KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
BERMIMPI


__ADS_3

SORE Hari mulai membias menggantikan terik nya sinar matahari disiang hari kala itu. seorang pemuda terlihat sedang tertidur di emperan depan ruko yang sedang tertutup. ia hanya menghiraukan suara mobil yang berlalu-lalang dengan berisik dan menganggu telinga siapa saja yang mendengar nya. Doni masih tertidur dengan pulas nya. ternyata ia sedang Bermimpi dan duduk di sebuah kamar rumah yang mewah dan besar. di depan nya terlihat samar-samar ada sesosok lelaki berwajah tampan dan terlihat masih muda.


Lelaki muda itu berkata kepada Doni yang masih bingung dengan apa yang ada di hadapan nya.


"nak..., jaga diri mu baik-baik ya. ayah akan selalu menyertai mu kemana pun kamu pergi."


"si..siapa kau..???" tanya doni melihat wujud samar-samar di hadapan nya. sosok lelaki itu tersenyum dan berkata kembali.


"aku adalah ayah mu nak. kamu jangan sedih dan jangan putus asa dalam menjalani hidup ini. anggaplah kejadian pahit ini ujian dari hidup mu nak."


"ayah..?! ayaaah..!! hah..hah..hah.." Doni terbangun dan menggeragap memanggil ayah nya. napas nya tersendat-sendat karena mimpi yang ia alami barusan membuat nya berkeringat dingin.


Pemuda itu langsung membuka tas nya dan mengambil air minum yang sebelum nya diberi oleh pak satpol pp yang baik kepada nya. setelah Doni minum air mineral itu dan memasukan nya kembali ke dalam tas nya, ia kini merenungi ucapan yang ada di dalam mimpi nya. ia masih mengingat jelas yang hadir di mimpi nya adalah suara ayah nya dan nampak jelas samar-samar. ayah nya memanggil nama nya serta sebuah pesan yang masih ia ingat.


Orang-orang yang melintas di depan emperan ruko melirik ke arah Doni yang berpakaian kusam dan dekil. ia tak pernah mencuci muka nya bahkan berganti pakaian pun tidak. padahal, di dalam koper nya masih banyak baju dan celana yang masih bagus. ia tidak mau memakai nya dan membiarkan pakaian yang ia kenakan kusam dan kotor.


Ia duduk memeluk kedua lutut nya dan masih melamuni kejadian yang ia alami di alam mimpi tadi. tanpa ia sadari, ada orang yang melemparkan uang pecahan dua ribuan ke arah nya. Doni kaget dan melihat seorang karyawan kantoran lewat tiga orang di depan nya. satu dari ketiga orang itu melemparkan uang dua ribuan tiga lembar dan pergi begitu saja seakan acuh tak acuh kepada Doni.


Doni mengambil uang itu dan membatin.


"apa aku jadi pengemis saja ya..???"


ketika Doni berpikiran ingin menjadi seorang pengemis, timbul pikiran ketika ia masih kecil dan ingatan itu tentang cerita bibi Asih kepada nya ketika akan tidur.

__ADS_1


"manusia mempunyai dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, dua lubang hidung dan sepasang bibir. tuhan menciptakan anggota tubuh kita dengan berpasangan agar saling bekerja sama. contoh nya den, jika aden Doni lubang hidung nya tersumbat satu, bagaimana rasa nya..???"


"mampet lah bi. susah napas." jawab Doni kecil.


"hehehe benar den. sama hal nya dengan anggota tubuh lain nya. fungsi nya dua tangan untuk bekerja atau melakukan kegiatan yang tidak bisa dipakai oleh kaki. begitu pun pekerjaan kaki seperti contoh berjalan, tangan tidak bisa melakukan pekerjaan kaki karena berbeda fungsi."


"aku tidak paham maksud bibi bicara apa." gerutu Doni dengan wajah polos nya.


"yah singkat nya. jika kita masih bisa mempunyai tangan dan kedua kaki, bekerja lah yang halal dengan jerih payah kita sendiri. langkah kan kaki kita untuk berjalan mencari pekerjaan itu dan ketika sudah dapat, kerjakan dengan tangan kita. begitu den" ujar bibi Asih menjelaskan.


Doni Kecil Masih merenungi ucapan bibi Asih. lalu ia bertanya lagi.


"lalu, jika pengemis itu bagaimana bi..?? Doni pernah melihat pengemis yang tangan nya buntung atau jalan nya yang terpincang-pincang. apakah mereka pantas bekerja dengan cara meminta-minta uang kepada orang lain..???" bibi Asih termenung mendengar ucapan Doni dan tak lama, bibi Asih tersenyum dan berkata.


ujar penjelasan bibi Asih kala Doni masih berumur sepuluh tahun.


Kini Doni sedang merenungi ingatan masa lalu itu dan sesekali tersenyum karena rindu dengan sosok bibi Asih yang penyabar dan tekun dalam bekerja. Doni masih menimbangkan pikiran nya untuk menjadi seorang pengemis. tetapi ia masih terngiang-ngiang ingatan tentang cerita bibi Asih kepada nya dulu.


Kemudian Doni bangun dan memasukan uang lembaran dua ribu itu ke kantong celana nya. ia melanjutkan perjalanan nya lagi ke dalam kota dan entah tujuan nya akan kemana ia belum tahu jelas. padahal di sebelah ruko tempat Doni tidur, ada kantor yang mencari karyawan untuk bekerja di tempat itu. ada kertas kecil menempel di dinding ruko dekat Doni tertidur. Doni baru melihat nya dan ia melirik ke arah kantor itu. di depan kantor itu ada satpam yang sedang berjaga dan sedang mengobrol dengan beberapa perempuan muda memakai seragam kantor. Doni malu dan tidak jadi menanyakan tentang lowongan pekerjaan itu. ia menunggu para karyawan kantor itu pergi karena waktu telah sore sebentar lagi cahaya langit petang muncul.


Tak lama, para karyawan itu pulang dengan kendaraan nya masing-masing dan satpam itu juga siap-siap mau pulang. Doni segera mendekati satpam itu dan berkata.


"permisi pak saya mau tanya.."

__ADS_1


"oh mau tanya apa dek..??"


"anu, benarkan di tempat ini ada lowongan pekerjaan..???"


"ada dek. kenapa emang nya..??"


"syarat menjadi karyawan di tempat ini apa ya pak. saya mau melamar tapi tidak punya pengalaman kerja." ujar Doni kepada satpam itu.


"wah dek. jangankan dirimu yang tidak punya pengalaman kerja, yang sudah berpengalaman pun tidak ada yang lolos ketika di interview oleh bos di sini." ujar satpam itu mematahkan semangat Doni.


Doni merenungi ucapan satpam itu dan ia menatap ke arah palang atas kantor itu.


lalu satpam itu terdengar bicara lagi.


"sudah dek kamu cari kerjaan yang lain saja seperti di restoran atau office boy. pasti kamu diterima jika melamar di tempat seperti itu."


"terima kasih pak saran nya. kalau begitu saya lanjut meneruskan langkah saya. permisi pak." lalu Doni meninggalkan satpam itu dan berjalan dengan gontai nya menyusuri pinggiran ruko-ruko kantor disepanjang jalan itu.


Satpam itu hanya mengangguk dan ia pulang berlawanan arah dengan Doni. langkah kaki pemuda itu terus saja berjalan dan sesekali mata nya menatap para karyawan-karyawan yang berseragam keluar dari ruko kantor-kantor itu dan pulang membawa kendaraan mereka masing-masing. ada juga yang berjalan dengan teman nya sambil berbincang-bincang di perjalanan pulang menuju tempat tinggal nya masing-masing.


...*...


...* *...

__ADS_1


__ADS_2