
GEDUNG Besar yang dinamakan 'Kejaksaan Agung Negara' itu kini sudah ramai di datangi oleh para wartawan serta kameramen nya yang menunggu kedatangan para pihak berwajib yang membawa tersangka perampokan tersebut untuk di sidang di gedun besar itu. tersebar nya berita akan di sidang nya para pelaku tersebut pada siang itu, berasal dari para wartawan yang mewancarai pak Broto ketika dikantor polisi sebelum nya. kedatangan mobil polisi ditandakan dengan suara sirene yang terdengar nyaring dari kejauhan dan perlahan mendekati halaman parkir yang luas didepan gedung tersebut.
Para wartawan yang ada di halaman luar gedung kejaksaan itu segera menatap ke arah jalan yang dilalui oleh mobil polisi tersebut. suara dari semua wartawan itu nampak riuh karena apa yang mereka tunggu-tunggu kini telah sampai ditempat itu. keluar nya para tahanan dari mobil khusus tersangka, membuat para wartawan kameramen nya segera memasang kamera mereka masing-masing dan sebagian ada yang bertanya-tanya tentang hukuman para tersangka tersebut bagaimana nanti nya. para polisi tak ada yang menjawab nya sama sekali karena mereka sibuk membuka jalan untuk membuat para tersangka masuk menuju ruangan sidang pengadilan. para wartawan serta kameramen nya yang jumlah nya hampir puluhan orang itu saling berdesakan karena sedang ditertibkan oleh para polisi keamanan.
Para tersangka kini digiring masuk ke dalam ruangan pengadilan dan di saat itu juga mobil pak Broto dan pak Yaris tiba di jalan parkiran gedung tersebut. para polisi pengamanan terus saja menghadang para wartawan yang kepo dan memaksa ingin bertanya langsung kepada jenderal polisi, yakni pak Broto. tetapi pak Broto tak menanggapi nya dan ia terus saja berjalan dan di ikuti oleh pak Yaris dan pak Yono yang masih memakai seragam satpam.
Waktu kala itu sudah siang hari dan diperkirakan sudah jam satu siang. cuaca kala itu sedikit mendung dan para wartawan terus saja berdesakan ingin ikut masuk ke dalam ruangan pengadilan. beberapa ada yang sudah masuk ke dalam karena sudah memiliki izin yang kuat dari pihak menejemen nya dan beberapa masih ada yang diluar karena tak memiliki izin yang kuat untuk masuk ke dalam. tujuan mereka sudah pasti adalah untuk mengekpos dan menyelidiki apa yang akan terjadi pada tersangka ketika di sidang di dalam gedung hakim itu.
Di waktu yang sama dan berada di pinggir jalanan kampung, anak gadis yang bernama Dona baru saja pulang dari kuliah nya. ia kini sedang berjalan menuju rumah nya dan tak lama sampai di depan rumah nya. ketika ia masuk dan mengucap salam, sang ibu yang biasa nya menjawab salam anak nya itu. kini tak terdengar sama sekali suara nya dan membuat sang anak gadis itu semakin penasaran di buat nya. ketika Dona memanggil-manggil ibu nya di dalam rumah, ia hanya mendengar suara televisi yang volume nya lumayan besar dan itu berada di ruangan tengah rumah nya.
Ternyata ibu Asih sedang duduk di kursi sofa dan terlihat asyik menonton televisi. acara televisi tersebut menayangkan berita yang viral sebelum nya itu, kali ini ditayangkan lagi secara langsung dan ditempat yang berbeda. Dona yang heran melihat ibu nya yang menonton berita terus sejak pagi, kini bertanya sembari mendekati ibu nya untuk mencium punggung tangan ibu nya.
"tumben sejak pagi ibu doyan nonton berita terus? biasa nya ibu sudah tidur siang atau..."
"sudah berisik! sini duduk sama ibu sayang!" ucap bibi Asih memotong ucapan Dona tadi.
__ADS_1
Dona yang segera paham bahwa ibu nya itu sedang serius, kini menuruti nya dan duduk di kursi sofa dekat ibu nya. Dona ikut menatap televisi yang menayangkan beberapa anggota polisi yang sedang menghadang para wartawan serta kameramen nya di luar. tak seberapa lama, suasana berpindah ke dalam ruangan kejaksaan penghakiman bagi tersangka yang bersalah beserta saksi mata dan korban dari tersangka tersebut. Dona kala itu langsung bertanya kepada ibu nya yang sejak tadi fokus menatap layar televisi nya.
"itu berita tentang Persidangan apa sih bu? kok ramai sekali para wartawan nya?"
"itu berita yang pagi kita tonton nak. sekarang para tersangka nya akan di hakimi atas kejahatan nya itu kepada pihak korban yang tidak bersalah dan di rugikan." jawab ibu Asih dan Dona hanya manggut-manggut saja tanda memahami ucapan ibu nya.
Kedua nya kini sedang asyik menonton berita itu dengan seksama. di sisi lain, Doni sudah bisa terbangun dari berbaring nya. keadaan nya perlahan mulai pulih dan sudah bisa mengerakan tangan nya untuk meraih ponsel nya. ketika pintu ruangan itu dibuka, munculah suster yang merawat Doni. suster tersebut kini mendekati Doni dan berkata tanya.
"apa pak Doni sudah mendingan?"
Di saat yang bersamaan, Doni langsung berkata kepada suster itu.
"apa suster bisa menyalakan televisi itu?" tanya Doni dan suster itu hanya mengangguk dan segera mengambil remot nya yang berada diatas televisi di depan ranjang itu. di dalam ruangan rumah sakit sudah tak aneh dengan hal tersebut, karena ruangan rumah sakit yang kelas atas seperti yang Doni pakai itu, perlengkapan nya lengkap dan berkesan seperti kamar pribadi. berbeda dengan kamar kelas rendah, yang dimana ruangan nya dipakai umum. dengan kata lain, yang memakai nya bukan satu orang pasien saja dan bisa dibuat menginap untuk keluarga yang menjaga pasien tersebut.
Setelah televisi dinyalakan, remot nya diberikan kepada Doni oleh suster tersebut dan suster itu pamit lagi keluar. Doni hanya mengangguk saja dan kini ia fokus menatap layar televisi. ketika ia mencari-cari chanel tayangan lain nya, ia segera tertegun ketika layar televisi nya menayangkan sebuah berita dan jelas terlihat ada ibu Dewi, pak Tomi, pak Samsul dan ketiga anak ibu Dewi, ketiga nya memakai baju tahanan berwarna jingga dan sedang duduk di kursi khusus tersangka yang bersalah.
__ADS_1
Terlihat juga pak Yaris, pak Yono serta pak Broto duduk bersebelahan di tempat saksi. hakim saat itu sedang mengetuk palu nya sebanyak tiga kali dan persidangan langsung di mulai. dalam hati Doni terbersit rasa kasihan yang amat mendalam kepada ibu nya dan ia tak peduli kepada yang lain nya. tetapi pikiran nya bertentangan dengan isi hati nya dan pikiran nya selalu mengecam Doni agar jangan memikirkan seseorang yang tak pernah peduli kepada nya. kebimbangan mulai dirasakan oleh Doni dan ia hanya bisa duduk, dan terus menyaksikan sidang yang baru di mulai itu.
Di saat yang bersamaan, ibu Asih tercengang kaget ketika menatap layar televisi nya. ia kaget karena para tersangka itu adalah ibu Dewi berserta suami dan ketiga anak nya. Dona yang heran atas tingkah laku ibu nya, segera bertanya.
"ibu kenapa sampai kaget begitu? apa ibu ada yang kenal dari salah satu orang itu?" tanya Dona penasaran.
"it..itu nak itu..."
"itu apa sih bu...???" tanya Dona lagi semakin aneh menatap ibu nya yang berkata gugup itu.
Ibu Asih segera menenangkan gelisah nya ketika wajah pak Yaris terekpos di layar televisi nya dan kini bibi Asih sudah paham akan kejadian tersebut, karena ia adalah salah satu mata-mata yang paling berjasa kepada mendiang pak Randi. permasalahan yang menimpa ibu Dewi sudah ibu Asih ketahui, bahwa semua itu gara-gara harta warisan. ibu Asih yang menatap kosong ke arah televisi, segera ditanya oleh Dona dengan pertanyaan yang heran.
"itu siapa bu? mengapa ibu jadi bengong begitu?" tanya Dona lagi semakin penasaran dan sang ibu hanya bilang kepada Dona, nanti akan menceritakan apa yang ibu nya ketahui kepada anak gadis nya itu.
...*...
__ADS_1
...* *...