KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
KENCAN PERTAMA


__ADS_3

SEBUAH Almari pakaian terbuka di dalam kamar nya Dona. gadis cantik itu ternyata sedang memilih dan memilah pakaian yang cocok akan ia kenakan untuk Kencan Pertama nya dengan Doni. sebelum nya ketika sehabis shalat maghrib, Dona mendapat pesan whatsapp dari Doni untuk memakai pakaian yang ia beli dan menyuruh Dona untuk berdandan yang cantik. alasan Doni mengirim pesan begitu kepada Dona, karena tujuan Doni mengajak jalan pada malam itu bukan sekedar hanya untuk menengok pak Yaris saja. ia akan mengajak Dona untuk makan malam di suatu restorant yang sudah ia pesan tempat nya.


Kini anak itu sudah mengenakan pakaian model dress merah sepanjang lutut nya. ia tampak anggun sekali ketika bercermin di depan meja rias nya dan ia lalu tersenyum seraya berkata.


"ini sajalah pakaian yang akan aku kenakan. semoga saja Doni suka akan penampilan ku ini." ucap Dona sembari tersenyum dan kini ia segera mengambil tas selempang kecil yang isi nya hanyalah dompet Dona dan ponsel genggam nya. ia lalu keluar dari dalam kamar nya itu dan terlihat ibu Asih sedang duduk sembari menonton TV di ruangan tengah rumah nya, ibu Asih segera memperhatikan anak gadis nya itu dan bertanya.


"tumben anak ibu cantik sekali malam ini!? mau pergi kemana sebenar nya kamu sama den Doni nak???" tanya ibu Asih karena ia belum tahu tujuan Doni akan mengajak Dona malam itu akan pergi kemana.


Dona yang mendekati ibu nya segera duduk disebelah nya dan berkata.


"kata nya dia akan mengajak Dona untuk menjenguk HRD kantor nya yang sakit di rumah nya. setelah itu ia akan mengajak Dona untuk makan malam berdua di suatu restorant bu." ibu Asih yang mendengar hal itu hanya tersenyum senang dan mengusap rambut Dona yang hitam halus sepanjang pundak nya gadis dewasa itu. lalu ibu Asih berkata sembari menatap mata Dona lekat-lekat.


"semoga lancar ya sayang. ibu harap kalian langgeng sampai waktu nya nanti kalian resmi menikah."


"amin bu." balas Dona dengan tersenyum dan ia melanjutkan ucapan nya lagi.


"bolehkan Dona tak perlu tegas dan tegar di hadapan lelaki yang belum resmi menjadi suami Dona bu???" ucapan Dona tersebut langsung dibalas oleh ibu nya.


"lhoo?! selama ini sikap kamu kepada den Doni itu memang nya bagaimana sayang???"


"anu bu... sesuai saran ibu, Dona selalu tegas dan tegar di hadapan Doni. walaupun sebenar nya Dona kasihan juga kepada Doni yang selalu Dona maki-maki karena sikap Doni yang selalu jahil kepada Dona bu." ibu Asih hanya manggut-manggut saja menatap anak nya dengan senyuman dan ia menghentikan usapan telapak lengan nya di rambut Dona.


Ibu Asih lalu memegang kedua pundak anak nya dan berkata.


"jika sikap mu itu membuat mu senang dan pantas untuk dilakukan, lakukan lah sayang. ibu yakin dengan sikap kamu yang begitu, pasti den Doni tak akan tega macam-macam kepada mu atau sampai berani menyakiti mu." ujaran ibu Asih itu segera di simpan dalam ingatan Dona dan Dona hanya mengangguk menyetujui saran dari ibu nya tersebut. tak seberapa lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah ibu Asih beserta ucapan salam dari suara lelaki terdengar berkali-kali. ibu dan anak itu sudah kenal dengan suara laki-laki itu yang tak lain adalah Doni.

__ADS_1


Dona segera beranjak dari duduk nya dan menuju pintu rumah nya yang tertutup. setelah pintu di buka, nampaklah Doni di depan pintu itu. kedua nya saling tatap dan Doni memperhatikan pakaian yang Dona kenakan dan Dona memperhatikan pakaian yang Doni kenakan. Doni memakai celana jeans hitam dan kemeja lengan panjang berwarna biru tua.


"cantik sekali kamu malam ini sayang?" ucap Doni menyanjung Dona dan kemudian Dona hanya berkata berterima kasih. lalu Dona mengajak masuk Doni dahulu untuk pamit kepada ibu nya dan Doni pun mengikuti Dona masuk ke dalam rumah tersebut.


Ibu Asih yang sedang duduk menonton televisi segera bangun ketika Doni mendekati nya dan berkata.


"bi, Doni izin keluar dulu sama Dona. boleh ya???" tanya Doni dan ibu Asih menjawab nya.


"silahkan den. lagi pula kalian sudah resmi berpacaran dan sebagai laki-laki, den Doni harus siap bertanggung jawab jika terjadi apa-apa kepada anak ibu." ujar ibu Asih dan Doni berkata menyanggupi tanggungan macam apapun demi Dona dan saat itu pula Dona mencubit lengan Doni seraya berkata ketus.


"lebay ah! dasar tukang gombal!" ucapan Dona tersebut hanya di tertawakan saja oleh Doni beserta ibu Asih.


Setelah sepasang muda-mudi itu pamit kepada ibu Asih, kini kedua nya sudah masuk ke dalam mobil nya Doni dan kini mobil Doni sudah berlalu dari hadapan ibu Asih yang memperhatikan berlalu nya mobil Doni dari depan rumah nya. jam baru saja pukul tujuh malam dan tujuan Doni bersama Dona adalah datang ke rumah nya pak Yaris untuk menengok kesembuhan pak Yaris dari sakit nya. di perjalanan menuju rumah pak Yaris, Dona dan Doni mulai bercakap-cakap dan dimulai dari Dona.


"sayang?"


"kamu masih ingat tentang ini?" ujar Dona yang kini sudah memegang kartu nama semasa Dona masih berkuliah di suatu universitas.


Doni segera memalingkan wajah nya kepada Dona dan berkata.


"oh kartu pelajar itu? ada apa memang nya sayang?"


"aku mau tanya, kamu dapat dari mana kartu pelajar ku ini???" lalu Doni berkata menjelaskan nya.


"aku menemukan nya ketika pertama kali kita bertemu dan itu sudah dua tahun berlalu. apa kamu masih ingat akan seorang laki-laki yang berpakaian serba kumal dan tak sengaja menabrak mu di depan halte bis dekat gang kampung mu itu sayang???" mendengar ucapan dari Doni, Dona merenungi ucapan tersebut seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.

__ADS_1


Setelah Dona merenungi ucapan Doni tersebut, ia hanya bergumam seraya berkata.


"hmmm... iya aku ingat. aku sempat curiga dulu tentang hilang nya kartu pelajar ku ini ketika kita tak sengaja bertabrakan. aku curiga kepada mu karena aku pikir kamu telah menemukan nya dan mengambil nya. aku sempat mencari-cari disekitar tempat itu dulu dan berharap kartu nama ku masih ada di sekitaran tempat itu. lama kelamaan aku lelah mencari dan berkata jujur kepada ibu ku akan hilang nya kartu pelajar ku."


"setelah itu???" tanya Doni lagi karena penasaran.


Lalu Dona berkata meneruskan cerita masa yang telah lalu.


"aku sempat di marahi guru dosen ku karena telah menghilangkan kartu nama pelajar itu dan akhir nya keluar uang yang tak sedikit untuk membuat nya kembali." ucap Dona bernada sedih karena ia merasakan kembali pada masa yang telah lalu itu. Doni yang mendengar nya sembari menyetir mobil nya, segera berkata.


"sebenar nya akupun mencari keberadaan mu pada saat itu. aku ingin mengembalikan kartu pelajar mu yang ku temukan itu ke tempat mu berkuliah. tetapi aku tak punya keberanian untuk mengembalikan nya karena aku malu dengan penampilan ku yang dulu sangat menyedihkan dan miskin. aku pikir lebih baik aku mencari informasi tentang tempat tinggal mu dan sampai saat kita pernah bertemu kembali ketika aku sedang ikut menggotong keranda mayat mendiang kakek Sarkim. setelah selesai ikut menguburkan jenazah nya, aku sempat mencari mu di sekitaran tempat kita bertemu dan sampai bertanya-tanya kepada siapa saja yang ada di situ. lama kelamaan juga aku menyerah untuk mencari tempat tinggal mu yang tak kunjung ku temui kabar nya. sampai sekian lama nya aku melupakan hal itu dan tanpa di cari, ternyata dirimu tinggal di kampung duren dan ternyata kenal dengan pak Yono. mungkin tanpa perantara dari pak Yono, kita tak akan pernah bertemu lagi dan sampai saat ini kita tak akan sampai ke titik yang sekarang sedang kita jalani." ujar Doni berkata panjang lebar menjelaskan apa yang dulu pernah terjadi kepada nya.


Dona yang mendengar cerita penjelasan dari Doni tersebut, segera berkata tanya kepada Doni.


"apakah kamu mengenaliku ketika aku melamar pekerjaan lewat media digital kepada pak HRD kantor mu sayang???"


"ya aku mengenali mu. maka nya aku menolak semua karyawan yang melamar karena bukan pengalaman mereka yang aku butuhkan. tetapi diri mu lah yang aku butuhkan dan harapkan agar bekerja di kantor ku dan aku bisa mengenali latar belakang mu lebih jauh lagi. ternyata ketika aku membuka berkas lamaran kerja mu, kamu adalah anak nya bibi Asih dan aku kala itu hanya pura-pura saja tak mengenali mu. walaupun sebenar nya aku sangat rindu sekali kepada mu Dona. sejak kecil kita telah bersama dan kemudian kita terpisah sampai kita besar. yang aku masih ingat, dari kecil wajah mu sangat lucu menggemaskan dan sekarang ada sedikit perubahan dari kecantikan mu yang di poto kartu pelajar itu dibandingkan dengan yang sekarang. kini kecantikan mu sudah terlihat matang untuk menjadi seorang istri, Dona." ucapan Doni yang serius tersebut hanya dibalas senyuman oleh Dona dan Doni berkata bertanya kepada Dona.


"apa kamu mau menjadi istri ku sayang???" pertanyaan Doni tersebut hanya di balas anggukan oleh Dona dan Doni lalu tersenyum sembari berkata lagi.


"kapan pun waktu nya jika kamu belum siap untuk menikah dengan ku, aku akan selalu sabar menunggu mu sayang."


"jangan dulu bahas menikah sayang. kita jalani saja dulu hubungan ini dan alangkah baik nya kita memperbaiki watak dan sikap kita masing-masing dan menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. jika suatu saat kita sudah resmi menikah, semua hal permasalahan dan kekurangan apapun itu tak akan membuat kita jadi bermasalah dalam rumah tangga kita nanti nya." ucapan bijak dari Dona tersebut di setujui oleh Doni dan kedua nya kini berhenti berbincang-bincang karena mobil Doni sudah berhenti di depan sebuah rumah mewah bertingkat dua dan sudah dipastikan itu adalah rumah nya pak Yaris.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2