KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
MENOLAK AJAKAN DARI MBAK YUNI


__ADS_3

RUANGAN Kantor Doni bagai sedang dilanda panas nya sinar matahari. sepasang muda-mudi yang sedang bercumbu mesra itu kedua nya sudah banjir oleh keringat dan kini mereka sedang berciuman kembali setelah mbak Yuni selesai menghisap kejantanan nya Doni yang super besar itu. setelah mereka berciuman, mbak Yuni langsung berkata kepada kekasih nya itu sambil merebahkan badan nya dengan posisi terlentang di sofa empuk itu.


"sayang mau dimasukin enggak nih? masak sarang burung ku dianggurin sih? kasihan burung kamu tuh udah gak kuat ingin masuk ke dalam sarang nya" ucap mbak Yuni sambil mengusap-usap sarang burung nya di depan Doni dan pandangan mata nya menatap penuh goda. pakaian mbak Yuni itu sudah setengah bugil dan rok celana kerja nya, ia singkapkan ke atas dan ia hanya memakai CD berwarna biru saja yang sudah ia pelorotkan ke paha nya yang mulus.


Doni yang menatap sarang lubang burung nya mbak Yuni yang sedang di elus-elus oleh pemilik nya itu, menjadi kian menatap tegang dan ia menjadi ragu untuk melakukan hal seperti itu. adik kecil nya yang sudah tegang dan sejak tadi belum memuntahkan cairan itu, segera melemas dan tidak tegang seperti tadi. lemas nya burung Doni itu, gara-gara teringat akan kejadian yang pernah ia lihat dulu. kejadian itu adalah hubungan badan yang dilakukan Tomi bersama ibu nya ketika Doni masih berumur sepuluh tahun dan ia melihat semua itu atas dasar tak sengaja. hasil dari hubungan badan itu adalah anak haram yang dikandung ibu nya Doni. maka nya Doni tak mau melakukan hal tersebut dan Menolak Ajakan Dari Mbak Yuni itu. ia sangat takut sekali akan kesialan yang akan datang menimpa diri nya lagi dan cukup sudah ia merasakan penderitaan pahit itu.


Doni yang sejak tadi menolak ajakan mbak Yuni itu, segera menatap burung nya Doni dan segera bertanya kepada anak muda itu.


"kok gak tegang lagi itu mu sayang?"


"aku ragu untuk melakukan hal seperti itu sayang." jawab Doni dan ia kemudian bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kantor itu.


Mbak Yuni yang gairah nya masih terpancar penuh napsu birahi nya yang besar itu, segera merengek kepada Doni untuk segera memasukan burung nya itu ke dalam sarang nya. tetapi Doni malah balik mengecam nya dan berkata tegas kepada mbak Yuni sembari menatap nya.


"cepat kenakan pakaian mu lagi sayang! sebentar lagi jam masuk kerja sudah di mulai dan jangan sampai membuat pak Yaris serta karyawan lain nya curiga terhadap kelakuan kita ini." ucap Doni dan ia kini masuk ke dalam kamar mandi untuk kencing dan membenarkan letak pakaian nya yang sudah morat-marit itu.


Mbak Yuni yang mendengar hal itu segera sadar akan keadaan nya sedang berada di mana. ia langsung bangkit dan buru-buru membenarkan letak pakaian nya yang morat-marit juga itu. rambut terurai nya ia sisir dengan jari-jari tangan nya dan ia lalu mengambil ponsel nya yang awal nya ia taruh di meja kerja Doni, kini ia ambil untuk memakai nya bercermin. wajah mbak Yuni masih cantik saja walaupun beberapa riasan ada yang pudar dan itu tak menjadikan persoalan bagi nya.


Tak seberapa lama Doni keluar dari kamar mandi, mbak Yuni sudah berpakaian rapi lagi dan keringat yang membasahi tubuh nya, sudah mulai perlahan kering karena hawa AC di ruangan kantor itu. hawa AC yang sejak pagi tidak Doni nyalakan, kini sudah dinyalakan oleh mbak Yuni dengan remote kontrol nya. mbak Yuni lalu menatap Doni dengan senyum menawan dan Doni masih terlihat jutek dan sedikit murung.


Mbak Yuni yang aneh melihat wajah Doni itu, segera mendekati nya dan memeluk nya sembari merangkul leher nya dan berkata.

__ADS_1


"kok wajah kamu kayak murung begitu sayang? apa aku punya salah ya sama kamu sayang?" tanya mbak Yuni bertanya-tanya dan Doni lalu melepaskan pelukan itu dan menjawab nya.


"nanti aku jelaskan." baru saja Doni berkata begitu, terdengar suara bel kantor berbunyi dengan nyaring.


tring...tring...tring...


kedua nya saling tatap dan kemudian Doni segera melepaskan pelukan tangan mbak Yuni dan berkata.


"kalau pak Yaris datang kemari, kau harus bisa beralasan sayang. aku takut ia curiga kepada kita!" ucap Doni dan mbak Yuni hanya mengangguk menyetujui saran tersebut.


Setelah Doni duduk dimeja kerja nya dan mbak Yuni duduk di depan kursi tempat meja kerja Doni, terdengar suara ponsel mbak Yuni berdering dan segera diangkat. Doni yang kini sedang mengoperasikan komputer nya itu, hanya bertanya siapa orang itu dan terdengar jelas orang itu adalah suara pak Yaris. mbak Yuni berkata kepada pak Yaris bahwa diri nya telah sampai dikantor itu dan sedang berbincang-bincang dengan bos kantor itu, yaitu Doni.


Setelah perbincangan telepon mbak Yuni dan pak Yaris selesai, lalu mbak Yuni berkata kepada Doni.


Setelah diluar, mbak Yuni ditatap oleh semua karyawan dan karyawati yang hampir semua nya sudah duduk di bangku kerja nya. mereka semua tak ada yang berani bertanya langsung karena mereka merasa segan terhadap mbak Yuni yang dibilang jabatan nya lebih tinggi dari mereka. setelah mbak Yuni mengetuk pintu ruangan kantor pak Yaris dan kemudian ia masuk, para karyawan dan karyawati kantor itu mulai berkasak-kusuk membicarakan ada nya mbak Yuni yang baru keluar dari dalam ruangan Doni yaitu bos mereka itu.


Sedangkan didalam kantin nya ibu Yani, pak Taufik kini sedang memainkan ponsel nya dan ia belum beranjak dari tempat duduk nya sejak tadi dikantin itu. para karyawan dan karyawati lain nya sudah masuk kembali ke tempat nya mereka bekerja. anak nya ibu Yani yang bernama Ajeng, kini telah pulang ke rumah nya membawa motor yang sejak pagi tadi dibawa ibu nya pulang. kini ibu Yani sedang duduk dimeja kasir dan mulai curiga terhadap pak Taufik yang belum dikenal nya itu.


Mbak Yani belum berani mendekati pak Taufik sebelum orang itu memanggil nya untuk membayar pesanan makan dan kopi nya. mata mbak Yuni sesekali menatap pak Taufik dan sesekali memainkan ponsel nya. tak seberapa lama, pak Taufik menelepon seseorang dan suara nya terdengar jelas oleh mbak Yani.


"oh iya bu, tentu saja. jadi itu adalah hal yang biasa terjadi dintempat itu? lalu, apa yang harus saya lakukan lagi bu? oh menginap saja? apa itu harus bu?" ucap nya pak Taufik berbicara sendirian dengan ponsel nya. ibu Yani tahu pak Taufik itu sedang berbincang dengan seseorang melalui ponsel nya.

__ADS_1


Tetapi yang membuat nya bingung adalah ucapan pak Taufik itu yang menjadikan nya mulai curiga akan ucapan nya tersebut. disaat pak Taufik menyudahi perbincangan nya lewat telepon dengan seseorang, ia lalu memanggil ibu Yani dan ibu Yani bergegas dari duduk nya dan menghampiri nya.


"sebentar ya pak, saya hitung dahulu." ucap ibu Yani dan mulai menghitung berapa uang yang harus dibayar oleh pak Taufik. setelah ibu Yani memberitahukan berapa nominal bayar nya, pak Taufik langsung membayar nya dan berkata.


"apa ibu ini tahu siapa pemilik asli kantor perusahaan di samping kantin ini??"


"maaf pak, bapak siapa ya bertanya begitu?" ucap ibu Yani balik bertanya dan pak Taufik langsung menjawab nya.


"saya karyawan baru di kantor itu bu, saya hanya sebagai petugas keamanan biasa saja." ucap pak Taufik dan ibu Yani hanya manggut-manggut saja.


Setelah ibu Yani memberikan uang kembalian pak Taufik, ia langsung menjawab pertanyaan pak Taufik tadi.


"kantor sebelah punya mendiang pak Randi dan kini sudah diwariskan kepada anak tunggal nya yang bernama Doni"


"oh begitu ya bu.?" ucap pak Taufik dan ibu Yani langsung bertanya lagi karena heran.


"memang nya untuk apa bapak menanyakan hal seperti itu?" ucapan tersebut hanya di balas dengan senyuman dan ia segera bangkit dari duduk nya dan berkata.


"tidak apa-apa bu, saya hanya ingin tahu saja." setelah berkata begitu, ia pamit keluar kantin dan ibu Yani hanya mengangguk mengiyakan ucapan pamit dari pak Taufik itu.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2