
IBU Yani tercengang kaget mendengar ucapan pak Yaris yang kata nya kantin itu selalu di pantau oleh kamera CCTV. ia gugup tak bisa mengelak dengan apa yang sudah ia lakukan sebenar nya. ibu Yani berkata mencoba membela diri nya dengan apa yang telah ia lakukan barusan.
"iya saya tahu pak yaris. tetapi kan barang jualan ini tidak boleh dibagi-bagikan gratis. apalagi kepada pengemis seperti yang saya lakukan tadi.." pak Yono yang mendengar pengakuan begitu menjadi tertegun dan menatap pak Yaris.
Pak Yaris tak bisa berkomentar apa-apa karena diri nya memang tak bisa berbuat seenak nya sekarang karena ia sudah bukan pemegang saham perusahaan milik pak Randi lagi. ibu Yani belum menyadari bahwa Doni adalah anak tunggal mendiang pak Randi. pak Yono dan pak Yaris pun tidak memberitahukan nya kepada ibu Yani karena sebelum nya, Doni pernah berkata kepada kedua nya agar merahasiakan identitas Doni jika di luar perusahaan.
Doni kini sudah mendekati ibu Yani, pak Yono dan pak Yaris yang masih berada di dalam kantin. lalu ia merogoh kantong baju nya untuk mengambil kartu debit yang sebelum nya diberikan oleh pak Yaris. Doni berkata kepada ibu Yani.
"sudah bu jangan banyak alasan. nih bayarkan pesanan ku tadi."
lalu Doni memberikan kartu debit hitam kepada ibu Yani bersama pin nya.
Ibu Yani ingin marah lagi tetapi ia kaget dan mata nya mendelik melihat kartu debit hitam yang setahu nya adalah kartu debit para orang-orang kaya. ibu itu menerima nya dan kemudian menatap pak Yaris dan pak Yono secara bergantian.
Ibu Yani menatap Doni lagi seraya bertanya.
"kka..kau dapat dari mana kartu atm hitam ini...???"
"saya yang memberikan nya bu Yani..." jawab pak Yaris dengan cepat. tangan ibu Yani semakin gemetaran ketika menatap Doni. pikiran nya sudah semrawutan antara kesal dan bimbang. ibu Yani berkata kepada pak Yaris sambil menatap nya.
"apa pak Yaris tidak takut kehilangan kartu mahal ini..???. lalu, apa alasan nya karyawan baru ini diberikan kartu mahal seperti ini oleh pak Yaris..?? siapa sih emang nya anak ini..??" tanya Ibu Yani kepada pak Yaris bertanya-tanya.
Pak Yono menatap Doni yang berada di jarak satu meter dari mereka bertiga berdiri. Doni yang di tatap pak Yono hanya mengisyaratkan jari telunjuk nya agar pak Yono diam saja. seperti nya pak Yono ingin memberitahukan nya kepada ibu Yani siapa Doni itu. tetapi ia tak jadi mengutarakan maksud nya karena satu dilarang oleh Doni dan kedua ada pak Yaris. kini selaku satpam kantor, pak Yono hanya menjadi pendengar saja sejak tadi.
Pak Yaris kini berkata jujur kepada ibu Yani.
"ibu Yani. ibu harus minta maaf atas tindakan ibu tadi terhadap nak Doni. saya pun tak setuju juga ketika ibu Yani mengusir pengemis yang minta makan seperti tadi. apa salah nya di beri makanan atau di beri uang untuk pengemis itu beli makan sendiri. lagipula, uang atau makanan yang diberikan tidak akan membuat kantin ini bangkrut dan anggap saja pemberian gratis itu untuk sedekah kepada orang yang tak mampu. saya lebih setuju dengan ucapan nak Doni tadi, jika ibu Yani masih punya orang tua dan orang tua ibu Yani diperlakukan oleh orang lain seperti itu, apa ibu Yani terima..?? marah atau tidak..???"
__ADS_1
"ya pasti saya marah lah pak. anak mana yang tega melihat orang tua nya di maki-maki oleh orang lain.." jawab ibu Yani menjawab nya.
Pak Yaris hanya geleng-geleng kepala nya sambil menatap ibu Yani dan berkata.
"itulah salah nya ibu Yani. dari masa mendiang pak Randi sampai saya yang meneruskan untuk mengelola perusahaan ini, saya pun tak pernah mendapat tugas dari mendiang pak Randi untuk menyuruh ibu Yani agar mengusir pengemis yang meminta-minta. kejadian seperti ini sudah sering sekali saya lihat di layar monitor CCTV Kamera Pengawas di dalam ruangan saya. hanya saja, saya belum sempat untuk menegur ibu Yani yang tidak manusiawi itu."
"tapi kan pak, omzet penjualan akan menurun jika dibagikan secara gratis..??? yang ada kan nanti nya malah rugi pak.?!"
"ibu ini cerewet sekali jadi perempuan.." celetuk Doni menyindir ibu Yani.
"diam kau anak dungu!!" gertak ibu Yani yang sudah tak mampu menahan amarah dan kekesalan nya lagi kepada Doni.
Pak Yono segera menepak pundak bu Yani sambil berkata.
"bu.!! jangan sembarangan bicara kau! anak ini adalah pewaris perusahaan ini yang sudah di wariskan oleh pak Randi melalui pak Yaris.!"
Pak Yaris yang awal nya ingin mengecam ucapan ibu Yani menjadi tak jadi karena Doni lebih dahulu berbicara.
"bu Yani..!! angkut barang-barang mu dari sini.!! pergi sana..!! saya sudah tidak membutuhkan orang seperti ibu untuk mengelola tempat ini lagi.!!"
"siapa kau bangsat berani-berani nya..!!" ucapan ibu Yani terhenti karena pundak nya di cekal pak Yaris.
Pak Yaris menatap ibu Yani dan berkata.
"maaf ibu Yani. sekarang ibu saya pecat atas izin nak Doni selaku anak tunggal mendiang pak Randi yang mewarisi seluruh warisan perusahaan ini!" tegas pak Yaris dan membuat ibu Yani mematung, diam dan pucat pasi.
pak Yono segera berkata pelan kepada ibu Yani.
__ADS_1
"bu Yani, dari awal juga sudah saya katakan nak Doni ini anak nya mendiang pak Randi. sudah ngeyel keras kepala lagi.! tanggung tuh akibat nya.!" ucap pak Yono mengecam dengan ledekan.
Pak Yaris menatap tajam kepada ibu Yani dan Doni pun masih menatap ibu Yani walau tak setajam pak Yaris. kemudian ibu Yani menatap iba kepada pak Yaris sambil berkata.
"mengapa saya di pecat pak..?? saya sudah hampir dua puluh tahun lho mengelola kantin ini dari semenjak pak Randi masih ada..??"
"keputusan saya sudah final dan tidak bisa di ganggu gugat lagi bu Yani.!! masalah saya memecat ibu bukan karena salah ibu mengusir pengemis tadi. ibu tahu tidak..?! anak muda ini adalah anak mendiang pak Randi. dan semua keputusan adalah hak nak Doni sebagai pewaris tunggal perusahaan milik pak Randi ini.!!" tegas pak Yaris dan kemudian terdengar pak Yono berkata kepada Doni.
"nak Doni, coba kau perlihatkan kartu identitas penduduk mu itu kepada ibu ngeyel ini." Doni hanya mengangguk dan kemudian merogoh kantung baju nya dan memberikan kartu KTP nya kepada ibu Yani.
Ibu kantin yang ngeyel dan keras kepala itu menerima KTP Doni dengan tangan gemetaran dan ketika ia melihat nama asli Doni di lembar KTP terlaminating itu, ibu Yani langsung pucat dan segera tersungkur jatuh dan badan nya mendadak lemas. ia tahu bahwa nama anak mendiang pak Randi bernama Doni Pratama dan wajah Doni pun sedikit hampir mirip dengan Ayah nya.
Ibu Yani lalu menangis bersujud kepada Doni dan memegang kedua kaki Doni seraya berkata.
"ampuni saya tuan muda ampun.., saya tidak tahu bahwa tuan muda adalah anak tunggal dari mendiang pak Randi..ampuni saya..jangan pecat saya tuan muda..hik..hik..hik.." ibu Yani menangis sejadi-jadi nya memohon kepada Doni agar mencabut pemecatan nya itu.
Doni masih belum menjawab nya dan ia malah menatap pak Yaris dan pak Yono yang sedang ikut menyaksikan ibu Yani bersujud mengiba-iba. lalu terdengar ibu Yani berkata lagi.
"jangan pecat saya..hik..hik.. anak saya masih kecil dan masih sekolah SMP. jika saya di pecat..heu..heu..siapa yang akan membayar biasa sekolah anak saya..?? sedangkan saya hanyalah seorang janda tua..hik..hik..hik.." ucapan ibu Yani itu membuat perasaan hati Doni menjadi tak tega untuk memecat nya.
Ia teringat dengan anak nya ibu Elis yang masih SMP dan biaya sekolah terkadang sering menunggak karena penghasilan ayah dan ibu nya tak seberapa. ayah nya yang bernama pak Tohir itu hanyalah seorang buruh harian lepas atau bekerja di saat ada yang menyuruh nya saja. sedangkan ibu Elis, ia menjadi tukang cuci pakaian di kampung tersebut.
Doni sering mendengar keluhan dari ibu Elis tentang biaya anak nya itu dan kini, ia merasakan hal itu kepada pengakuan ibu Yani yang mengaku anak nya masih SMP dan biaya sekolah pun dia sendiri yang menanggung nya karena ibu Yani adalah seorang janda tua yang di tinggal mati suami nya dan tak mau menikah lagi dengan lelaki manapun sampai saat ini.
...*...
...* *...
__ADS_1