KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
BERZIARAH


__ADS_3

DONA Dan ibu nya yang bernama ibu Asih itu, telah selesai mencuci pakaian yang lumayan banyak sebelum nya dan kini mereka sudah menjemur nya di tiang jemuran di pinggir rumah mereka. setelah itu kedua nya duduk di teras rumah nya dan sang ibu mulai mengawali percakapan.


"kamu sudah sarapan belum tadi sayang." ucap sang ibu bertanya dan Dona hanya mengangguk menandakan sudah menjawab pertanyaan ibu nya.


Lalu Dona berkata kepada ibu nya tentang rasa penasaran nya.


"sebelum nya bu, memang nya apa yang akan ibu ceritakan kepada Dona sampai harus jaga rahasia segala ketika berada di kamar mandi tadi..???" sang ibu hanya menatap sayu kepada anak nya dan kemudian berkata.


"nak, ketika mendiang ayah mu meninggal dunia ketika kamu masih berumur tujuh tahun. ibu pernah meminjam perhiasan dari paman dan bibi mu itu untuk di jual dan uang nya untuk pemakaman sampai tujuh hari nya mendiang ayah mu. semua nya itu belum sekalipun diganti oleh ibu sampai sekarang. semalam mereka memperbincangkan hal itu dan ibu hanya bisa berkata agar mereka memberi waktu untuk ibu agar bisa mengembalikan perhiasan yang sudah ibu pinjam dari mereka." ujar sang ibu mulai berterus terang kepada anak tunggal nya itu.


Dona hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari ibu nya. kini ia paham dengan alasan bengong ibu nya ketika mereka mengantarkan kepergian kedua adik ibu nya beserta keluarga kecil nya. Anak gadis itu lalu menjawab dari ucapan ibu nya.


"mengapa harus di bayar bu..??? masa sih paman dan bibi yang masih sedarah kandung sama ibu masih menuntut utang yang telah usang itu..???" dengan cepat ibu nya menjawab perkataan anak gadis nya.


"hutang itu harus dibayar nak. mau itu berhutang kepada saudara kandung atau orang lain, itu wajib hukum nya untuk membayar hutang tersebut. karena suatu perjanjian yang ibu katakan kepada bibi dan paman mu itu, maka mau tak mau ibu harus mengganti perhiasan yang sudah ibu jual dulu ketika ayah mu meninggal." ujar sang ibu meluruskan ucapan anak nya.


Dona hanya manggut-manggut saja dan kemudian ia bertanya kepada ibu nya tentang berapa gram emas yang harus di bayar itu. ibu nya lalu menjawab pertanyaan anak nya itu.

__ADS_1


"kalau ibu tak salah ingat, ibu meminjam sebanyak sepuluh gram emas. lima gram dari paman mu dan lima gram lagi dari bibi mu. waktu itu harga emas masih murah dan sekarang harga emas sudah naik dan semakin mahal nak." ucap sang ibu tertunduk sedih akan ucapan nya itu.


Dona lalu berkata pelan kepada ibu nya dan di dengar oleh ibu nya.


"apa boleh Dona bekerja saja dan berhenti kuliah bu..???" ucapan tersebut membuat ibu Asih menatap anak nya dengan cepat seraya berkata.


"jangan punya pikiran seperti itu nak!. kamu fokus kuliah mu saja dan jangan memikirkan tentang hutang ibu itu kepada bibi dan paman mu!" ucap sang ibu penuh ketegasan dan anak gadis itu hanya berkata meminta maaf kepada ibu nya sambil memeluk nya. setelah begitu, kedua nya masuk ke dalam rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah lain nya yaitu memasak untuk makan siang mereka berdua.


Di sebuah pemakaman umum, ada seorang anak muda yang bernama Doni dan seorang lelaki setengah tua yang bernama pak Yaris. kedua nya sedang Berziarah di pemakaman tersebut dengan dipimpin oleh seorang kuncen kuburan pengurus tempat pemakaman umum itu. sebelum nya pak Yaris sudah menjemput Doni yang menunggu nya di jalan trotoar di tepi jalan umum ruko pinangsia. kedua nya kini telah sampai di tempat pemakaman yang dimana dipemakaman itu adalah tempat disemayamkan nya mendiang pak Randi dan anak pertama nya pak Yaris yang sudah meninggal ketika masih bayi.


Setelah proses ziarah kubur itu selesai dilakukan oleh kuncen pemakaman itu dan di ikuti oleh Doni dan pak Yaris, kuncen tersebut pamit setelah pak Yaris memberikan amplop berisi uang kepada kuncen tersebut. kini hanya Doni dan pak Yaris saja yang sedang berada di makam tersebut. kedua nya sedang berjongkok dan menghadap dua buah makam yang tak terlalu jauh dari satu makam orang dewasa itu.


Setelah mereka berdua sama-sama bungkam, pak Yaris mulai perdengarkan suara nya kepada Doni.


"apa kamu lihat makam kecil di sebelah kanan makam mendiang ayah mu ini nak..???" tanya pak Yaris kepada Doni sambil pandangan mata pak Yaris menatap ke arah sebuah makam kecil. anak muda itu lalu menatap ke arah sebuah makam kecil itu dan bertanya kepada pak Yaris tentang makam siapa itu. pak Yaris lalu menjelaskan nya bahwa makam anak kecil itu adalah makam anak pertama nya yang sudah meninggal sejak bayi dan sudah di ceritakan sebelum nya kepada Doni tentang sebab musabab nya meninggal dunia.


Di batu nisan makam anak kecil itu, ada sebaris nama 'Deril Yaristiawan' beserta tanggal tahun lahir dan tanggal tahun meninggal nya. Doni yang melihat itu segera berkata tanya kepada pak Yaris.

__ADS_1


"apakah mendiang anak pak Yaris ini seumuran denganku..??? di lihat dari tanggal lahir nya, sangat berdekatan dengan tanggal lahir ku pak.??" ucap Doni bertanya dan pak Yaris hanya bergumam dalam senyum.


Pertanyaan Doni itu hanya dibalas oleh pak Yaris dengan sepatah kata.


"kalian terlahir memang berdekatan dan lahir hanya beda beberapa hari saja nak Doni." ucap pak Yaris masih menatap kosong ke arah makam kecil di sebelah makam mendiang nya pak Randi.


Doni hanya manggut-manggut saja dan kemudian ia bertanya lagi kepada pak Yaris.


"lalu pak, apakah makam anak bapak dan makam ayah ku sengaja dikuburkan secara berdampingan..???" ucapan tersebut langsung dibalas oleh pak Yaris.


"ayah mu yang menginginkan nya nak. sebelum ayah mu meninggal dunia, beliau pernah berkata untuk memakamkan jenazah nya di dekat makam anak bapak setelah beliau meninggal. setelah sepeninggal nya mendiang ayah mu dari dunia ini, ia lalu disemayamkan dipemakaman ini dan kala itu kau juga ikut nak. alasan ayah mu ingin dimakamkan didekat mendiang anak bapak, beliau berkata ingin menjaga anak bapak yang sudah lebih dulu meninggal dan bapak hanya bisa menuruti saran ayah mu itu ketika beliau menyuruh bapak untuk menjaga dan membantu mu setelah kamu mendapatkan semua warisan dari mendiang ayah mu melalui bapak. begitu cerita nya nak Doni." ujar pak Yaris dan air mata nya seketika meleleh di pipi nya.


Doni juga sebenar nya ikut sedih mendengar nya dan ia juga sebenar nya sangat berat sekali kehilangan ayah kandung nya yang sudah bertahun-tahun lama nya meninggal dunia. tetapi kini Doni berusaha untuk tidak menangis dan tegar akan kenyataan tersebut. ia tak mau arwah ayah nya sedih melihat anak nya menangisi kematian ayah nya itu. begitu pun pak Yaris, ia sudah mengelap air mata nya dan berusaha agar tetap tegar menghadapi kenyataan yang sudah terjadi sekian lama nya itu.


Kini kedua nya bangun dari berjongkok nya setelah pak Yaris berkata kepada Doni untuk ikut pulang ke rumah nya karena istri muda nya pasti sudah menyiapkan untuk makan siang di rumah nya. Doni hanya mengangguk menyetujui saran tersebut dan mereka kini berjalan ke luar pemakaman tersebut menuju mobil nya pak Yaris.


Terik matahari kala siang hari yang diperkirakan sudah jam setengah dua belas siang itu, mulai terasa panas menyengat ketika dirasakan oleh Doni dan pak Yaris. kedua nya segera masuk ke dalam mobil nya pak Yaris untuk pulang menuju rumah nya.

__ADS_1


Doni sengaja di ajak karena ingin dikenalkan oleh pak Yaris kepada istri muda nya dan anak nya. Doni tak banyak mengelak dan ia hanya menuruti ajakan dari pak Yaris yang sekarang sudah resmi menjadi ayah angkat nya Doni.


__ADS_2