
KENDARAAN Yang Doni dan pak Ilham tumpangi kini sudah berbelok menuju kampung duren tempat penjual tanah lahan yang dijual itu berada. Wawan sudah sejak tadi sampai di depan rumah ibu Asih dan ia sengaja menunggu di situ karena perintah dari Avril. di kejauhan jalan kampung itu, terlihat Avril berjalan menuju rumah ibu Asih berada dan di saat itu juga mobil Doni tiba di depan rumah ibu Asih. sebelum nya Dona yang mendengar motor Wawan tiba di depan rumah nya, ia segera beranjak dari ranjang nya dan mengintip di balik tirai jendela kamar nya.
Ia tak mengerti kenapa Wawan yang datang dan bukan Doni yang sudah berjanji kepada nya akan datang pada pagi itu. tak lama Avril dan mobil Doni datang, mata Dona langsung terbelalak dan ia langsung keluar kamar nya dan membuka kunci kamar yang awal nya terkunci dari dalam. Dona bergegas menuju pintu rumah nya dan lanngsung mengunci pintu itu dari dalam. setelah itu ia bergegas lagi masuk ke dalam kamar nya untuk mengurung diri lagi dan lanjut mengintip di balik gordeng jendela kamar nya. Doni dan pak Ilham kini sudah turun dari dalam mobil yang mereka tumpangi itu dan Avril kini sudah berada di dekat Wawan yang duduk di jok motor nya.
Wawan langsung berkata kepada Avril untuk mengenalkan diri nya kepada ayah nya yang kini berjalan mendekati nya bersama Doni. di saat itu juga Avril salim kepada pak Ilham. Doni hanya tersenyum saja ketika pak Ilham berkata tanya kepada Wawan setelah Avril salim kepada nya.
"siapa ini nak?"
"pacar Wawan dong pak. cantik kan?"
"oalah pacar mu nak? sudah besar kau rupa nya ya!? ckckck." ujar pak Ilham berdecak kagum menatap Avril dan Wawan bergantian. Avril sudah mengenalkan nama nya kepada pak Ilham dan pak Ilham lalu bertanya kepada Avril.
"kamu cantik-cantik kok kenapa bisa suka sama anak bapak yang jelek ini?" Avril yang di tanya seperti itu hanya menatap Wawan dan Wawan hanya berkata kepada Avril untuk menjawab nya. Doni sejak tadi melihat ke arah depan rumah ibu Asih yang terlihat sepi karena tirai jendela depan rumah nya masih tertutup dan lampu depan rumah nya masih menyala.
Avril yang di tanya oleh pak Ilham tadi, segera menjawab nya.
"nama nya orang sudah cinta pak, mau sejelek seperti apapun orang nya. pasti tak akan pernah memandang fisik dan itu yang kini terjadi kepada saya dan mas Wawan ini." pak Ilham yang mendengar ucapan dari Avril tersebut, tersenyum menatap Avril sambil manggut-manggut paham. Wawan dan Doni hanya tersenyum saja ketika pak Ilham berkata lagi kepada Avril.
"bapak merestui hubungan kalian, kalau perlu sampai menikah pun bapak restui. ingat ya, kalian belum resmi menikah dan jangan sampai melakukan hubungan terlarang." ucapan pak Ilham itu langsung di jawab oleh Wawan.
"kalau sekedar berciuman tak apa kan pak?" seketika itu saja kepala pak ilham mundur karena kaget dan menatap Wawan sembari berkata.
__ADS_1
"tak boleh! Dosa itu nama nya tong!"
"ah bapak saja sama ibu melakukan hal itu tak Dosa toh!" ujar Wawan murung dan segera di timpali oleh ayah nya.
"karena bapak dan ibu mu sudah resmi menikah! kalau tak begitu, mana mungkin bapak dan ibu mu memiliki anak yang bodoh kayak kamu ini!" ucap pak Ilham dengan tegas dan membuat Avril dan Doni tertawa mengikik geli menertawakan Wawan yang cemberut menatap ayah nya.
Dona yang berada di dalam kamar nya dan sejak tadi mengintip apa yang terjadi di halaman rumah nya itu, ikut tertawa mengikik juga walaupun ia membungkam mulut nya agar suara tawa nya tak sampai terdengar keluar. setelah obrolan singkat di depan rumah nya ibu Asih itu selesai, Wawan dan Avril pamit kepada pak Ilham dan Doni untuk pergi dahulu mengantar Avril pulang ke rumah orang tua nya. Doni dan pak Ilham mengizinkan nya dan lagi pula pak ilham saja sudah cukup sebenar nya untuk menjadi saksi. setelah kepergian Wawan yang membonceng Avril memakai motor matic nya, kini Doni berkata kepada pak Ilham untuk menunggu nya sebentar dan Doni kini beranjak naik ke teras rumah ibu Asih untuk mengetuk pintu rumah itu.
Ucapan salam dan ketukan pintu yang Doni lakukan secara berkali-kali itu tetap saja tak mendapat sambutan dari dalam. Doni semakin bingung apa yang sebenar nya sedang terjadi terhadap ibu Asih dan Dona. ia lalu mengintip ke arah kaca depan rumah itu dan sama sekali tak melihat seorang pun di dalam. Dona yang masih berada di dalam kamar nya, masih diam tak membuka pintu rumah nya dan ia seperti nya sengaja melakukan hal itu. Doni lalu memanggil nama nya secara berkali-kali dan membuat Dona segera menutup telinga nya memakai bantal. Doni akhir nya menyerah dan ia kembali lagi kepada pak Ilham yang sejak tadi berdiri menatap area kebun pisang yang lumayan luas dan lebar.
Setelah Doni mendekati pak Ilham, ia lalu di tanya oleh orang tua tersebut.
"pemilik rumah itu sedang tidak ada di rumah kali Don."
Ketika Doni masuk ke dalam mobil nya dan mau keluar lagi setelah mengambil koper, ia tak sengaja menatap ke arah jendela kamar rumah ibu Asih dan di saat itu juga Doni melihat wajah Dona sepintas karena gordeng jendela kamar itu tertutup kembali. Doni dalan hati membatin dan dahi nya berkerut dahi.
"bukankah tadi wajah Dona? mengapa wajah nya terlihat pucat seperti itu?" Doni yang awal nya akan mendekati jendela yang terbuka sedikit tadi, menjadi tak jadi karena pak Ilham memanggil nya dari arah depan rumah pak Sarto dan Doni kini berjalan menuju rumah pak Sarto dan mengurungkan niat nya untuk mendekati jendela kamar yang tersingkap tadi.
Kini Doni sudah memasuki halaman rumah pak Sarto bersama pak Ilham dan segera di sambut oleh pemilik rumah. pak Sarto kenal dengan pak Ilham dan begitu pun ibu Yanti juga mengenal nya. tetapi terhadap Doni, sepasang suami istri pemilik rumah itu belum mengenali nya dan Doni segera mengenalkan nama nya dan bekerja sebagai pemilik suatu perusahaan.
setelah mereka duduk di ruang tamu rumah itu, pak Ilham mulai berkata menjelaskan maksud tujuan nya.
__ADS_1
"kedatangan saya kemari bersama nak Doni ini, adalah sebagai perantara untuk membeli lahan kebun yang dijual oleh pak Sarto dan ibu Yanti ini." sepasang suami istri itu manggut-manggut dan kemudian pak Sarto berkata.
"apakah nak Doni ini sanggup membeli lahan yang sudah saya targetkan harga nya?" pak Ilham menatap Doni dan Doni berkata.
"memang nya berapa harga yang bapak target kan itu?" pak Sarto lalu menatap ibu Yanti dan kemudian ibu Yanti mengangguk. kemudian pak Sarto menatap Doni dan pak Ilham secara bergantian seraya berkata.
"saya mematok harga sekitar tujuh miliyar rupiah saja."
"hah?! apakah naik lagi harga nya pak??? apakah bisa di tawar???" tanya pak Ilham sedikit kaget dan pak Sarto hanya geleng-geleng kepala tanda tak membolehkan. pak Ilham masih kaget akan nominal uang yang tak sedikit itu, karena dulu ketika pak Ilham datang ke rumah itu bersama orang yang menyewa jasa nya. harga nya masih sekitar lima miliyar rupiah dan orang yang ingin membeli nya menjadi tak sanggup karena kemahalan.
Doni yang mendengar nominal angka segitu hanya biasa saja dan kemudian ia meletakan koper yang ia bawa di meja ruang tamu itu. semua mata menatap ke arah koper yang mau Doni buka, tetapi sebelum Doni membuka nya. ia berkata tanya kepada sepasang suami istri itu.
"apakah ada sertifikat resmi kebun itu?"
"ada nak, sebentar saya ambilkan dulu." ujar ibu Yanti dan pak Sarto masih diam memperhatikan Doni yang memegang koper yang sudah jelas isi nya uang. setelah sertifikat di simpan di meja, kini Doni berkata bersedia membeli harga tanah itu sekitar tujuh miliyar dan membuat ketiga orang itu tercengang kaget menatap Doni. pak Ilham lalu bertanya kepada Doni dengan pertanyaan meragukan.
"apa kamu yakin akan membeli nya Don??"
"seratus persen saya yakin pak. meskipun tak bisa ditawar pun, saya pasti tetap akan membeli nya." ujar Doni dan kini ia membuka koper yang isi nya uang gepokan pecahan seratus ribuan bertumpuk dan tertata rapih. semua mata tercengang ketika Doni menghitung semua uang yang ada di dalam koper itu. uang gepokan yang satu gepok nya bernilai sepuluh juta itu, semua nya telah di hitung oleh Doni sampai tujuh miliyar pas dan tidak kurang maupun lebih. isi koper lumayan besar itu masih menyisakan beberapa tumpukan gepokan uang dan Doni langsung menjulurkan lengan nya kepada pak Sarto dan ibu Yanti untuk menyetujui jual beli tanah lahan itu.
Pak Ilham yang menjadi saksi dari jual beli tanah itu sudah melihat sertifikat resmi lahan kebun yang luas nya hampir beberapa meter hektar itu. setelah di setujui olah pak Ilham, ia berkata akan merubah pemilik nama sertifikat lahan itu menjadi nama Doni nanti dan di setujui oleh para pelaku jual beli tersebut. kini Doni, pak Ilham, pak Sarto dan ibu Yanti, sudah selesai melakukan Transaksi jual beli tanah lahan itu yang kini sudah Resmi menjadi milik Doni seratus persen tanpa ada kendala lagi dari pihak manapun saingan nya.
__ADS_1
...*...
...* *...