KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
PESAN IBU


__ADS_3

SETELAH Dona mengulang kembali ingatan masa kecil nya tentang diri nya yang berteman akrab dengan anak majikan ibu nya itu, Dona lalu bertanya kembali kepada ibu nya.


"apakah ibu tahu penyakit apa yang merenggut hidup ayah?" ucapan tersebut membuat sang ibu terenyuh menatap sayu kepada anak gadis nya. Dona tahu bahwa sang ibu merasa berat untuk menceritakan kembali peristiwa pahit yang di alami ibu nya dan diri nya ketika masih kecil dulu.


Dona yang sekarang ini sudah dewasa langsung berkata kepada ibu nya.


"maaf kan Dona bu, karena sudah bertanya yang seharus nya tak pantas Dona tanyakan kepada ibu." ucapan bernada sesal itu langsung dijawab oleh ibu nya yang sekarang sudah tersenyum dan menghilangkan wajah sedih nya.


"tak apa-apa nak. justru dengan bertanya nya dirimu saat ini, bisa menjadikan pelajaran hidup mu nanti jika sudah bersuami."


"memang nya apa hubungan nya bu???" tanya Dona semakin penasaran.


Sang ibu lalu menjelaskan nya kepada anak gadis nya itu.


"mendiang ayah mu termasuk orang yang bandel dan tak mau mendengarkan apa kata ibu. biasa nya sehabis pulang bekerja dari rumah mendiang pak Randi, ayah mu selalu pulang larut malam dan kebiasaan nya selalu mandi malam. ditambah merokok nya yang tak cukup sehari sebungkus, membuat paru-paru ayah mu bocor sampai muntah darah. penyakit paru-paru basah dari sering mandi malam pun menjadi pemicu gejala angin duduk sampai membuat ayah mu meninggal. itulah yang dikatakan dokter kepada ibu dan ibu merasa bersalah sebagai seorang istri yang tak punya ketegasan untuk melarang kebiasaan ayahmu itu nak. maka dari itu, Pesan Ibu kepada mu. tegaslah nanti kepada suami mu jika melakukan hal yang seperti itu karena resiko nya adalah nyawa. ingat pesan ibu ini baik-baik nak! jika kamu lalai akan hal tersebut, kamu pasti akan merasakan apa yang pernah ibu rasakan sampai saat ini. apa kamu paham nak...???" ucap sang ibu menegaskan ucapan nya itu dan bertanya kepada anak gadis nya.

__ADS_1


Dona hanya mengangguk dan mata nya sudah sedikit merah karena menahan menahan air mata akibat rasa sedih ketika mendengar hal tersebut. setelah perbincangan itu selesai, jam menunjukan pukul setengah delapan malam dan sudah hampir satu jam mereka berbincang-bincang seperti itu. kemudian mereka melaksanakan shalat isya yang sudah berlalu itu dan setelah itu ibu Dona menyuruh Dona untuk tidur karena besok hari adalah hari pertama nya masuk kerja dan setelah itu ibu nya langsung bergegas membereskan sajadah dan mukena bekas shalat mereka itu ke tempat nya.


Dona yang kini sudah masuk ke dalam kamar nya dan sudah melepaskan mukena shalat nya, segera meraih ponsel nya yang sebelum nya ia charge kini sedang ia mainkan sambil rebahan diranjang nya. ketika ia menyalakan data internet nya, pesan masuk begitu banyak dan itu adalah dari teman nya yaitu Avril dan satu lagi dari bos baru nya yaitu Doni. anak gadis itu membuka nya satu persatu dan membalas pesan dari april dahulu yang bertanya kepada Dona sedang melakukan persiapan apa untuk mulai bekerja besok. setelah Dona membalas nya tanpa ada persiapan apa-apa, ia lalu membuka pesan dari bos baru nya itu.


Ia membaca nya dan ternyata itu adalah tugas yang harus ia kerjakan esok hari dan ia kini sedang membaca isi pesan lumayan panjang dan lebar itu. di sisi lain di kamar nya Doni, anak muda itu sudah selesai makan malam nya. ketika ia mandi sore sebelum nya, anak itu langsung melaksanakan shalat maghrib dahulu dan setelah itu ia mengaji sampai shalat isya tiba. lama nya ia mengaji membuat perut nya lapar dan tepat di jam setengah delapan setelah shalat isya, ia menyudahi ibadah nya dan mulai makan nasi bungkus yang ia beli sebelum nya diwarteg langganan nya.


Anak muda itu kini sedang duduk di sofa nya sembari memainkan ponsel nya. saat itu juga ponsel nya berbunyi karena ada satu pesan whatsapp barusan. ketika ia membuka nya ternyata itu dari sekertaris baru nya yaitu Dona.


"terima kasih pak bos atas pesan tugas nya." ujar isi pesan whatsapp Dona kepada Doni. anak muda itu hanya tersenyum tipis dan kemudian membalas nya.


"kamu sedang apa? jangan sampai begadang ya!? besok kamu masuk pagi lho!" ujar isi tulisan Doni sengaja di bikin tegas.


Ia baru saja membalas pesan dari bos nya itu dan kini sedang menatapi poto profil whatsapp bos muda nya itu seraya membatin.


"di lihat-lihat secara rinci, wajah bos tampan ini mirip seseorang yang pernah aku temui dulu. tetapi kala itu lelaki itu memakai masker dan aku tak bisa memastikan nya benar apa salah!?." ucap Dona dalam hati nya. lalu ia melanjutkan ucapan batin nya lagi.

__ADS_1


"dari halis dan mata nya persis dengan lelaki yang tak sengaja menabrak ku dulu. tetapi apakah ini orang yang sama? aku lihat dulu lelaki itu berpakaian serba kusam dan terlihat kumuh. mana mungkin dua tahun ini lelaki itu bisa menjadi seorang CEO Bos suatu perusahaan ternama..??? ahhh..., sudahlah!. lebih baik aku tidur saja tak perlu memikirkan hal seperti itu." ujar batin Dona penuh dengan ketegasan. kini anak gadis itu mematikan ponsel nya dan kemudian ia tidur juga karena malam telah semakin larut.


Waktu di malam hari terus berjalan dan tak terasa pagi hari sudah mulai tiba. kokok ayam jantan terdengar berkali-kali di dekat rumah Dona. tetangga Dona memang memelihara ayam jadi wajar saja keadaan di kampung pinggiran kota itu masih banyak yang memelihara ayam. pagi yang sebentar lagi terbit nya matahari itu, telah menyambut bangun nya ibu Asih dari tidur nya. ia menatap jam dinding di kamar nya masih jam setengah enam pagi dan ia segera bergegas bangun menuju keluar kamar untuk membangunkan anak gadis nya.


Di pagi itu Dona masih tertidur dengan pulas nya dan terlihat jarum jam alarm menunjukan pukul tujuh pagi. jadi Dona akan bangun setelah jam alarm itu berbunyi sekitar satu jam setengah lagi. tetapi kali ini bukan jam alarm yang membangunkan nya, tetapi malah suara ketukan pintu dan suara ibu nya memanggil-manggil dari balik pintu luar kamar nya. anak gadis itu saat itu juga langsung terbangun dan mata nya terlihat masih lengket untuk melek. suara ketukan dan panggilan dari ibu nya terus saja terdengar dan Dona memaksakan bangun dan membuka pintu kamar nya.


Setelah pintu di buka, sang ibu sedang berdiri di depan pintu kamar nya Dona dan berkata.


"buruan sana mandi sayang. mumpung shalat subuh masih bisa di laksanakan. cepat ihh..., malah meringis begitu?!" ucap sang ibu berkata tegas kepada anak nya yang raut wajah nya meringis menahan jengkel.


"iya...iya bu!" setelah berkata tegas begitu, Dona langsung mengambil anduk nya dikamar nya dan langsung bergegas menuju kamar mandi.


Di satu sisi Doni sedang berada di halaman luar kantor nya. sebelum nya ia sudah mandi pagi dan shalat shubuh. setelah itu ia akan lari pagi agar stamina nya terjaga dan tidak terlihat sebagai lelaki yang loyo. ia lari pagi hanya mengelilingi ruko pinangsia saja dan ia memakai pakaian khusus olahraga begitu pun sepatu nya. kegiatan tersebut sudah sering Doni lakukan setiap pagi hari setelah ia selesai melaksanakan shalat subuh. biasa nya setelah itu, ia akan pergi mencari makanan untuk ia sarapan di pagi itu. kegiatan tersebut sudah Doni lakukan ketika luka di betis kaki nya sudah mengering sekitar setahun enam bulan yang lalu dan sampai saat ini luka bacokan tersebut masih menyisakan bekas jahitan dibetis kanan nya itu.


Peristiwa yang dulu pernah ia alami itu sampai saat ini masih teringat jelas akan orang-orang yang ingin mencelakakan nya dahulu. tetapi kini ia sudah aman dan tidak ada yang mengancam nyawa nya lagi. kecuali satu, yaitu perasaan cinta dari seorang perempuan yang suatu saat nanti pasti akan mengancam kebahagian nya lagi dikemudian hari.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2