
SETELAH Hampir setengah jam lama nya Dona memilih makanan ringan yang ia sukai, kini Doni yang membayar semua belanjaan Dona itu. semua belanjaan yang Doni pegang sebelum nya di masukan ke dalam keranjang kereta dorong yang dikhususkan untuk para pengunjung yang banyak membawa barang belanjaan nya. kereta Dorong itu Doni yang membawa nya dan Dona berjalan di samping nya.
Kedua nya kini berjalan ke arah yang Doni tuju dan Dona tak banyak mengelak akan saran dari Doni tersebut. setelah mereka agak jauh berjalan, kedua nya tiba di toko yang menjual perhiasan. Doni segera mengajak Dona untuk masuk ke dalam toko tersebut, tetapi Dona menolak nya seraya berkata.
"sudah tidak perlu repot-repot membelikan ku perhiasan." Doni yang mendengar ucapan dari Dona tersebut hanya tersenyum seraya berkata.
"pacar ku yang cantik, aku mengajak mu kemari karena ingin membeli perhiasan untuk kita berdua." Dona yang mendengar ucapan Doni itu hanya berkerut dahi.
"maksud mu bagaimana???"
"sudah ayo maka nya ikut aku ke dalam." setelah berkata begitu, Doni mencekal lengan kanan Dona dan menarik nya untuk masuk ke dalam toko perhiasan tersebut.
Barang belanjaan mereka ditaruh di samping depan toko tersebut dan lagi pula tidak mungkin ada orang yang nekat mencuri nya, karena para pengunjung mall tersebut rata-rata adalah dari orang golongan kalangan ke atas semua. jadi mustahil bagi mereka untuk mencoba mencuri barang milik Doni dan Dona tersebut. setelah kedua nya masuk dan di sambut oleh karyawan toko perhiasan tersebut, Doni segera berkata kepada karyawan toko perhiasan itu.
"apa ada cincin yang cocok untuk sepasang kekasih seperti kami ini mbak???"
"ada kak. silahkan di pilih di dalam loket kaca ini, dari ukuran dan bahan berbeda-beda kak. ada yang dari bahan emas murni, perak murni, platinum, emas berlapis berlian, dan masih banyak lagi. tinggal disesuaikan saja dengan keperluan kakak dan pacar kakak ini." ujar karyawati toko berkata ramah kepada Doni.
Doni hanya tersenyum saja kepada karyawan toko perhiasan tersebut dan segera memalingkan wajah nya kepada Dona seraya berkata.
"silahkan pilih yang mana sayang. aku menuruti apa yang kamu mau saja." Dona yang mendengar hal itu hanya menyunggingkan senyum dipaksakan di depan karyawan toko itu. lalu ia mencoba melihat-lihat perhiasan yang ada di dalam loket kaca tersebut. Doni juga ikut menatap kesana-kemari mencari sepasang cincin yang sekira nya cocok untuk mereka pakai berdua.
Kemudian Dona menunjuk ke salah satu cincin yang terbuat dari perak murni yang tampilan nya biasa saja. mbak toko itu segera mengambil nya dan memberikan nya kepada Dona. sedangkan Doni menunjuk ke salah satu Sepasang Cincin yang tampilan nya bagus dan terbuat dari emas murni bermata berlian. Dona yang sudah mencoba memakai salah satu cincin yang ia pilih, langsung berkata kepada Doni.
"ini saja bagus." Doni yang melihat cincin yang Dona pasang dijemari jari manis nya, segera berkata.
"yakin ingin yang itu? yang ini bagaimana???" tanya Doni sembari menunjukan cincin emas berlapis berlian yang sudah ia pasang dijemari jari manis nya juga.
__ADS_1
Dona yang menatap cincin yang Doni pakai itu, segera berkata.
"kemahalan itu! sudah ini saja yang aku pakai. tak terlalu mahal dan enak dipandang."
"yakin kamu ingin yang itu???"
"yakinlah. kalau tidak yakin, mengapa aku sampai pilih yang ini." ujar Dona lagi dan Doni kemudian melepas cincin yang ia kenakan dan berkata kepada kepada mbak penjaga toko perhiasan itu.
"mbak saya pesan yang saya pegang ini dan sama yang pacar saya pegang itu ya." ujar Doni dan mbak penjaga toko itu menjawab nya untuk segera menghitung nominal yang akan Doni bayar.
Dona yang heran dengan ucapan Doni langsung berkata tanya.
"mengapa dibeli semua?"
"siapa yang beli semua? aku cuman membeli empat pasang saja kok."
"emang dua pasang lagi buat siapa? kan yang aku pesan ini sudah sepasang, lalu yang kamu pesan itu untuk siapa?" ucapan dari Dona yang serba ingin tahu itu segera di jawah oleh Doni.
Dona yang sebenar nya sangat senang mendengar ucapan dari Doni itu, hanya dibalas dengan sikap biasa saja.
"baru juga sehari kita berpacaran, malah langsung bahas nikah!." ucap Dona sewot dan Doni hanya tertawa tak seberapa keras seraya berkata lagi.
"berarti kita sudah resmi ya berpacaran?"
"bukan nya kamu yang bilang kita sudah resmi berpacaran ketika masih berada di kantor?"
"tetapi kamu bilang kita belum resmi berpacaran? hayooo... kamu malu-malu ya di depan teman mu itu?" goda Doni seraya mengejek bernada candaan.
__ADS_1
"apa sih! sudah ah enggak lucu tahu!" ujar Dona berkata ketus dan Doni hanya tertawa sembari ditahan.
Setelah mereka berbincang-bincang seperti tadi, mbak penjaga toko perhiasan itu sudah memberikan nota harga perhiasan yang Doni pesan tersebut. setelah Doni membayar nya, kini kedua muda-mudi itu bergegas keluar toko tersebut dan mengambil barang belanjaan mereka lagi. setelah itu mereka langsung bergegas menuju pintu keluar mall untuk pergi menuju mobil Doni terparkir. setelah mereka sampai di mobil Doni, bagasi mobil di buka dan barang-barang yang mereka beli dimasukan ke dalam bagasi mobil tersebut.
Setelah Doni dan Dona masuk ke dalam mobil, kini mereka pulang menuju kampung duren yang dimana tempat tinggal Dona selama ini bersama ibu nya. di satu sisi dan berada di dalam rumah nya pak Yono, Avril yang di tanya oleh pak Yono dan ibu Asih tentang hubungan Dona dan bos nya itu. segera di jawab oleh Avril dengan ucapan yang beralasan.
"saya hanya menebak saja mereka berpacaran bu. tetapi benar tidak nya saya tidak tahu paman." ujar Avril berkata kepada ibu Asih dan pak Yono.
Kedua orang tua itu saling pandang dan kemudian ibu Asih bertanya kepada pak Yono.
"apakah pak Yono tahu latar belakang bos tempat pak Yono bekerja itu???" pertanyaan ibu Asih itu langsung di jawab oleh pak Yono dan di dengar oleh Avril.
"bos kantor itu adalah anak yatim dan hanya memiliki ibu yang kejam yang sampai saat ini masih dipenjara."
"dipenjara?! coba teruskan cerita mu pak Yono." ucap ibu Asih lagi sedikit mendesak. pak Yono hanya mengangguk saja dan kemudian mulai melanjutkan cerita nya lagi.
"bos itu bernama Doni Pratama yang mendapat warisan harta dan perusahaan dari ayah nya yang sudah meninggal yang bernama pak Randi Pratama."
"apa?! apa pak Yono tak salah bicara?!!"
"untuk apa saya berbohong bu. memang benar seperti itu latar belakang bos Doni yang saya ketahui."
"tidak mungkin pak. mungkin nama yang pak Yono sebutkan itu hanyalah kebetulan saja dan bukan orang yang..." tiba-tiba ucapan ibu Asih terpotong karena ada nya suara nada dering ponsel Avril menyala.
'trililiit...trilililit' Avril langsung melihat ponsel nya yang ternyata itu adalah Dona yang memanggil nya lewat panggilan telepon.
Avril segera mengangkat telepon dari Dona tersebut dan Dona berkata kepada Avril tentang ibu nya. Avril berkata bahwa ibu nya memang ada di rumah paman nya dan di saat itu juga, ibu Asih langsung berkata tanya kepada Avril.
__ADS_1
"siapa yang menelepon mu neng?"
"oh ini dari Dona bu. barusan ia bilang sudah pulang dan menanyakan ibu." saat itu pula ibu Asih langsung bangkit dari duduk nya dan segera berkata untuk berpamitan kepada pak Yono dan Avril dengan alasan untuk segera pulang ke rumah nya. Avril dan pak Yono mengizinkan ucapan pamit dari ibu Asih tersebut, dan kini ibu Asih sedang pulang menuju rumah nya dengan langkah kaki yang terburu-buru.