
PEREMPUAN Setengah tua yang diperkirakan berumur empat puluh tahunan itu menatap Doni yang sedang menuju ke arah nya. ibu kantin itu sedang membereskan meja bekas tiga karyawan kantor tadi. Doni tersenyum sopan kepada ibu kantin itu seraya berkata.
"permisi ibu. saya mau pesan makanan."
"oh..mari nak silahkan duduk. mau pesan apa..??" ucap ibu kantin itu sambil memberikan daftar menu makanan di kantin itu.
Doni kini duduk di kursi yang sudah di siapkan ibu kantin itu sambil melihat isi daftar menu makanan. ibu kantin itu sejak tadi menatap heran kepada Doni karena pakaian nya masih memakai pakaian pelamar kerja yaitu putih dan hitam. disela Doni sedang melihat-lihat isi daftar menu makanan di kantin itu, ibu kantin itu bertanya kepada Doni.
"maaf nak. kalau ibu boleh tahu, kamu ini karyawan baru di kantor sebelah ya..???"
Doni menatap ibu itu dan menjawab nya.
"iya ibu. saya karyawan baru dan baru pertama kali datang ke kantin ini." ujar Doni dan si ibu itu hanya manggut-manggut paham.
Setelah mengobrol begitu, Doni memesan makanan dan minuman kepada ibu kantin itu dan ibu kantin tersebut langsung beranjak dari berdiri nya dan segera menyiapkan pesanan Doni untuk makan siang nya. Disela Doni menunggu pesanan nya tiba, ia mengeluarkan kartu debit hitam yang sejak awal ia simpan di kantong dada baju putih lengan panjang nya.
Ia melihat kartu debit itu sekali-kali membolak-balik kartu itu seraya berkata dalam hati.
"besar nya tak beda jauh dengan kartu identitas penduduk." lalu Doni membuka dompet kupluk nya yang selama ini selalu ia simpan rapat-rapat dikantong belakang celana nya. dompet kulit coklat yang sudah lepek itu sudah kusam sekali dan sudah waktu nya di lem biru atau di lempar dan beli yang baru.
Isi dompet itu kosong melompong tidak ada isi nya sama sekali. kecuali hanya kartu identitas kependudukan milik nya dan satu lagi adalah kartu nama pelajar mahasiswa yang bernama Dona Pratiwi.
Doni yang awal nya ingin menyamakan ukuran kartu debit dan kartu identitas nya, menjadi tak jadi dan kemudian ia menyimpan kedua nya di saku baju nya.
Doni malah tertarik ingin melihat lagi kartu nama yang ada poto gadis cantik nya yang kala itu mereka pernah bertemu di dalam suatu peristiwa yang tak di sengaja. tekad nya ingin mengembalikan kartu nama itu kepada perempuan cantik anak kuliahan tersebut, menjadi surut akibat tidak ada nya petunjuk yang jelas untuk menuju ke rumah nya.
__ADS_1
Doni awal nya ingin mendatangi universitas tempat gadis itu menimba ilmu. tetapi ia masih punya rasa malu dan tekad itu ia pendam saja sampai sekarang. kartu nama itu ia masukan lagi ke dalam dompet nya setelah ibu kantin itu membawakan pesanan Doni menuju ke arah nya.
"ini pesanan mu nak.."
"terima kasih bu Yani.." ujar Doni dan ibu kantin itu menatap heran nama nya disebut oleh orang yang belum ia kenali.
Ibu kantin itu bertanya kepada Doni tentang rasa heran nya.
"kau bisa tahu dari mana bahwa nama ibu itu bernama Yani nak..???"
Doni menatap ibu itu dan berkata.
"pak Yaris yang memberitahukan nya kepada saya bu."
"oooh pak Yaris..., hmmm begitu. yasudah silahkan di nikmati nak.." ujar ibu Yani dan kemudian ia pergi lagi ke tempat nya mengolah makanan sesudah Doni menganggukan kepala nya dangan sopan kepada ibu Yani.
"bagi rezeki nya buu.. saya belum makan..seharian.." ucap nenek tua itu memelas kasihan.
Pemilik kantin itu pura-pura tak mendengar nya. nenek itu terus saja meminta-minta seperti itu. pemilik kantin itu malah memaki kepada nenek itu dan mengusir nya.
"minta sama yang lain saja sana..!! saya berjualan disini bukan untuk dibagi-bagikan gratis kepada pengemis!! hus hus!! pergi sana!!!." tegas ibu Yani dan membuat Doni yang mendengar ucapan makian itu menjadi geram seraya berkata tegas kepada ibu Yani.
"heh bu Yani.!! kalau ibu berniat tidak mau memberi, jangan memakai cara seperti itu dong..!! coba ibu Yani pikir! ibu Yani juga pasti punya orang tua kan..??? coba ibu pikirkan jika orang tua ibu Yani seperti itu dan kemudian di maki-maki oleh orang lain..?!! ibu terima tidak perlakuan seperti itu hah..??!" tegas Doni yang geram dan ia sudah bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati nenek pengemis itu.
Ibu Yani merasa di ceramahi oleh anak semuda Doni dan ia balik berkata kasar.
__ADS_1
"jangan sok-sokan menceramahi ku kau anak dungu..!! baru saja menjadi karyawan baru di kantor sebelah, kelakuan mu sudah belagu sekali berani-berani nya menceramahi orang tua!!"
Doni yang dibentak seperti itu oleh ibu Yani, langsung menatap tajam ke arah ibu Yani. nenek pengemis itu ingin pamit karena merasa tak enak hati gara-gara diri nya, Doni dan pemilik kantin itu menjadi Cekcok.
Sebelum nenek itu pergi, Doni memberikan uang sisa yang ia punya ketika menumpang tidur di rumah kakek sarkim. ia memberikan uang tersebut seraya berkata.
"ini nek buat nenek beli makan. walaupun jumlah nya tak banyak, tapi ini bisa buat beli makan dan minum." ujar Doni sopan dan nenek pengemis itu berterima kasih banyak kepada Doni dan nenek itu kemudian pamit untuk pulang ke rumah nya.
Ibu Yani masih menatap tajam ke arah Doni dengan angkuh nya. Doni kini berbalik kembali menatap ibu Yani dan berkata.
"ibu jangan mentang-mentang lebih tua dari saya berani-berani nya berkata begitu kepada saya..!!"
"mau apa kau hah..?! kau mau di pecat oleh pak yaris iya..?! tunggu di sini kau!!!" lalu ibu Yani beranjak dari tempat nya berjualan dan kini telah keluar menuju kantor sebelah untuk memanggil pak Yaris selaku pemegang saham perusahaan itu. karena sebenar nya, kantin itu masih milik ayah Doni dan ibu Yani itu dipercaya hanya sebagai pengelola nya saja.
Doni sudah meredam amarah nya dan ia sudah tak memikirkan ancaman ibu Yani karena ia tahu, bahwa kantin itu sudah menjadi milik Doni atas surat wasiat yang sudah ia tanda tangani melalui perantara pak Yaris sebelum ia beristirahat ke lantai tiga untuk tidur siang. kini Doni makan kembali dengan lahap nya karena perut nya masih lapar. disaat Doni selesai makan, muncul ibu Yani dan pak Yaris serta pak Yono sebagai satpam di kantor itu. ibu Yani berkata kepada pak Yaris sambil menunjuk Doni yang sedang minum.
"itu dia orang nya pak..!! pecat saja anak itu.!!! baru jadi karyawan baru saja sudah belagu apalagi jadi karyawan tetap..!!" ujar ibu yani berkata pedas kepada Doni.
Pak Yono dan Pak Yaris saling tatap dan kemudian menatap Doni yang sejak tadi cuek saja di maki-maki oleh ibu Yani. Doni kini beranjak dari duduk nya dan berkata kepada pak Yaris.
"pecat saja ibu itu pak Yaris. masih banyak kok orang lain yang masih bisa mengelola tempat ini." ujar Doni dan membuat ibu Yani menuding Doni dengan bentakan.
"kurang ajar kau ya.!!! pak Yaris ini seorang sekertaris sekaligus HRD di kantor ini.!!! jangan menyuruh orang sembarangan kau anak dungu!!." setelah ibu Yani berkata begitu, pak Yono bertanya kepada ibu Yani.
"masalah sebenarnya apa sih bu..???"
__ADS_1
"masalah awal nya adala.." ucapan ibu Yani terpotong oleh suara pak Yaris.
"saya sudah melihat semua nya di CCTV kantor saya. apa ibu Yani lupa bahwa saya sudah memasang CCTV yang ada di dalam ruangan ini dan berada di pojokan sana..???" ujar pak Yaris menunjuk ke arah pojokan tempat Doni duduk.