
WAWAN Sudah tahu siapa mobil yang berhenti di jalan umum depan rumah nya itu dan pak Ilham tak tahu siapa pemilik mobil itu sebenar nya. ketika pintu kemudi mobil terbuka, nampaklah seorang pemuda tampan memakai pakaian celana jeans biru laut dan kaos abu-abu ketat merek Gucci. pakaian yang ketat itu menampakan otot dada nya yang lumayan berisi dan kekar serta menambah kejantanan seorang lelaki berumur dua puluh tujuh tahun itu.
Wawan yang tersenyum menatap pemuda yang turun dari mobil itu dan menuju ke arah depan rumah nya, langsung berkata kepada ayah nya.
"itu orang nya pak."
"maksud mu si Doni itu nak???"
"lha iya pak. tidak ada berubah dari wajah nya, hanya badan nya saja yang semakin berisi dan kekar." ujar Wawan dan pak Ilham semakin membelalakan mata nya ketika Doni sampai di depan teras rumah itu sembari mengucap salam. Wawan dan ayah nya membalas salam tersebut dan kini Doni melepas sepatu yang biasa di pakai untuk jalan-jalan oleh nya.
Setelah Doni mendekati ayah dan anak itu, ia salim kepada pak Ilham dan bersalaman dengan Wawan. di saat itu juga Doni bertanya kepada pak Ilham menanyakan kabar nya.
"apa kabar pak. sudah lama kita tak bertemu?"
"alhamdulilah baik Don. bapak pikir yang datang bukan kamu?" tanya pak Ilham tak menyangka akan kedatangan Doni itu.
"sebenar nya kedatangan saya kemari, ada perlu dengan pak Ilham dan Wawan juga." di saat itu juga Wawan bertanya kepada Doni.
"tumben Don, memang nya ada perlu apa???" Doni lalu menjawab nya.
"aku akan membeli lahan kebun yang kita perbincangkan semalam itu melalui perantara ayah mu Wan."
"ouh begitu?" ujar Wawan sembari manggut-manggut dan Doni membenarkan ucapan dari Wawan tadi.
__ADS_1
Lalu pak Ilham bertanya kepada Doni tentang tujuan nya itu.
"jadi kamu mau memakai jasa bapak sebagai perantara jual beli tanah kebun Don???"
"iya pak Ilham. tolong bantu saya ya pak, soal imbalan bisa di atur nanti." ujaran Doni tersebut langsung di tanggapi oleh pak Ilham dan di ucapkan kepada anak nya.
"tuh kan nak, rezeki enggak bakal kemana. orang pintar kayak bapak ini banyak di cari sama orang, bukan bapak yang mencari uang tapi uang yang malah mencari bapak. hehehe." Wawan yang mendengar ucapan ayah nya yang terbilang konyol itu, hanya tersenyum dongkol menatap Doni dan Doni pun ikut tertawa geli melihat ayah dan anak yang terkadang sering bertingkah konyol seperti itu.
Setelah pak Ilham menyudahi tawa senang nya, ia lalu bertanya kepada Doni.
"apakah orang yang menjual tanah lahan itu bernama ibu Yanti dan pak Sarto, Don???"
"lho kok bapak tahu??" tanya Doni kaget dan dijawab oleh Wawan.
"iya betul itu. tumben otak mu cerdas nak?" ujar pak Ilham berkata usil kepada anak nya dan Wawan hanya berkata ketus kepada ayah nya.
"biasa lah pak. kalau bapak nya pintar, anak nya pun pintar juga. iya kan Doni??"
"wkwkwk terserah apa kata mu Wan." ujar Doni sembari tertawa geli dan pak Ilham pun ikut tertawa.
Keributan tiga orang yang berbincang di depan rumah itu, membuat ibu nya Wawan yang sedang ada di dapur rumah nya. kini berjalan dari dalam rumah nya menuju luar rumah nya.
"ehh ada Doni." ujar ibu nya Wawan sedikit kaget dan Doni langsung salim kepada ibu nya Wawan. lalu ibu nya Wawan bertanya kepada Doni.
__ADS_1
"tumben pagi sekali kamu datang kemari Don. apa ada sesuatu yang penting kah?"
"ada bu. alasan saya datang kemari karena saya akan mengajak pak Ilham dan Wawan ikut ke kampung duren untuk menjadi perantara saksi membeli tanah kebun yang akan saya beli."
"ouh jadi begitu. hmm, yasudah kalau begitu. semoga lancar ya nak, ibu mau lanjut masak dulu." Doni hanya mengangguk akan ucapan ibu nya Wawan yang kini sudah masuk lagi ke dalam rumah nya. Wawan dan ayah nya yang sejak tadi diam memperhatikan Doni dan ibu nya Wawan, kini mulai bersuara dan di mulai dari pak Ilham.
"memang nya kapan berangkat nya Don???"
"sekarang saja pak. jangan siang-siang, saya ada keperluan lain lagi."
"oh begitu, baiklah kamu tunggu dulu di sini bersama Wawan. bapak ganti pakaian dulu ya Don."
"iya pak." jawab Doni dan Wawan saat itu juga berkata kepada Doni.
"Don, kamu tunggu di sini saja dulu ya. aku juga mau ganti pakaian dulu"
"oke Wan, silahkan." setelah berkata begitu, Wawan beranjak masuk ke dalan rumah nya bersama ayah nya yang sudah terlebih dahulu masuk.
Kini Doni duduk di kursi bekas duduk Wawan tadi dan ia segera mengambil ponsel nya yang ia simpan di kantung celana nya. dalam hati ia membatin ketika mengecek ponsel nya.
"kemana ini anak? tumben pesan whatsapp ku enggak dibalas-balas. panggilan whatsapp dan panggilan telepon biasa pun enggak dia angkat sama sekali? apakah ada masalah dengan Dona?" ujar batin Doni terus saja berkecamuk begitu. di satu sisi berada di dalam kamar nya Dona, gadis itu sedang duduk termenung sembari memeluk bantal. ia sudah bangun sejak jam setengah delapan pagi tadi dan ia belum beranjak dari ranjang nya.
Area kelopak mata nya nampak bengkak karena semalaman ia menangis terus. rambut nya awut-awutan tak terurus dan wajah nya sedikit pucat. Dona masih duduk diranjang nya dan bersandar ke samping dinding ranjang nya. ia terlihat sedang melamun dan tatapan mata nya kosong. sejak tadi pikiran nya memikirkan tentang hubungan nya dengan Doni itu apakah harus di lanjut atau harus berakhir cukup sampai di situ saja. perihal poto yang semalam ia lihat dari pesan whatsapp yang dikirim mbak Yuni kepada nya, membuat diri nya sempat stres dan membuat gairah hidup nya tak bersemangat sama sekali. pikiran nya bagai kalut dan sudah tak memikirkan keadaan diri nya yang hampir mirip seperti orang gila itu.
__ADS_1
Pintu kamar nya masih terkunci dari dalam dan gordeng kamar nya pun masih tertutup. Dona terus saja melamun memikirkan jalan yang tepat untuk hubungan nya itu dengan Doni dan ia tak mau menghubungi Doni duluan karena alasan tertentu. di depan rumah nya Wawan, pak Ilham dan Wawan sudah berganti pakaian dan mereka kini pamit kepada ibu nya Wawan yang bernama ibu Aminah. Doni dan pak Ilham menaiki mobil Doni dan Wawan menolak naik mobil dan berkata ingin membawa motor nya sendiri. alasan Wawan ketika ditanya oleh Doni kenapa tak mau ikut naik ke mobil nya, Wawan berkata bahwa ia ada janji dengan Avril pada jam sembilan pada pagi itu. janji yang dikatakan Wawan kepada Doni adalah Wawan akan pergi mengantarkan Avril pulang ke rumah orang tua nya sekaligus mengenalkan Wawan kepada kedua orang tua Avril. Doni paham akan alasan dari Wawan tersebut dan kini Wawan sudah lebih dulu mengendarai motor matic nya menuju kampung duren dan Doni nanti menyusul dengan mengendarai mobil nya bersama ayah nya Wawan yaitu pak Ilham.