KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
PERDEBATAN


__ADS_3

WAKTU Terus cepat berlalu dan suasana malam yang awal nya gelap gulita, kini berganti dengan terang nya matahari pagi yang terbit di ufuk timur. Dona masih tertidur sembari dalam keadaan posisi semalam yaitu bantal yang masih menutup wajah nya. ibu Asih sejak subuh memanggil-manggil nama Dona di depan pintu kamar nya, tetap saja tak dibuka oleh Dona. alasan nya karena Dona tidur sangat lelap karena pikiran nya kecapekan memikirkan hal yang mustahil terjadi itu semalam serta air mata nya yang menangis semalaman sampai ia tertidur pulas.


Pada pagi hari yang menunjukan pukul tujuh pagi itu, ibu Asih sudah bergegas keluar dari rumah nya untuk pergi ke rumah yang mau mengadakan hajat. ibu Asih sudah tak memikirkan anak nya lagi karena semalam ia sudah mengatakan hal tersebut kepada Dona dan Dona pasti ingat akan hal tersebut dan tak akan sampai mencari ibu nya. ibu Asih pun tak mencoba membangunkan Dona pagi itu karena ia tahu, hari itu adalah hari libur dan sudah menjadi kebiasaan jika di hari libur Dona bangun tidur nya agak siangan.


Di depan kantor CV.Group Perkasa, Doni terlihat sedang berolahraga push up beberapa kali ulangan sampai ia kelelahan. setelah itu ia duduk sembari minum air mineral dan kemudian mengecek ponsel nya yang ia simpan di dalam tas selempang kecil nya. ketika ia membuka pesan whatsapp nya, pesan yang Doni kirim ketika waktu subuh tadi tak dibaca bahkan di buka pun tidak oleh Dona. Doni hanya berfikir positive saja bahwa Dona mungkin tak menghidupkan data internet nya setelah bangun dan shalat subuh tadi. Doni tak terlalu memikirkan hal itu dan ia kini lanjut berolahraga lagi dengan cara lari pagi mengelilingi jalanan luas ruko pinangsia tersebut sampai jam setengah delapan nanti.


Sedangkan di rumah nya Wawan, pemuda itu sedang memanaskan motor matic nya di depan rumah nya. ibu nya terlihat sedang menjemur pakaian di samping rumah nya dan ayah nya Wawan yang sudah lanjut usia itu, terlihat sedang duduk di kursi depan rumah nya sembari membaca koran. Wawan yang sedang memanaskan motor nya itu, mendapat panggilan whatsapp dari pacar nya yaitu Avril.


"halo sayang. jam sembilan jangan lupa ke sini ya sayang."


"oke sayang. nanti aku datang ke rumah paman mu jam sembilan ya." balas Wawan dan di dengar oleh ibu nya dan ayah nya. setelah Wawan mematikan panggilan ponsel nya, ibu nya mendekati Wawan yang lanjut memanaskan motor nya itu.


"habis menelepon siapa Wan? tumben panggil-panggil nama sayang segala?" ucapan dari ibu nya Wawan yang bernama ibu Aminah yang diperkirakan berumur empat puluh sembilan tahun itu, segera dibalas oleh suara sahutan ayah nya Wawan yang berumur lima puluh tahunan lebih dan bernama pak Ilham.


"mungkin anak mu sudah mempunyai pacar kali bu..." seru ayah nya Wawan dan membuat Wawan cengar-cengir saja menatap ibu dan ayah nya.


"anak ku anak mu juga kali pak!" ujar ibu nya Wawan dengan ketus kepada ayah nya Wawan dan Wawan hanya tertawa mengikik geli saja terhadap orang tua nya yang berdebat itu.


Setelah Perdebatan kecil itu selesai, Wawan di tanya lagi dengan pertanyaan yang tadi oleh ibu nya. Wawan hanya garuk-garuk kepala nya yang tak gatal itu sembari menjawab pertanyaan ibu nya tadi.


"bukan siapa-siapa kok bu, hanya teman kerja saja."


"laki-laki apa perempuan Wan???"


"perempuan bu, masak sama laki-laki Wawan panggil sayang sih, huh!" ucapan Wawan yang sembari cemberut itu hanya di tertawakan oleh ayah nya saja dan ibu nya Wawan hanya geleng-geleng kepala saja sembari manatap anak nya.

__ADS_1


Lalu ibu nya Wawan langsung bergegas masuk ke dalam rumah nya untuk menyimpan ember bekas pakaian basah yang sudah di jemur. sedangkan Wawan menyudahi memanaskan motor nya dan ikut berjalan dibelakang ibu nya. Wawan lalu duduk di kursi kosong dekat ayah nya yang sedang meneguk segelas susu dan Wawan mengambil salah satu gorengan dan ia memakan nya. setelah meminum segelas susu, ayah nya Wawan bertanya kepada anak nya.


"bagaimana hari pertama mu bekerja nak?"


"ya lumayan menguras tenaga juga pak." jawab Wawan sembari mengunyah makanan nya.


"begitulah kalau kerja memakai tenaga dan otot. jika kerja mu cuman memakai otak dan pikiran, pasti kau tak akan sampai menguras tenaga mu." ujar ayah nya Wawan dan Wawan balik bertanya.


"memang nya ada kerja yang memakai otak dan hanya mengandalkan pikiran saja pak?"


"tentu saja ada dong. bukti nya bapak dari muda sampai setua ini, ada saja orang yang mendatangi bapak untuk meminta jasa bapak sebagai notaris. kau pun tahu sendiri nak, tanpa perlu bapak bersusah payah buang tenaga, uang datang sendiri walaupun lumayan menguras otak dan pikiran juga." Wawan yang mendengar hal itu sedikit bingung dan bertanya lagi.


"inti nya saja pak. Wawan bingung mengartikan nya." pak Ilham hanya geleng-geleng kepala saja menatap anak nya dan berkata.


"jangan membicarakan hal yang sudah terjadi pak! Wawan malas mendengar ocehan bapak yang selalu mengungkit tentang masa lalu itu!" balas Wawan dengan ketus dan memasang wajah cemberut.


Pak Ilham hanya geleng-geleng kepala saja menatap anak nya. lalu pak Ilham berkata lagi dan kali ini ia berkata tanya dengan nada biasa saja tak seperti tadi.


"apakah anak nya ibu Dewi yang bernama Doni itu sekarang memang benar sudah menjadi seorang bos di suatu perusahaan tempat mu bekerja nak?" ujar pak Ilham yang baru tahu latar belakang Doni yang sekarang dari istri nya. ketika Doni datang ke rumah itu, pak Ilham sedang tidak ada di rumah nya jadi wajar saja ia tak tahu karena tak bertemu langsung dengan Doni. Wawan yang sedang melihat jam di ponsel nya yang baru jam delapan itu, hanya mengangguk membenarkan pertanyaan ayah nya tadi. lalu di saat itu juga Wawan segera teringat akan ucapan Doni semalam yang membicarakan harga luas tanah kepada nya.


"oh iya pak?! Wawan mau bertanya kepada bapak."


"mau bertanya apa kau?" ujar pak Ilham tiba-tiba kening nya berkerut dahi.


"semalam ketika Wawan mampir dirumah nya pacar nya Doni, kami membicarakan harga jual tanah kebun yang lumayan luas dan di hargai senilai lima miliyar rupiah oleh pemilik nya."

__ADS_1


"apa!? mahal sekali? apakah tanah kebun nya seluas lapangan bola nak???" tanya pak Ilham kaget dan Wawan segera berkata lagi.


"tidak pak! mungkin ukuran panjang lebar nya sebesar dua atau tiga rumah ini di satukan." pak Ilham yang mendengar hal itu hanya manggut-manggut saja dan berkata pelan.


"wajar saja kalau mahal, karena tanah di sekitaran daerah jakarta ini sekarang sudah mahal dari tahun ke tahun. apalagi di masa pandemi ini, orang-orang susah mencari uang karena ketetapan dari pemerintah dan wajar saja orang-orang yang mempunyai barang bernilai tinggi, sering melelangkan barang nya dengan harga melejit yang tak wajar." Wawan lalu bergumam memikirkan ucapan ayah nya itu dan ayah nya Wawan lalu berkata tanya.


"memang nya teman mu itu mau membeli tanah di mana sampai harga nya semahal itu nak??"


"itu pak, di kampung duren ada yang menjual lahan kebun pisang yang luas nya lumayan lebar." ucapan Wawan tersebut membuat ayah nya Wawan memikirkan ucapan anak nya tadi dan sekaligus berkata.


"dulu juga pernah ada yang menjual tanah seharga segitu di kampung itu, tetapi entah sekarang sudah laku apa belum."


"memang nya siapa nama pemilik kebun itu pak?" tanya Wawan penasaran.


"kalau tak salah pemilik nya bernama pak Sarto dan ibu Yanti."


"hah?!!" ucap Wawan dengan kaget dan membuat ayah nya kaget juga seraya memaki Wawan.


"kenapa kau kaget hah!!!"


"hehe... maaf pak. soal nya nama pemilik yang bapak sebutkan tadi, sama dengan nama pemilik yang menjual kebun yang Doni dan Wawan bincangkan semalam." ucapan dari Wawan tersebut membuat sang ayah menjadi geleng-geleng kepala saja menatap anak nya. di saat yang bersamaan, muncul mobil hitam mengkilap dan Wawan serta ayah nya menatap ke arah mobil yang berhenti dijalanan umum depan rumah mereka.


...*...


...* *...

__ADS_1


__ADS_2