KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
CERITA DONI


__ADS_3

IBU Dewi merasa risih mendengar ucapan pak Yaris yang selama ini kelakuan nya ternyata sudah di ketahui oleh mendiang suami nya yaitu pak Randi. melalui mulut ucapan pak Yaris itulah bukti nyata apa yang telah dilakukan ibu Dewi selama ini. dirasa perbincangan mereka itu cukup, pak Yaris mohon pamit pulang kembali bersama pak Broto dan Doni juga ikut pergi karena ia sudah tak mau tinggal lagi dengan ibu beserta ayah tiri dan ketiga saudara tiri nya.


Ketika ketiga orang itu akan pulang kembali masuk ke dalam mobil nya masing-masing, ibu Dewi berlari dan mengejar Doni dan memeluk nya dari belakang seraya berkata.


"nak tinggal di sini bersama ibu lagi ya. ibu janji akan sayang sama kamu lagi." ujar ibu Dewi merayu.


Doni langsung melepaskan pelukan itu dan langsung menatap ibu Dewi seraya berkata.


"maaf bu. aku sudah besar dan sudah tak memerlukan kasih sayang dari orang tua seperti ibu."


"tapi nak.." ujar ibu Dewi terpotong.


"harus nya ibu melakukan hal itu ketika Doni masih kecil." timpal pak Yaris memotong ucapan ibu Dewi.


Ibu Dewi hanya diam mematung mendengar ucapan pak Yaris. dan Doni kini masuk ke dalam mobil bersama pak Yaris dan pak Broto sudah pergi duluan karena ia buru-buru berangkat karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan di kantor nya. raut wajah ibu Dewi antara kesal dan serba salah karena di dalam hati nya terbersit perasaan ingin merebut semua harta warisan tersebut dari Doni.


Setelah mobil pak Yaris menghilang dari kampung tersebut, Tomi selaku suami nya ibu Dewi berkata.


"sudahlah sayang jangan kau pikirkan terlebih dahulu soal itu. kita akan rebut kembali harta warisan milik mendiang suami mu itu nanti. mari kita tukarkan uang cek ini dahulu sayang." ujar Tomi dan ibu Dewi hanya menurut saja dengan ucapan suami nya itu.

__ADS_1


Sejak dulu, ibu Dewi selalu menuruti apa kata suami muda nya itu. entah apa yang ada di pikiran ibu Dewi sampai mempunyai anak tiga pun tetap saja penurut. rasa heran itu sedang di perbincangkan oleh Doni kepada pak Yaris yang sedang mengemudikan mobil nya menuju ruko kantor yang berada di sekitaran pinggir jalan umum untuk mengantarkan Doni tinggal di kantor tersebut.


Terdengar Doni berkata kepada pak Yaris.


"saya terkadang bingung terhadap ibu, pak. ibu itu selalu menuruti apa kata suami nya."


"masa sih nak.?? apa kau bisa ceritakan sedikit..???" Doni hanya mengangguk dua kali bertanda ia mau menceritakan nya.


"ayah tiri saya itu seorang pengangguran dan kerja nya paling ikut membantu warga kampung yang sedang membangun rumah atau renovasi. jika tidak ada pekerjaan seperti itu, ayah tiri saya cuman menganggur. merokok, makan, dan tidur saja. pernah suatu ketika ketika ia ingin merokok tapi tak punya uang, dirinya meminta kepada ibu untuk membelikan rokok nya. ibu yang baru pulang bekerja sebagi kuli cuci dikampung itu hanya menuruti saja permintaan tersebut walaupun harus mengutang terlebih dahulu di warung." ujar Doni menceritakan kejadian yang ia lihat.


Pak Yaris hanya manggut-manggut saja mendengar ucapan Doni dan kini ia sedikit tertarik dengan obrolan tersebut.


tanya pak Yaris mulai penasaran dengan suami nya ibu Dewi. maklum pak Yaris tidak tahu akan latar belakang siapa Tomi pada masa muda nya sebelum dan sesudah bertemu ibu Dewi.


Doni pun menceritakan apa yang ia ketahui dari ayah tiri nya itu melalui obrolan ibu dan ayah tiri nya itu semasa masih belum menikah sampai mempunyai anak tiga.


"yang saya ketahui dulu, ayah tiri saya adalah seorang gigolo yang kerja nya memperdagangkan kejantanan nya untuk perempuan seperti ibu. mungkin ibu tertarik dengan ayah tiri saya karena barang kejantanan nya memang cukup besar. saya tak sengaja pernah memergoki ibu dan ayah tiri saya itu ketika kedua nya belum resmi menikah." ujar Doni kemudian ia menceritakan kejadian yang pernah ia alami ketika masih berumur sepuluh tahun.


Kala itu ia terbangun dari tidur nya ketika malam-malam buta. ia bangun hanya untuk minum saja dan kemudian ia melintas di depan kamar ibu nya yang terbuka sedikit dan di situlah Doni melihat barang kelakian ayah tiri nya yang sebesar pergelangan tangan nya ketika Doni masih berumur sepuluh tahun. Doni kecil saat itu tak sadar bahwa lelaki itu adalah Tomi yang sekarang ini adalah ayah tiri nya. ia hanya mengira kala itu Tomi yang sedang menggagahi ibu nya adalah ayah kandung nya.

__ADS_1


Rasa heran itu mulai ia sadari ketika pagi nya ketika Doni ingin pergi ke kamar mandi yang ada di dapur rumah nya. saat itulah ia mendengar obrolan Tomi dan ibu Dewi yang kala itu ia mendengar ibu Dewi berkata kepada Tomi,


"sudahlah kamu berhenti bekerja menjadi gigolo sayang. kau menjadi suami ku saja dan bantu aku mengelola warisan milik suami ku yang telah meninggal itu." ujar ibu Dewi kala itu dan Doni mendengar nya sampai sekarang ia masih mengingat ucapan tersebut.


Cerita Doni itu sedang di dengar oleh pak Yaris dan pak Yaris hanya bergumam pelan seraya berkata kepada Doni.


"wanita jika sudah dimabuk cinta akan lupa daratan sampai-sampai harta warisan yang harus nya ia kelola sendiri malah di berikan hak kekuasaan nya kepada lelaki lain yang belum tentu mampu mempertahankan warisan tersebut." ujar pak Yaris disela menyetir mobil nya menuju ruko kantor yang berada dipinggir jalan umum dalam kota jakarta.


Doni menjawab perkataan pak Yaris tadi.


"mereka sering menghambur-hamburkan uang pak. pergi siang, pulang malam dan kedua nya selalu pulang dengan mabuk-mabukan serta belanjaan pakaian mahal yang tidak sedikit. kelakuan itu sampai harta warisan ayah habis dan mungkin uang cek lima ratus juta itu pun akan habis juga dalam waktu dekat ini pak." ujar Doni dan membuat pak Yaris tersenyum kaku.


Pak Yaris menatap Doni dan menimpali ucapan Doni barusan.


"itu hak mereka nak. yang penting bapak sudah menjelaskan nya kepada ibu Dewi tentang kata singgungan yang bapak ucapkan untuk ibu Dewi. jujur bapak masih agak kesal terhadap ibu kandung mu itu nak. bagaimana orang tak kesal ketika di ceramahi malah banyak alasan ini itu seakan malas mendengar ucapan bapak. padahal bapak berkata benar dan sengaja berkata begitu agar ibu Dewi cepat sadar akan kelakuan nya. tetapi entahlah apa yang dipikirkan nya." ujar pak Yaris dan membuat Doni yang mendengar nya diam merenungi ucapan tersebut.


Kendaraan pak Yaris berhenti di pinggir jalan dan ruko kantor itu sudah terlihat.


"bapak hanya bisa antar kamu sampai sini ya nak. kamu tinggal masuk saja lewat pintu dekat petugas pintu parkir ruko ini saja." Doni hanya mengangguk paham dan kemudian Doni keluar mobil dan pak Yaris pulang menuju rumah nya dengan mengendarai mobil nya.

__ADS_1


Doni kemudian masuk menuju tempat petugas pintu parkir dan ia harus berjalan lagi agak jauh menuju ruko tempat nya tidur dan bekerja nanti sebagai pemilik kantor itu. Doni di mulai hari itu akan tinggal di lantai tiga kantor CV.Group Perkasa sampai seterus nya.


__ADS_2