KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
KESEMPATAN KEDUA


__ADS_3

JANDA Berumur empat puluh tahun itu masih bersujud mengiba-iba kepada Doni untuk mencabut tuntutan nya agar dibatalkan dari dipecatnya ibu Yani dari pekerjaan nya. pak Yaris hanya bisa diam menunggu keputusan dari Doni dan pak Yono hanya ikut memperhatikan saja.


Doni kini berjongkok dan membangunkan ibu Yani seraya berkata.


"bangun bu. saya mengerti dan paham dengan keadaan keluarga ibu yang sebenar nya. tetapi, saya hanya minta kepada ibu agar ibu bisa merubah sikap dan watak ibu yang sebelum nya. jujur perasaan saya masih sakit ketika ibu memaki-maki saya seperti itu. makian ibu membangkitkan luka lama di dalam hati saya yang di akibatkan oleh makian ibu saya dan ayah tiri saya yang sudah tega mengusir saya dari rumah. sebagai seorang anak yang yatim, saya pun merasakan bagaimana rasa nya kehilangan seorang ayah disaat saya masih kecil sampai sebesar sekarang. begitupun perihal anak tunggal ibu yang masih SMP yang sejak kecil sudah kehilangan seorang ayah kandung dan saya pun merasakan hal yang sama dengan anak ibu." ujar Doni menjelaskan uneg-uneg hati nya.


Ibu Yani masih bersujud saja sambil menangis dan kata-kata meminta maaf terus ia lontarkan.


Doni kini menatap pak Yaris dan berkata.


"pak Yaris, batalkan tuntutan pemecatan itu dan beri ibu Yani ini Kesempatan Kedua agar bisa merubah sikap nya jika masih ingin bekerja di tempat ini." pak Yaris hanya mengangguk menuruti saran Doni.


Pak Yaris kemudian berkata kepada ibu Yani agar segera bangun dan tidak jadi memecat nya dengan syarat, ibu Yani harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik. ibu Yani menjawab perkataan pak Yaris dengan sumpah yang ia ucapkan supaya ia tidak akan mengulangi kesalahan nya lagi. ibu Yani sudah bangun dari bersujud nya dan berterima kasih banyak kepada Doni dan pak Yaris yang masih memberikan kesempatan untuk nya.


Pak Yono sudah keluar dari tadi karena ia harus segera berjaga di pintu kantor perusahaan tersebut. kini, ibu Yani sudah mulai bekerja lagi dan ia segera membereskan bekas makan Doni sebelum nya.


Sedangkan pak Yaris sudah masuk ke dalam ruangan kantor nya bersama Doni. ada suatu perbincangan yang akan mereka bicarakan berdua. waktu menunjukan pukul tiga sore dan sebentar lagi para karyawan kantor pulang bekerja.


Doni kini sudah masuk dan duduk di kursi sofa di ruangan pak Yaris dan mereka duduk bersebelahan di sofa tempat pak Yaris istirahat. terdengar Doni bertanya kepada pak Yaris.


"hal apa yang pak Yaris akan di bicarakan bersama saya..??"


"begini nak Doni. bapak baru ingat, ketika bapak melihat isi berkas surat warisan yang di wariskan hanya untuk nak Doni. ada suatu warisan yang sebenar nya diberikan kepada ibu Dewi.."

__ADS_1


degg..degg..degg..!! jantung Doni berdetak dengan keras nya mendengar ucapan pak Yaris.


Doni kini berkerut dahi dan mencoba bertanya kepada pak Yaris.


"maksud bapak bagaimana..??? bukankah


hak waris untuk ibu sudah diberikan ketika pak Yaris datang ke rumah lima belas tahun yang lalu..???" ujar Doni bertanya-tanya penuh keheranan.


Pak Yaris kemudian beranjak dari duduk nya dan mengambil berkas yang ada di meja nya dan ia kembali lagi ke arah Doni sambil berkata.


"ini lihat nak. bapak lupa kala itu tidak memberikan nya sekalian tentang warisan yang isi nya cek ratusan juta" ujar pak Yaris dan membuka isi surat wasiat tersebut.


Ia membaca nya secara teliti sembari memahami isi surat wasiat di lembar kertas portofolio. Doni hanya manggut-manggut saja dan kemudian ia memberikan surat wasiat itu lagi kepada pak Yaris seraya berkata.


pak Yaris hanya tersenyum dan menjawab ucapan Doni.


"nak Doni, bapak pun sepemikiran dengan mu. tetapi ini adalah amanat mendiang ayah mu yang harus bapak laksanakan jika bapak sampai lupa, bapak yang nanti nya akan di hantui terus oleh rasa bersalah terhadap mendiang ayah mu nak.." ujar pak Yaris dan Doni hanya manggut-manggut saja mencoba memahami nya.


Lalu pak Yaris berkata kepada Doni.


"apa kau bisa antar bapak ke rumah ibu mu yang sekarang nak Doni..???" tanya pak Yaris.


Doni hanya merenungi pertanyaan itu seakan enggan mau mengantar pak Yaris untuk mendatangi kediaman ibu nya yang telah tega mengusir nya itu.

__ADS_1


Doni menatap pak Yaris dan berkata.


"jika bapak dan saya datang ke tempat ibu brengsek itu dan kemudian ibu saya memaksa menuntut warisan ayah yang sudah di berikan kepada saya, apa yang akan bapak lakukan jika semua itu terjadi..???" tanya Doni balik bertanya karena ia berfikir semua itu akan ada resiko yang akan mereka hadapi jika nekat datang ke sarang macan betina yang sedang kelaparan.


Pak Yaris pun membenarkan saran Doni dan kemudian ia memikirkan cara yang tepat agar masalah itu bisa di atasi. di saat mereka berdua saling bungkam,


pak Yaris segera berkata kepada Doni.


"begini saja nak. kau ikut saja dengan bapak ke rumah ibu mu dan nanti bapak yang akan bertindak jika ibu mu menuntut hal lain nya. di tambah, berkas-berkas yang sudah kau tanda tangani pun valid karena ada kertas pesan di dalam amplop yang sampai sekarang belum bapak buka karena suatu perintah dari mendiang ayah mu." ucap pak Yaris kepada Doni.


Doni menatap pak Yaris dan berkata.


"pesan seperti apa pak..??? apa bapak bisa jelaskan sedikit..???"


pak Yaris hanya mengangguk dan menjelaskan nya kepada Doni.


"isi pesan yang di tulis langsung oleh mendiang ayah mu memakai tulisan komputer, berisi tentang hak paten untuk membenarkan warisan yang sudah diberikan kepada anak tunggal nya tidak bisa di ganggu gugat dan ibu Dewi tidak bisa menyentuh warisan itu sedikit pun atau memaksa merebut nya. jika ibu mu memaksa merebut atas hak nya, berurusan nya pasti dengan polisi karena bapak yang mengantar mendiang ayah mu ke kantor polisi dengan pengakuan yang sudah di ucapkan oleh ayah mu dan kesaksian oleh ketua polisi yang sudah akrab dengan bapak dan ayah mu. isi surat amplop ini ada tanda tangan legitimasi dari polisi juga. jadi isi pesan amplop ini bukan hanya di buat-buat untuk sekedar main-main." ujar penjelasan pak Yaris.


Doni terkagum-kagum kepada ayah nya bahwa sebelum ayah nya meninggal, ayah Doni sudah memikirkan hal seperti itu sampai membuat bukti nyata tentang harta warisan nya yang masih di simpan di dalam brankas milik nya dan hanya bisa diketahui oleh pak Yaris saja sebagai sekertaris kepercayaan mendiang ayah Doni.


Setelelah Doni menyetujui saran pak Yaris, kini kedua nya akan berangkat setelah para karyawan kantor pulang dan kantor tutup. Doni sudah keluar ruangan pak Yaris untuk mandi dan berganti pakaian di lantai tiga dan ia menatap kesana-sini sambil berjalan naik ke lantai tiga dan sesekali memperhatikan para karyawan kantor yang sedang beres-beres pekerjaan nya yang sudah selesai.


Para karyawan yang menatap Doni hanya tersenyum canggung dan pura-pura menunduk hormat kepada Doni. anak muda itu pun membalas hormat dari karyawan kantor nya karena Doni bukan tipe orang yang gila jabatan atau orang yang mudah terpengaruh dengan keadaan. memang ia sekarang merasa hidup nya lebih baik dan terjamin dari sebelum nya, tetapi ia masih ingat ketika diri nya susah dan ia tidak mau sampai kelakuan nya membuat orang lain sengsara akibat kelakuan nya yang sudah menjadi anak yang tajir melintir menjadi sombong dan memandang rendah terhadap orang yang ada di bawah nya. contoh nya seperti perlakuan ibu Yani yang dilakukan sebelum nya terhadap Doni. untung Doni seorang anak yang berwatak dewasa seperti mendiang ayah nya dan mau memaafkan kesalahan orang yang telah menyakiti nya. jika watak Doni seperti ibu nya, mungkin dalam sekejap harta warisan yang sudah menjadi milik nya akan ludes dan habis secara perlahan-lahan.

__ADS_1


__ADS_2