
Pagi pun telah tiba, badai salju juga sudah berhenti sejak matahari mulai menunjukan wujudnya. Tyrian menggendong Alaglosa di belakangnya, menuju ke pintu keluar jurang itu. Di depan pintu itu sudah ada beberapa pasukan milik Tyrian yang menerima sinyal darinya semalam, dan juga Daylor.
Beberapa orang terlihat berlarian ke arah sepasang manusia yang baru saja keluar dari pintu jurang itu. Semua merasa khawatir dengan keadaan tuan mereka masing-masing, apalagi pasukan Tyrian yang sudah sejak tiga hari lalu mencari tuan mereka. Sungguh bisa gawat jika sampai terjadi sesuatu dengan tuan mereka ini, karena pemimpin wilayah selatan pasti akan menuntut pertanggung jawaban dari pemimpin Amanecer.
" terima kasih .." ucap Alaglosa setelah Tyrian menurunkan dirinya dari gendongannya.
" Ikutlah dengan ku saja, Aku akan membawa mu ke selatan. Tempat ini tidak akan lagi aman untuk mu.." Tyrian menawarkan.
" Selama ini, tempat ini aman-aman saja. Dan di lembah sana ada sebuah barier yang tidak akan mudah ditembus oleh siapapun." Alaglosa menolak.
Sebenarnya semenjak tahu bahwa Tyrian ini adalah pria yang telah dia sakiti di masa lalu. Alaglosa menjadi ingin untuk menebusnya. Tapi dekat dengan salah satu orang yang berasal dari kehidupan lampaunya hanya akan menyeretnya untuk kembali ke kematian yang mengerikan itu.
Alaglosa terlalu takut jika pria di depannya ini menanggung semua takdirnya entah itu di kehidupan ini akan berubah atau tidak. Tapi Alaglosa paling tidak ingin jika pria ini menderita lagi karenanya.
" Pemimpin pasukan manusia serigala lolos dalam pertempuran kemarin. Bukan tidak mungkin jika dia tidak akan ke tempat ini. Dengarkan aku nona, meski tempat ini memiliki barier yang kuat yang hanya bisa dimasuki oleh penyihir putih, tapi yang namanya penyihir bukan hanya itu saja, masih ada dark witch. Mereka bisa memasuki tempat ini karena mereka juga penyihir." terang Tyrian memberikan gambaran pada Alaglosa.
" Jangan banyak dipikirkan, ikuti saja kata-kata ku agar kalian bisa selamat. Aku akan pergi ke ibukota untuk melapor pada pria gila itu, tunggu aku di sini setelah semua urusan ku di ibukota selesai, aku akan menjemput mu.." Tyrian menggenggam tangan Alaglosa dengan kuat seolah takut akan kehilangan.
" Baiklah.. Saya akan menunggu anda disini.." akhirnya Alaglosa menyetujui.
Tyrian bersama dengan pasukannya langsung berangkat menuju ke ibukota. Tyrian harus segera menyelesaikan urusannya agar lekas menjemput gadis yang selalu menjadi pengisi hati dan pikirannya sejak awal pertama kali mereka bertemu. Dulu saja dia memang tidak menggenggam kuat tangan gadis itu karena masih mengingat perjanjian yang mengikat keluarganya. Tapi kini, dia yang sudah memiliki kekuatan yang cukup untuk bisa mempertahankan dan melindungi apa yang dia miliki, merasa ini waktu yang tepat membawa gadis itu ke sisinya.
*********
Baru setengah jalan dari lembah ke ibukota, tiba-tiba saja perjalanan pasukan Tyrian ini harus berhenti ketika melihat ada assassin milik Tyrian yang tiba-tiba saja tergeletak tidak berdaya di depan rombongan Tyrian berserta dua assassin lainnya. Luka mereka terlihat cukup parah, tapi bukan itu yang menarik perhatian dari Tyrian, melainkan tidak adanya gadis yang dia baru saja pikirkan itu bersama ketiga assassin yang seharusnya menjaga gadis itu.
Tyrian bergegas turun dari kuda hitamnya mendatangi tiga assassin yang tergeletak di jalan itu. Tyrian membangunkan salah satu dari mereka untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan dimana keberadaan Alaglosa saat ini.
" ka--kami... kaa-kami....diserang tuan... No-no...nona,, dib-ba-wa mereka.." ujar assassin yang menjadi anak buah Tyrian.
__ADS_1
" Apa kau bilang?" belum selesai keterkejutan Tyrian , tibatiba saja sebuah tangan menarik lengan bajunya.
" Nona....dibawa... oleh ........." Daylor membisikkan sesuatu pada Tyrian yang langsung membuat hawa membunuh Tyrian menguar dari seluruh tubuhnya. Membuat siapa saja yang melihatnya bergetar ketakutan.
" kalian semua ikuti aku...!!!" titahnya.
Tanpa menunggu lagi, Tyrian segera memacu kudanya dengan kecepatan sangat tinggi. Tyrian tidak peduli jika nanti kuda kesayangannya ini mati karena kelelahan, yan Tyrian tahu hanya dirinya yang ingin lekas samapi ke tempat dimana gadis itu dibawa.
Tyrian jadi mengingat alasan yang pernah Alaglosa katakan padanya tentang kepergiannya dari tanah para elf. Hal ini semakin membuat Tyrian panik. Dalam hati dirinya bersumpah, jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Alaglosa, maka Tyrian tidak akan segan-segan menghancurkan orang-orang yang terlibat. Tyrian juga bersumpah, bahwa dia tidak akan melepaskan tangan Alaglosa apapun yang terjadi.
********
Beberapa waktu yang lalu, di tempat tinggal Alaglosa.
Dari jurang tempat dimana tadi Alaglosa berpisah dengan Tyrian sampai ke tempatnya memang sedikit jauh dan lama jika berjalan. Tapi itu adalah hal yang biasa bagi Alaglosa. Dia menikmati perjalanan kali ini karena rasanya hatinya sungguh berbunga-bunga saat ini.
Ketika perjalanan mereka hampir sampai, tiba-tiba muncul beberapa Assassin yang memiliki tingkatan tinggi. Tapi dilihat dari cara berpakaian mereka jelas mereka tidak sama seperti dua Assassin yang mengawal Alaglosa kembali ke tempat tinggalnya.
" Gawat.. Mereka itu orang jahat... " gumam Daylor langsung mengambil tempat tepat di depan Alaglosa, " Nona,, mereka adalah musuh.. " Daylor memberitahu Alaglosa.
" Bagaimana bisa ada musuh?? " Alaglosa terkejut hingga membuat tubuhnya menjadi tidak bisa digerakan.
" Saya tidak tahu, tapi pastikan anda tidak terlalu jauh dari saya, nona.. Dan jangan khawatir, kita memiliki bala bantuan.. " ujar Daylor dengan tenang.
Belum sempat Alaglosa bertanya tentang apa maksud dengan kata bantuan yang diucapkan oleh Daylor. Tiba-tiba di depannya muncul dia orang Assassin memakai pakaian ungu gelap. Alaglosa tahu siapa mereka, karena di kehidupannya yang dulu dia juga memiliki pengawal yang berpakaian ungu, sama seperti yang ada di depannya ini. Alaglosa pun tahu siapa yang memerintahkan mereka, sungguh luar biasa pria satu itu. Di kehidupan Alaglosa dulu dan sekarang, pria ini tetap mendahulukan segala kepentingan dan keselamatan dari Alaglosa.
SSSRRRRRIIINGG
DUG
__ADS_1
DUG
SRRREEEETTT.... BRUGH..
TANG.... TANG.....
DUG
BUGH
" Daylor... " Alaglosa berteriak ketika musuh berhasil menendang pengawalnya hingga terlempar cukup jauh dari tempatnya tadi.
" Lindungi nona.. Prioritas utama kita adalah nona.. " teriak Daylor pada kedua Assassin yang hendak membantunya menghajar musuh.
DUG..
SSRRREEETTT
" AAAAARRRGGHHHH... " satu musuh telah gugur karena tebasan Assassin milik Tyrian.
GRRUUURUDDUUUKKK
Tanah tempat berpijak dari Alaglosa tiba-tiba saja bergetar kuat sehingga membuat Alaglosa terpisah dengan dua Assassin yang melindunginya. Hingga hal itu dimanfaatkan oleh musuh dan langsung membawa Alaglosa pergi bersama mereka setelah membuat Alaglosa pingsan.
" Nona... " teriak Daylor yang langsung mengejar para musuh itu diikuti dua Assassin milik Tyrian.
Namun luka yang dialami ketiga orang ini cukup parah sehingga mereka bertiga tertinggal jauh dari musuh. Daylor mencengkeram sobekan baju Assassin yang tanpa sengaja terobek olehnya.
" Kita temui tuan kalian.. Aku akan menunjukkan ini padanya.. " Daylor menunjukan kain robekan baju assassin yang berwarna merah itu. Dan mereka langsung tahu, karena Assassin dengan warna baju ini, pastilah milik pria itu.
__ADS_1