KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
MERASA BERSALAH


__ADS_3

TERAS Masjid al barjanji yang belantai keramik marmer putih tersebut, kini sedang diduduki oleh Doni dan pak Ustad Rojak. kedua nya sudah selesai melaksanakan shalat dzuhur berjamaah dan kini mereka ada di luar depan masjid tersebut untuk berbincang-bincang. kedua nya duduk bersila dan bersandar bersebelahan di tembok masjid tersebut. posisi mereka duduk hampir sama dengan posisi awal ketika peristiwa Doni ingin melamar pekerjaan dan kemudian di bantu oleh pak Ustad Rojak dalam mengerjakan isi map lamaran nya Doni. kejadian yang seperti itu kini terulang lagi dan peristiwa nya sudah berbeda dari yang sebelum nya.


Terdengar suara pak Ustad Rojak bertanya kepada Doni.


"belum ada seminggu dirimu pergi dari rumah kakek Sarkim dan sekarang sudah bekerja sampai memiliki uang yang banyak segala Don. ck..ck..ck.. tak habis pikir bapak jadi nya." ujar ustad Rojak kepada Doni dengan senyum bangga nya kepada anak itu.


Anak itu hanya tersenyum mendengar ucapan tersebut dan kemudian menjawab nya.


"sebenar nya cerita nya panjang pak."


"panjang bagaimana maksudmu Don..??? apa kamu bisa ceritakan kepada bapak...???" ucapan pak Ustad Rojak tersebut membuat batin Doni menjadi gusar dan serba salah.


Perasaan Doni menjadi tak enak hati jika ia harus berterus terang tentang bagaimana awal nya Doni bisa menjadi seorang Bos di suatu perusahaan dan memegang jabatan CEO atau Owner di suatu perusahaan tersebut. pak Ustad Rojak yang berada di samping Doni segera menepuk pundak anak muda yang sedang melamun itu.


Doni langsung tersentak kaget karena tepukan pak ustad itu dibarengi dengan ucapan nya.


"kamu mengapa melamun Don..??? apa kamu masih memikirkan almarhum kakek Sarkim...???" ucapan ustad Rojak itu hanya dibalas oleh Doni dengan wajah tertunduk sedikit muram.


Anak muda itu lalu berkata kepada pak Ustad Rojak setelah hati dan pikiran nya menemukan titik temu yang pas untuk diucapkan kepada ustad Rojak.

__ADS_1


"sebenar nya begini pak ustad, jujur saya merasa sangat kehilangan sekali ketika kakek Sarkim meninggal dunia. gara-gara saya nekat pergi kala itu, beliau jadi sakit karena sering memikirkan diriku." ucapan Doni terhenti dan kepala nya masih tertunduk seakan Merasa Bersalah akan kejadian tersebut.


Kepala pak ustad Rojak hanya manggut-manggut ketika mendengar pengakuan dari Doni. lalu Doni meneruskan ucapan nya lagi.


"apa yang pernah dikatakan kakek Sarkim kepada saya ketika kami selesai membersihkan masjid ini, membuat diri ini ingin sekali mewujudkan keinginan dari kakek Sarkim yang tak kesampaian dari dulu sampai ia meninggal dunia." ucapan tersebut membuat dahi pak Ustad Rojak berkerut dahi.


Keheranan pak Ustad tersebut segera ia tanyakan kepada Doni.


"keinginan apa yang pernah dikatakan almarhum kakek Sarkim kepada mu Don..???"


Doni langsung menengadahkan kepala nya dan menoleh ke arah samping nya sambil menatap wajah pak Ustad Rojak seraya berkata.


"beliau ingin naik haji ke mekah. kedatangan saya kemari sebenar nya ingin membicarakan hal tersebut kepada kakek Sarkim dan pak Ustad sendiri. tetapi sayang sekali, tuhan telah lebih dulu memanggil kakek Sarkim sebelum saya mewujudkan impian kakek Sarkim tersebut." ujar Doni dan kini kepala nya menoleh ke arah depan nya dan menatap lurus ke jalanan yang banyak nya kendaraan berlalu-lalang.


"biaya untuk berangkat umroh atau naik haji itu tidak sedikit Don. bapak dukung akan tekad kamu ingin memberangkatkan kakek Sarkim ke mekah untuk naik haji. tetapi bagaimana jadi nya jika keadaan tersebut malah sebalik nya dan diluar perkiraan dirimu. jika sudah begitu, apa yang akan kamu pikirkan dan perbuat Don..??? apakah kamu punya uang sebanyak itu..??? jika nyata nya tidak ada, untuk apa kamu membela-belakan hal tersebut jika seseorang itu sudah tiada..???" ujar pak Ustad Rojak menceramahi Doni seraya bertanya akan keputusan nya itu.


Doni masih menatap ke arah jalan luar gerbang masjid tersebut seraya menjawab ucapan pak Ustad Rojak itu dengan pelan.


"kali ini saya akan jujur kepada pak ustad akan jati diri saya yang sebenar nya. saya ini sebenar nya adalah anak dari seorang pengusaha yang sudah meninggal dunia dan kemudian saya tinggal dengan ibu saya yang jatuh miskin akibat pemborosan nya menghambur-hamburkan warisan dari mendiang ayah saya. ayah kandung saya meninggal ketika saya masih berumur sepuluh tahun. sisa warisan yang beliau simpan untuk anak nya nanti, kini telah sampai di tangan saya melalui sekertaris perusahaan milik ayah saya. awal nya saya sedang melamar pekerjaan untuk menjadi satpam di suatu perkantoran, tetapi ketika lamaran kerja saya direview oleh HRD kantor tersebut. beliau ternyata adalah sekertaris ayah saya dan saat itu juga beliau menjelaskan nya kepada saya tentang warisan yang di miliki ayah saya untuk diberikan kepada saya sendiri. kini saya sudah memiliki kekayaan dari harta warisan tersebut dan semua itu bukan dari hasil jerih payah kerja saya sendiri pak. semua itu adalah warisan dari ayah saya untuk saya kelola sendiri. saya sebagai pewaris tunggal dari mendiang ayah saya, hanya bisa menikmati hasil nya saja tanpa harus repot-repot bersusah payah sampai berkeringat untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan tersebut. maka dari itu, saya berniat ingin menyumbangkan warisan yang sudah di uangkan tersebut kepada pesantren pak ustad Rojak dan masjid ini." setelah berkata begitu, Doni langsung mengambil tas yang ada di punggung nya dan membuka isi nya.

__ADS_1


Pak Ustad Rojak yang awal nya ingin berkata kepada Doni akan ucapan anak itu barusan, menjadi terhenti dan mata nya mendelik melihat Doni mengeluarkan uang empat gepokan di dalam tas tersebut dan jumlah nya diperkirakan sekitar empat puluh juta rupiah. anak itu kemudian memberikan nya kepada pak Ustad Rojak dan berkata.


"ini saya ada rezeki pak. saya sedekah kan untuk kemajuan pesantren bapak dan masjid ini." ucapan Doni itu membuat wajah pak Ustad Rojak langsung tersenyum haru menatap wajah Doni.


Tanpa sadar air mata pak Ustad Rojak meleleh ke pipi nya. ia langsung mengelap air mata tersebut dengan baju koko lengan panjang nya seraya berkata.


"apa kamu yakin nak..??? nanti buat kamu makan sehari-hari mana..???"


ucapan tersebut hanya dibalas senyuman oleh Doni dan sekalian berkata.


"bapak tak usah khawatir akan soal itu. saya masih ada simpanan buat saya nanti pak. ini ambilah pak, saya hanya minta doa kepada bapak agar usaha saya lancar dan sukses."


"baiklah Don, bapak terima uang ini dan bapak berjanji akan selalu mendoakan mu semoga kamu selalu sehat dan semoga usaha mu juga lancar dan sukses. amiin."


"amiiin pak.." ucap Doni dan kedua nya meraup wajah mereka dengan kedua tangan nya masing-masing. setelah mereka berbincang begitu, terlihat rombongan orang-orang yang seperti nya baru pulang dari pemakaman.


Doni langsung bertanya kepada pak Ustad Rojak tentang apa yang dilihat nya.


"apakah ada orang yang meninggal lagi selain kakek Sarkim, pak Ustad..???"

__ADS_1


"sebelum kamu datang ke rumah almarhum kakek Sarkim, suara speaker pengumuman orang yang meninggal terdengar setelah sejam bapak mengumumkan atas meninggal nya kakek Sarkim melalui speaker masjid ini. waktu itu masih sekitaran jam delapan pagi dan pagi itu hujan masih sangat deras." ujar jawaban pak Ustad Rojak kepada Doni.


Anak muda itu hanya manggut-manggut mendengar penjelasan tersebut dan kemudian mereka berbincang lagi perihal awal Doni berangkat dari rumah kakek Sarkim untuk mencari pekerjaan, sampai sekarang menjadi seorang Bos di suatu perusahaan besar warisan dari ayah nya.


__ADS_2