KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
TERTANGKAP


__ADS_3

SETELAH Doni menenangkan kegelisahan nya, sekilas ia mendengar suara percakapan dari luar pintu ruangan itu.


"pintu ini di kunci, coba cek pintu sebelah nya kang." ujar suara lelaki yang sudah dipastikan itu suara nya pak Taufik.


"pintu ini tidak dikunci!" ucap suara lelaki agak besar berkata tegas. setelah perbincangan pendek itu selesai, pintu kantor tempat ruangan Doni bekerja sudah dibuka dan sudah jelas kedua perampok itu sedang mencari sertifikat perusahaan tersebut.


Doni masih saja diam diruangan pak Yaris dan sengaja tak melakukan gerakan mencurigakan. ia masih sabar menunggu kedatangan pak Yaris beserta para Polisi yang akan menangkap kedua perampok itu. entah berapa menit lama nya, pintu kantor yang Doni tempati itu gagang pintu nya memutar-mutar seperti sedang berusaha dibuka oleh seseorang dari luar. Doni tiba-tiba kaget dan wajah nya seketika itu pucat pasi. disaat itu juga, terdengar suara pak Taufik berkata kepada teman nya itu.


"coba kang Samsul naik ke lantai tiga nya, pasti anak itu sudah tidur diruangan lantai tiga tersebut. sekarang saat nya kesempatan bagi kang Samsul untuk membunuh nya. biarkan aku saja yang mencari berkas penting kantor ini." ujar suara pak Taufik.


"yasudah.. kau cari saja dulu berkas-berkas yang lain nya!" tegas lelaki bersuara agak besar itu.


"siap kang." jawab suara pak Taufik dan ia kini sedang mencongkel kunci pintu itu, entah dengan alat apa ia berusaha membuka nya.


Doni yang mendengar percakapan itu, segera memberanikan diri nya. ia lebih berani jika melawan orang yang tanpa senjata, meskipun umur orang itu lebih tua dari nya dan itu tak menjadikan nya untuk takut atau segan. kini rasa takut dan khawatir telah hilang dan berganti dengan rasa murka dan marah yang tertahan. Doni kini sudah berdiri didepan pintu yang sedang dibuka kunci nya itu. kedua tangan nya sudah mengepal dengan gemas karena sudah tak kuat ingin menghajar pak pak Taufik yang ternyata musuh dalam selimut itu. wajah Doni yang berkulit lumayan putih itu sudah merah padam dan sudah pasti ia sedang menahan gejolak amarah nya.


Naik nya pak Samsul yang membawa senjata tajam ke lantai tiga menuju ruangan kamar yang sudah Doni kunci itu, membuat Doni berani bertindak tanpa perhitungan lagi. ketika pintu dibuka, seketika itu juga Doni langsung melayangkan tendangan kaki nya ke arah wajah orang yang tertutupi kain hitam itu dengan cara meloncat dan kaki kanan nya ke depan.


beggg...!!


"argghh...." orang berpakaian serba hitam itu memekik kesakitan dan ia terpelanting ke lantai kantor tersebut. berkas-berkas penting yang sudah dilaminating dan berada di dalam map coklat yang awal nya berada di tangan orang itu, jadi terlepas dan ikut terlempar ke arah meja karyawan. Doni seketika itu juga langsung menyerang orang itu lagi dengan menendang kepala orang yang terpelanting tadi. diri nya tak memberikan celah untuk pencuri itu agar membalas tendangan dari nya. Doni terus saja menjejakan kaki nya di anggota badan lelaki yang kepala nya terselubung kain itu dengan kaki kanan nya yang tak main-main keras nya.

__ADS_1


Suara pekik kesakitan meminta ampun secara terus menerus terdengar dari mulut lelaki itu dan suara lelaki besar tadi terdengar dari lantai tiga.


"woi kau kenapa Taufik..???" ucapan tersebut tak dihiraukan oleh Doni karena ia langsung menarik selubung kain di kepala orang itu dan setelah terbuka, nampak lah wajah pak Taufik yang sedikit memar di beberapa tempat dan Doni langsung meninju muka Taufik tanpa ampun dan kasihan lagi. pak Taufik tak bisa melawan karena kedua lengan nya sudah dipatahkan oleh Doni dengan cara menjejakan kaki nya secara berkali-kali di area persendian lengan nya itu.


Pak Taufik malu setengah mati karena diri nya kini telah kepergok oleh Doni dan di saat Doni melayangkan tinju nya ke wajah pak Taufik, pak Samsul yang kini sudah turun tangga itu segera berlari ke arah Doni dan sudah mencabut senajata tajam dari sarung nya. Doni tiba-tiba mendelik ketika lelaki berwajah sangar itu berlari menghampiri nya dan memegang sebilah golok tajam.


Ketika golok ingin di tebaskan ke arah leher Doni, diri nya langsung meloncat mundur dan hampir saja leher nya terkena tebasan golok tajam tersebut. lelaki berwajah sangar itu menatap tajam ke arah Doni dan kemudian terdengar suara pak Taufik yang masih terbaring itu berkata disela merintih kesakitan nya kepada pak Samsul.


"cepat bunuh anak tolol itu kang!!! aduhh.. tanganku.." ucap pak Taufik merintih dan pak Samsul langsung mendekati Doni dengan golok terhunus.


"kemari kau anak celeng!! serahkan saja nyawamu yang tak berguna itu agar aku mendapatkan uang lebih dari ibu mu itu!!!" gertak lelaki berwajah codet itu dan Doni langsung membalas nya dengan gertakan juga sembari melangkah mundur.


Pak Samsul langsung berlari menebaskan golok nya lagi secara membabi buta kepada Doni yang berlari ke arah meja kerja karyawan kantor tersebut. kursi dan meja serta peralatan kantor lain nya tak ada yang rusak atau berantakan, karena Doni berlari hanya di jalan kecil yang mengitari tempat kerja karyawan tersebut. ruangan kantor yang luas itu menjadikan ajang lari-larian seperti kucing yang sedang mengejar tikus. Doni terus saja berlari menghindari pak Samsul yang berlari mengejar nya memutari ruangan kantor itu. di satu kesempatan Doni segera mengambil kursi karyawan yang terbuat dari logam besi dan di saat itu juga pak Samsul menggertak Doni dan menyabetkan golok tajam nya ke arah Doni.


"modar kau....!!!" tebasan golok pak Samsul itu menebas rangka kursi logam besi yang sebelum nya Doni ambil untuk menjadikan nya sebagai perisai untuk menghalau serangan berbahaya dari pak samsul.


Trangg....!!! Trakkkk...!!! golok tajam yang tipis itu patah di pertengahan golok dan patahan nya berdenting jatuh ke lantai.


Mata pak Samsul langsung mendelik melihat golok nya bisa patah hanya karena menebas kursi besi tersebut dan di saat itu juga, Doni langsung melemparkan kursi yang ia pegang itu ke arah pak Samsul.


brakk..!! "ughhh...!!" pak Samsul terdorong mundur dan jatuh terduduk di lantai. Doni segera berlari untuk menghajar pak Samsul sebelum orang itu bangkit berdiri dan menyerang nya lagi. ketika Doni ingin menendang wajah pak Samsul yang baru mau bangun itu, pak Samsul langsung bergerak dengan naluri nya. Seketika itu juga lengan pak Samsul yang masih memegang golok yang buntung tadi, dengan cepat nya di tebaskan ke arah betis Doni yang terhalang celana training tebal yang ia kenakan itu.

__ADS_1


Crass...!! "Arhhhhh....." Doni langsung berteriak kesakitan karena ketajaman golok yang patah itu, mampu merobek celana tebal Doni dan menembus sampai betis nya koyak lumayan dalam. Doni langsung mundur ke belakang menjauhi pak Samsul yang masih setengah terbaring dan darah yang keluar dari betis Doni yang terluka, dengan deras nya mengucur membasahi lantai keramik kantor itu. kini Doni jatuh terduduk dengan lemas nya dan ia merintih sembari memegang betis nya yang koyak lebar itu. pak Samsul segera bangun dan menggertak Doni lagi.


"mampus kau sekarang..!! heahh..!!"


Wiuwiuwiuwiuw.....wiuwiuwiuwiuw....!!


pak Taufik tak jadi melangkahkan kaki nya untuk menyerang Doni lagi karena ia mendengar suara sirene mobil polisi yang berada di luar dan dekat sekali dari tempat itu.


Pak Taufik yang kini sudah bisa duduk, segera menatap tegang ketika mendengar suara mobil sirene polisi dan ia langsung berteriak kepada pak Samsul untuk cepat membunuh Doni. meskipun mereka tertangkap polisi, tetapi imbalan yang diberikan ibu Dewi untuk membunuh Doni itu cukup besar nominal nya dan mampu untuk menebus kesalahan mereka di kantor polisi. maka ketika teriakan pak Taufik itu terdengar lantang kepada pak Samsul, disaat itu juga pak Samsul langsung berlari ke arah Doni dan bergerak menikamkan golok buntung nya itu ke arah Doni.


Doni yang masih terduduk kesakitan memegang kaki nya itu, segera meraih ujung golok yang patah tadi dan kini ia sudah memegang golok yang patah tadi. pak Samsul yang sebentar lagi akan meraih leher Doni untuk digorok oleh nya, nyaris mengenai sasaran jika Doni tak langsung berkelit ke samping kanan nya dengan merebahkan tubuh nya di lantai. di saat yang bersamaan, Doni segera menusukan ujung golok yang Doni pungut tadi di paha kanan pak Samsul dan terlihat hampir terbenam seluruh nya. pak Samsul melangkah mundur dan gagang golok patah yang ia pegang sebelum nya, terlepas dari tangan nya. ia segera mencabut patahan golok yang menancap dipaha nya itu dengan suara berat tertahan dan napas nya yang sesak.


Pak Samsul tak sanggup mencabut nya karena tusukan ujung golok itu begitu dalam dan malah membuat nya semakin kesakitan ketika ia mencoba untuk mencabut nya secara paksa. Doni yang menatap hal itu sudah tak memikirkan keselamatan nya lagi, karena tubuh nya mulai lemas dan ia tergeletak pingsan. darah segar masih mengucur dari luka koyak di betis Doni dan membasahi lantai kantor itu. pak Taufik yang melihat kejadian tersebut segera bangun dan bergegas ingin membunuh Doni dengan kedua kaki nya. ia tak bisa menggunakan kedua lengan nya karena telah patah dan tak bisa di gerakan sama sekali.


Pak Samsul yang kini sedang terduduk ngos-ngosan sembari raut wajah sangar nya pucat pasi segera menatap pak Taufik yang sudah bergegas ingin mendekati Doni. pada saat itu juga, terdengar pintu terbuka dari lantai satu dan suara sepatu kulit menginjak lantai terdengar sangat keras dan semakin dekat naik ke lantai dua. pak Taufik menjadi tak bisa meneruskan niat nya karena ada suara seruan bernada ancaman dari belakang nya.


"tahaaaan...!!! angkat tangan kalian...!!!" suara tersebut berasal dari salah satu polisi yang menodongkan pistol nya kepada pak Taufik dan pak Samsul. saat itu juga beberapa polisi lain nya, kini sudah mengepung area luar tempat itu dan sebagian yang masuk dengan ketua polisi tadi. mereka langsung mendekati pak Samsul dan pak Taufik yang masih diam ditempat nya itu untuk segera memborgol kedua tangan mereka. kedua penjahat itu, sekarang sudah Tertangkap dan akan segera di tindak lanjuti setelah para polisi menggeledah tempat itu seluruh nya.


...*...


...* *...

__ADS_1


__ADS_2