
SESUDAH Avril menelepon dengan kakak nya itu, ia lalu menatap wajah orang yang ada di situ sembari berkata.
"aku Pamit Pulang dahulu ya, aku tak enak hati kepada kakak ku." ujar Avril dan Dona berkata.
"iya enggak apa-apa Vril, lagipula sudah malam dan hujan sudah mereda juga." ujar Dona dan kemudian Doni berkata.
"yasudah kalau begitu kami pun pamit pulang juga, yuk Wan." ucap Doni mengajak Wawan dan yang bersangkutan hanya mengangguk.
Ibu Asih lalu berkata mengizinkan mereka pulang ke rumah nya masing-masing. setelah Avril, Doni dan Wawan salim kepada ibu Asih dan bersalaman dengan Dona. mereka kini pulang masing-masing dan Avril pulang sendirian ke rumah nya pak Yono dan Wawan awal nya ingin mengantar Avril pulang, tetapi tak boleh oleh Avril karena ia akan baik-baik saja dan lagi pula jarak rumah paman nya tak terlalu jauh dengan rumah ibu Asih. Wawan lalu hanya membiarkan Avril pergi setelah ia dan Avril saling melambaikan tangan nya. kini ia masuk ke dalam mobil bersama Doni yang sudah duduk dikursi kemudi mobil nya. Dona dan ibu nya kini hanya menatap kepergian pulang mobil Doni setelah Doni melambaikan tangan nya kepada Dona dan ibu nya. mobil Doni kini terlihat semakin jauh dari pandangan Dona dan ibu Asih dan menjauhi kampung tersebut.
Kini Dona masuk ke rumah nya lagi bersama ibu nya dan seperti biasa Dona masuk ke dalam kamar nya dulu untuk berganti pakaian. sedangkan ibu Asih sedang membuka kotak martabak manis dan mencicipi nya. martabak itu adalah oleh-oleh yang Doni beli ketika mereka pulang jalan-jalan dari mall yang pernah di datangi Dona dan Doni sebelum nya. diperjalanan pulang, Doni harus mengantarkan Wawan pulang dulu ke rumah nya dan paling juga Wawan hanya turun di pintu masuk kampung mangga besar. motor matic nya sudah ia simpan di rumah nya ketika sore tadi ketika ia pulang kerja dan setelah itu ia langsung ikut dengan Doni naik mobil yang di dalam nya ada Dona dan Avril yang menunggu nya di pintu gang kampung itu ketika sore tadi.
Rintik hujan kini sudah mereda dan hanya menyisakan hawa dingin nya saja pada malam itu. waktu masih menunjukan pukul sembilan malam dan di dalam mobil nya Doni, Wawan yang duduk di samping kiri kemudi mobil nya Doni, segera berkata kepada Doni.
"terima kasih ya Don, kau telah mengubah hidup ku yang tanpa arah tujuan ini."
"ahh kau ini bicara apa Wan." ujar Doni sembari fokus menyetirkan mobil nya.
__ADS_1
"tanpa dirimu yang baik dan peduli terhadap kesusahan ku, mungkin aku seterus nya akan menjadi orang yang pengangguran dan lebih parah nya lagi tak memiliki seorang pacar. semenjak ayah ku pensiun dari pekerjaan nya dan sering sakit-sakitan, ekonomi keluarga ku cukup menyedihkan untuk di ingat dan di rasakan kembali. aku yang sudah dewasa ini seharus nya berpikir bagaimana cara membahagiakan kedua orang tua ku saat masih bekerja dulu." mendengar hal itu Doni tersenyum menatap Wawan seraya berkata.
"semua kejadian apapun ambil hikmah nya saja untuk kita jadikan pelajaran nanti nya dan anggap saja semua yang aku lakukan ini kepada mu adalah rasa balas budi ku kepada mu beserta keluarga mu Wan. kau pun tahu sendiri siapa aku ini dulu nya ketika masih tinggal bersama orang tua ku yang kejam itu." Wawan hanya mengangguk paham karena ia pun merasakan kesedihan dan rasa kasihan kepada Doni yang dulu hidup nya teraniaya dan penuh luka duka akibat ibu kandung nya yang kejam beserta ayah tiri nya yang kejam juga terhadap nya.
Obrolan mereka itu masih berlanjut dan terdengar Wawan berkata.
"di antara teman-teman ku yang paling dekat, hanya kau lah satu-satu nya yang masih punya rasa ingat teman meskipun hidup mu yang sekarang ini penuh dengan kemewahan dan bergelimang harta. tetapi semua yang kau punya itu tak menjadikan mu orang yang sombong dan bahkan sampai bisa melupakan orang yang sudah berjasa pada mu dahulu. aku sangat takjub sekali akan kepribadian mu ini yang seperti ini Don." Doni hanya tersenyum kepada Wawan dan berkata kepada Wawan agar tetap mensyukuri apa yang pernah terjadi kepada nya saat ini dan nanti dan Doni juga berterima kasih atas sanjungan secara tak langsung dari Wawan itu.
Wawan hanya mengangguk setuju akan ucapan Doni dan setelah lama nya mereka berbincang, mobil Doni berhenti di pinggir jalan depan kampung mangga besar. sebelum Wawan keluar dari dalam mobil, Doni berkata kepada nya.
"besok hari sabtu dan setelah itu hari minggu. kedua hari itu adalah hari libur kerja di kantor ku Wan. kau istirahat saja dahulu, nanti hari senin lanjut bekerja lagi sampai seterus nya."
Doni kini mengemudikan mobil nya lagi untuk pulang menuju ruko pinangsia tempat ia tinggal selama ini. diperjalanan Doni terus saja membatin akan kejadian yang sudah ia alami pada hari itu.
"ughhh....! lelah sekali hari ini. banyak sekali yang terjadi pada hari ini dan ada saja permasalahan yang ada sangkut paut nya dengan ku. hmmm, sebenar nya rencana apa yang akan di lakukan oleh si Lesti dan si Yuni itu tentang hubungan ku dengan Dona?. ahhh.. bikin pusing saja lama-kelamaan kalau jadi nya begini." setelah membatin begitu, Doni melanjutkan kecamuk pikiran nya.
"sebenar nya aku sudah bosan tinggal sendirian di dalam kamar lantai tiga kantor itu. tetapi jika aku membeli rumah pun, pasti akan percuma saja meskipun aku membeli rumah dimana pun tempat nya. pasti hanya aku saja yang mengisi nya sendirian dan itu sama saja hal nya dengan pemborosan tempat. tetapi aku lebih tertarik untuk membeli tanah kebun di samping rumah bibi Asih dan membangun rumah untuk ku nanti setelah menikah dengan Dona. tetapi, mengapa semahal itu harga tanah kebun itu?" ujar batin Doni memikirkan hal itu dan mobil nya terus saja melaju menuju ruko pinangsia berada.
__ADS_1
Tiba di ruko pinangsia, mobil Doni terus saja melaju menuju ruko tempat kantor nya berada dan ia sudah tak memikirkan apapun lagi. yang ada dipikiran nya hanyalah agar cepat sampai dan setelah itu beristirahat tanpa harus mandi. di samping itu, Dona baru saja selesai memakai baju tidur nya dan ia kini keluar kamar nya. ibu Asih sedang duduk di kursi ruangan tamu itu sembari sedang mengunyah sepotong martabak. setelah Dona ikut duduk dengan ibu nya dan mengambil sepotong martabak juga untuk ia makan, ibu Asih lalu bertanya kepada Dona.
"besok kamu libur kan bekerja nya sayang?"
"iya ibu. memang nya kenapa?" tanya Dona heran karena tak biasa nya ibu nya berkata bertanya begitu.
"tidak apa-apa sayang. ibu bertanya begitu karena besok ibu ada pekerjaan untuk ikut membantu memasak hidangan di rumah tetangga kampung ini yang akan menyelenggarakan hajatan. kamu di rumah ini saja dan membersihkan rumah ya sayang."
"oh begitu, iya ibu. lalu siapa yang akan mengadakan hajatan itu bu?" tanya Dona penasaran.
"pak kosim dan ibu jubaedah yang mengadakan hajatan tersebut. kata nya mereka mau mengadakan hajatan acara khitanan anak bungsu mereka yang berumur tujuh tahun." ujar ibu Asih dan Dona hanya tersenyum masam seraya berkata.
"Dona pikir bakal ada acara hajatan pernikahan bu?"
"bukan sayang." ujar ibu Asih sembari tersenyum manis kepada anak nya. lalu Dona hanya manggut-manggut saja tanda paham dan kini mereka lanjut memakan martabak itu lagi sambil berbincang dan sesekali bersenda gurau di antara ibu dan anak itu. sudah lama sekali mereka tak melakukan hal yang seperti itu dan penyebab nya adalah karena ada ny kesibukan dari mereka masing-masing.
...*...
__ADS_1
...* *...