KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
KHAWATIR


__ADS_3

SETELAH Doni memilihkan pakaian untuk Dona dan ibu nya, kini Doni sedang menunggu belanjaan itu dikemas oleh karyawan toko tersebut. Doni dan Dona yang kini sedang duduk berdampingan di kursi tunggu toko itu, mulai berbincang-bincang.


"setelah ini kita langsung pulang kan?" tanya Dona.


"mengapa mesti buru-buru pulang?" jawab Doni heran.


"sekarang sudah waktu nya shalat magrib. aku tak enak jika harus meninggalkan kewajiban."


"jangan khawatir sayang. di dalam mall ini juga ada mushalah untuk beribadah."


"memang nya ada???" tanya Dona yang awam akan hal tersebut. Doni hanya mengangguk saja dan setelah itu ia menerima barang belanjaan nya itu dari karyawan toko itu sekaligus membayar nya memakai kartu debit hitam yang sudah ia ambil dari dompet nya.


Dona yang memperhatikan Doni membuka dompet nya itu, saat itu melihat sebuah kartu nama dan ada poto wajah nya tertera di kartu tersebut. di saat Doni ingin memasukan dompet nya lagi ke dalam kantung celana nya, di saat itu juga dompet Doni langsung di rebut oleh Dona. Doni kaget ketika dompet nya itu di ambil paksa oleh Dona dan ketika Doni mau bertanya atas kelakuan Dona yang tak sopan itu, ia menjadi diam terpaku menatap Dona yang sudah mengambil sebuah kartu nama sebesar KTP. kartu nama itu adalah milik Dona semasa ia masih berkuliah di suatu universitas.


Dona yang melihat kartu nama yang masih terlihat bagus itu, segera bertanya kepada Doni.


"kamu dapat dari mana kartu nama ku ini???"


"anu... hehehe, nanti aku jelaskan. sudah ayo kita cari mushalah dulu sebelum waktu maghrib selesai." setelah berkata begitu Doni langsung bergegas mengajak Dona untuk mencari mushalah di dalam mall tersebut. Dona yang awal nya mengelak ajakan Doni untuk segera pergi mencari mushalah, menjadi tak jadi karena ia ingat ucapan Doni barusan. kini Dona pun mengikuti Doni serta membawa barang belanjaan mereka yang terbilang cukup banyak dan semua barang itu tidak membuat kedua nya keberatan, karena isi bingkisan tas yang mereka bawa hanyalah pakaian yang bahan nya tak terlalu berat.


Setelah Doni bertanya-tanya kepada siapa saja yang lewat di depan nya tentang dimana tempat mushalah dimana, kedua nya kini telah menemukan tempat yang mereka tuju. setelah menyimpan barang, kedua nya mengambil wudhu masing-masing dan kemudian Dona mengambil mukena khusus pengunjung di lemari rak mushalah tersebut. kini mereka berdua melakukan shalat maghrib secara berjamaah dan suasana di ruangan itu hanya mereka berdua saja.


Di sisi lain di rumah nya ibu Asih, ibu itu terlihat sangat Khawatir akan anak nya yang belum pulang sejak sore tadi sampai malam dan mau masuk jam shalat isya. padahal pak Yono sudah memberitahukan kepada ibu Asih ketika sore tadi bahwa anak nya itu sedang ada perlu dengan bos nya dahulu untuk pergi ke suatu tempat. ibu Asih awal nya memang percaya dan tak khawatir akan hal itu jika menyangkut dalam hal pekerjaan anak nya. tetapi rasa khawatir dari seorang ibu kepada anak nya tetap ada dan kali ini ibu Asih mencoba mengunjungi rumah pak Yono untuk menghubungi bos nya itu agar memberitahukan keadaan Dona saat itu kepada nya.


Setelah agak jauh ibu Asih berjalan, ia telah sampai di depan rumah nya pak Yono. keadaan di rumah itu sangat sepi sekali dan ibu Asih membatin dalam hati nya.

__ADS_1


"tumben sepi. apa pengisi rumah ini sudah tertidur?" kemudian ibu Asih mencoba mengetuk pintu rumah tersebut seraya mengucap salam kepada pemilik rumah. di saat itu juga, pintu terbuka dan yang membuka nya adalah Avril. ibu Asih berkerut dahi melihat wajah gadis cantik berkaca mata yang masih asing bagi nya itu. terdengar ibu Asih bertanya kepada Avril.


"pak Yono nya ada tidak neng?"


"ada bu, silahkan masuk." ucap Avril dengan sopan dan ibu Asih pun masuk. di saat itu juga pak Yono yang masih memakai pakaian setelah shalat, segera mendatangi ruangan tamu rumah nya itu.


Ibu Asih terlihat sedang duduk di kursi tamu rumah itu dengan ditemani Avril. setelah pak Yono ikut duduk di kursi yang kosong, ibu Asih segera bertanya kepada pak Yono.


"coba pak Yono hubungi dulu anak saya, sudah hampir larut malam ia belum pulang pak." ucapan ibu Asih itu di dengar oleh Avril dan pak Yono. Avril tak tahu bahwa ibu itu adalah ibu nya Dona, dan di saat itu juga pak Yono segera menjawab nya.


"sebentar ya bu. saya hubungi bos Doni dulu." setelah berkata begitu, pak Yono kembali ke ruangan tengah rumah nya untuk mengambil ponsel nya. di ruangan itu ada istri nya pak Yono, yaitu kakak perempuan nya Avril beserta kedua anak nya pak Yono dan istri nya.


Di ruangan tamu tadi, Avril segera bertanya kepada ibu Asih.


"apakah ibu ini ibu nya Dona??"


"barusan ibu menanyakan anak ibu itu kepada paman Yono. perkenalkan bu, nama saya Avril dan saya adalah rekan kerja nya Dona di kantor CV.Group Perkasa." ujar Avril mengenalkan nama nya dan ibu Asih hanya tersenyum seraya berkata.


"ouh kamu teman nya Dona. apa kamu sudah lama bekerja di kantor itu neng? lalu neng ini siapa nya dari keluarga pak Yono ini??"


"saya baru masuk bekerja sama hal nya dengan Dona bu dan saya adalah adik ipar nya dari istri paman Yono." ujar Avril sopan dan ibu Asih hanya manggut-manggut sembari tersenyum dan berkata.


"oh begitu. yasudah kamu baik-baik ya berteman dengan Dona. jika ada apa-apa dipekerjaan nya, bicarakan saja kepada pak Yono ya neng. biar nanti pak Yono yang bicara kepada ibu."


"baik bu. kalau boleh saya tahu, nama ibu ini siapa?"

__ADS_1


"nama ibu Permata Asihan nak."


"wahh... cantik juga nama nya ibu, mirip seperti nama artis." ujar Avril menyanjung dan ibu nya Dona hanya tersenyum saja kepada Avril yang orang nya periang itu.


Setelah perbincangan mereka itu selesai, datang pak Yono dan berkata kepada ibu Asih.


"kata nya nanti jam sembilan malam bu, bos Doni yang berkata begitu." ujar pak Yono dan membuat ibu Asih semakin khawatir seraya berkata kepada pak Yono.


"apakah Dona akan baik-baik saja pak? saya sangat khawatir jika terjadi hal yang tidak di inginkan kepada anak saya." di saat ibu Asih berkata begitu, Avril tak sengaja berbicara keceplosan.


"tenang saja bu. mungkin mereka sedang menikmati hari pertama mereka berpacaran."


"apa...???" sentak pak Yono dan ibu Asih berkata secara berbarengan dan membuat Avril langsung menutup mulut nya dan gelagat nya yang salah tingkah ketika di tatap oleh kedua orang tua itu.


Di dalam mall yang lumayan ramai dikunjungi oleh orang-orang baik itu muda, tua, perempuan ataupun laki-laki. tak membuat Doni dan Dona risih ketika diperhatikan oleh para pengunjung tersebut. kedua nya terlihat sedang berjalan beriringan dan masih memakai seragam kantoran. kini tempat tujuan mereka adalah toko aneka makanan yang menjual berbagai bentuk makanan kemasan serba mewah dan berbagai cemilan enak terpampang jelas di dalam rak kaca toko tersebut. Dona seketika itu juga mendelik menatap cemilan kesukaan nya dan Doni sudah masuk ke dalam toko itu bersama Dona.


Toko luas yang banyak di kunjungi orang-orang itu membuat Doni dan Dona sedikit berdesakan. setelah kedua nya pergi ke tempat yang agak lega, Doni segera berkata kepada Dona.


"silahkan kamu mau beli yang mana saja, kalau perlu yang banyak ya. agar nanti bisa untuk memberi keluarga pak Yono dan untuk ibu mu juga." Doni yang berkata begitu langsung di laksanakan oleh Dona tanpa berkata-kata lagi. Dona kini sudah mengambil keranjang kereta dorong di toko luas itu untuk menyimpan barang yang akan di beli.


Doni hanya tersenyum saja menatap Dona yang seperti nya sangat senang sekali di ajak masuk ke dalam toko makanan ringan tersebut. Doni sudah bisa memastikan bahwa Dona adalah orang yang doyan ngemil dan kebiasaan Dona itu hanya Doni yang tahu. sebab, semenjak ketika mereka masih kecil dan bermain bersama. makanan ringan berupa cemilan yang biasa nya tak Doni sukai, sering kali di habiskan oleh Dona dan maka dari itu, alasan Doni mengajak Dona ke tempat itu adalah untuk mengenang kembali kisah masa lalu mereka berdua yang kini telah berlalu dan hanya tinggal kenangan nya saja.


Posisi Doni masih duduk di kursi tunggu toko cemilan itu sembari memperhatikan Dona yang kesana-kemari mencari cemilan yang ia sukai. di saat itu juga Doni diam-diam memotret Dona dengan ponsel genggam nya. Doni memotret Dona yang sedang asyik nya memilih dan memilah makanan ringan yang akan ia masukan ke dalam keranjang kereta dorong tersebut. tanpa Dona sadari, Doni memotret pose Dona yang sedang garuk-garuk kepala seperti orang yang sedang bingung dan membuat Doni tertawa cekikikan melihat hal yang lucu bagi nya itu. walaupun tertawa nya Doni itu tak terlalu keras, tetapi mampu membuat orang-orang yang ada di sekitar nya memperhatikan Doni dengan tatapan aneh dan penuh keheranan.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2