayang." ujar Dona menuruti ucapan Doni dan kini Dona dan Avril sudah duluan turun ke lantai satu bersama pak Yaris. sedangkan Doni sedang naik dulu ke lantai tiga untuk mandi dan setelah itu ia akan berangkat ke kampung rambutan ke tempat rumah almarhum kakek Sarkim berada. ia akan mempekerjakan suami nya ibu Elis yang bernama pak Tohir itu sebagai pengganti Wawan yang bekerja menjadi OB di kantor CV.Group Perkasa.
__ADS_1
Sedangkan pak Yaris sudah mengemudikan mobil nya menuju kampung duren bersama Dona di dalam mobil milik pak Yaris. kemudian Avril di antar pulang oleh Wawan dengan menaiki motor matic nya Wawan. di dalam mobil nya pak Yaris, Dona dan pak Yaris mulai mengobrol dan di mulai dari pak Yaris.
"masih jauh kah rumah mu itu nak Dona???" tanya pak Yaris dan Dona menjawab nya.
"sebentar lagi sampai kok pak. di depan gang jalan itu belok saja ke kiri, kampung duren berada di jalan masuk gang kampung itu."
"ouh begitu, baiklah." ujar pak Yaris dan tak lama kemudian ia membelokan mobil nya ke arah kampung duren tempat Doni membeli tanah lahan kebun berada.
Setiba nya mobil yang mereka tumpangi di jalan kampung depan rumah ibu Asih, mobil tersebut terhenti. kemudian mobil pak Yaris masuk ke dalam halaman rumah ibu Asih untuk berparkir. setelah itu Dona dan pak Yaris keluar dari dalam mobil itu. ibu Asih yang sedang berada di dalam rumah itu, segera keluar karena mendengar suara mobil terhenti di depan rumah nya. ketika ia membuka pintu rumah nya, nampak Dona dan pak Yaris yang sudah menaiki teras rumah itu dan ibu Asih langsung menyambut pak Yaris dengan ramah.
"wah pak Yaris apa kabar? sudah lama sekali kita tak bertemu." lalu ibu Asih bersalaman dengan pak Yaris. Dona hanya tersenyum menatap dua orang tua itu yang dulu nya sudah sama-sama saling kenal.
Lalu pak Yaris menjawab pertanyaan ibu Asih tadi.
"ah pak Yaris ini bisa saja." ujar ibu Asih tak enak hati karena sanjungan dari pak Yaris tadi. kemudian ibu Asih mengajak pak Yaris masuk ke dalam rumah nya dan pak Yaris menuruti nya. Dona berkata kepada ibu nya dan pak Yaris untuk permisi dulu karena ia ingin segera mandi sore.
Setelah kepergian Dona ke dalam kamar nya, pak Yaris duduk di kursi tamu rumah itu dan di temani ibu Asih yang duduk di kursi depan nya. lalu ibu Asih bertanya kepada pak Yaris akan maksud kedatangan nya itu dan dijawab oleh pak Yaris.
"saya datang kemari sebenar nya ingin melihat Lahan kebun yang sudah nak Doni beli itu. kata nak Doni lahan kebun itu Untuk Membangun Rumah nya di kampung ini, apa benar begitu bu???"
__ADS_1
"menurut pengakuan Dona memang begitu pak. den Doni berkata begitu kepada Dona dan menjelaskan alasan nya ingin membangun rumah yang seperti apa."
"hmm begitu. memang nya nak Doni ingin membuat rumah yang seperti apa bu???"
"kata nya ia ingin membuat rumah yang sama persis dengan rumah nya dahulu. bapak pasti masih ingat pola dan susunan rumah mendiang pak Randi dan ibu Dewi."
"iya samar-samar saya masih ingat bu. lalu mengapa nak Doni ingin membuat model rumah yang seperti itu???"" ujar pak Yaris penasaran dan ibu Asih berkata lagi.
"dia berkata di rumah ayah nya dulu, menyimpan kenangan yang sampai sekarang masih ia rindukan. ia berkata juga ingin membuat rumah di samping rumah ini karena ia ingin dekat dengan saya. pak Yaris pun tahu bahwa saya adalah ibu Asuh nya den Doni dari masih bayi sampai remaja. ia berkata tak mau jauh lagi terhadap saya dan apalagi sekarang ia sudah berpacaran dengan Dona dan suatu saat pasti akan segera menikah" pak Yaris yang mendengar hal itu hanya manggut-manggut saja dan kemudian berkata.
"jadi begitu alasan nya. lalu dimana lahan kebun itu berada? saya ingin melihat nya."
"baik pak. mari saya antar." ujar ibu Asih dan kini ia bangun dari duduk nya bersama pak Yaris menuju luar rumah nya.
Setelah kedua nya tiba di halaman rumah ibu Asih, ibu Asih menunjuk ke arah sebuah kebun pisang yang luas disamping rumah ibu Asih dan pak Yaris lalu berjalan mendekati area lahan kebun pisang itu. setelah pak Yaris puas melihat luas dan lebar tanah kebun pisang itu, kini pak Yaris kembali lagi kepada ibu Asih dan bertanya.
"dibeli harga berapa tanah lahan ini oleh nak Doni bu??"
"kalau tak salah, sekitar tujuh miliyar rupiah pak."
__ADS_1
"wah mahal sekali. mengapa nak Doni sampai nekat membeli nya?" tanya pak Yaris berkerut dahi dan kaget juga. lalu ibu Asih menjawab rasa kaget dari pak Yaris tadi.
"seperti yang sudah saya katakan tadi pak. den Doni tetap memaksa ingin membangun rumah di samping rumah ini karena ia ingin dekat dengan saya jika nanti ia sudah menikah dengan Dona. maka nya ia sudah tak memikirkan harga nya yang selangit itu." pak Yaris yang mendengar alasan dari Doni yang disampaikan lewat mulut ibu Asih itu, hanya bisa pasrah akan rencana Doni yang membeli tanah dengan harga mahal tanpa sepertujuan nya itu. ia tak mau memikirkan untuk mengecam dan menasehati Doni lagi karena itu sudah hak nya Doni untuk mengelola uang nya sendiri. pak Yaris juga sudah ingat bahwa ia sudah lepas tangan akan urusan harta kepemilikan milik mendiang pak Randi yang kini sudah menjadi milik Doni seratus persen. setelah obrolan itu di rasa cukup, pak Yaris pamit lagi untuk pulang ke rumah nya kepada ibu Asih karena hari sudah semakin sore. ibu Asih mengizinkan nya dan kini pak Yaris sudah masuk ke dalam mobil nya dan mengemudikan nya menuju rumah nya berada. sedangkan ibu Asih, ia sudah masuk lagi ke dalam rumah nya untuk segera menutup tirai jendela rumah nya karena sore hari itu sudah mulai berganti dengan gelap nya malam.