
Hari-hari berikutnya, bagi Tyrian dan Alaglosa hanya diisi dengan latihan, latihan, dan latihan. Keduanya harus bisa menyelaraskan kemampuan kedua pengendalian mereka untuk bisa menyegel monster itu, seperti apa yang pernah Acfica lakukan dulu. Hanya saja disini yang menjadi masalahnya, baik Tyrian dan Alaglosa masih sama-sama minim pengetahuan tentang kemampuan mereka ini.
Seperti pagi ini, Tyrian masih berusaha untuk membuat sebuah apel berpindah waktu atau mengalami sebuah gejala pembusukan karena telah melintasi waktu selama beberapa hari. Namun rasanya ucapan tidak akan semudah prakteknya. Nyatanya, sudah tiga hari Tyrian belajar, tapi tidak ada peningkatan sama sekali.
Alaglosa sendiri, masih tetap pada pencapaian sebelumnya. Dia masih secara tidak sengaja memindahkan jiwanya ke tempat yang dia sendiri tidak bisa kendalikan. Padahal jika memang Alaglosa memiliki kemampuan pengendalian ruang, dia pasti bisa memindahkan objek apapun ke manapun dia mau. Apel miliknya juga sudah tiga hari ini tidak berpindah kemana pun. Tetap di tempat yang sama, sejak beberapa jam yang lalu.
" Kenapa sulit sekali? Rasanya aku tidak sanggup lagi.. " keluh Alaglosa ketika dia bisa mengistirahatkan tubuhnya ketika suaminya mendapatkan panggilan dari ayah mertuanya. Jika saja Tyrian tidak pergi menemui ayahnya, sudah pasti latihan masih berlangsung sekarang ini.
" Anda ingin sesuatu nyonya? Biar nanti kami bawakan untuk anda.. " Kavana menawarkan.
" Aku ingin minuman yang dingin.. Rasanya tubuh panas sekali saat ini.. " pinta Alaglosa memelas.
" Baik, nyonya.. Tolong menunggu sebentar.. Saya akan segera kembali.. " Kavana pergi menuju ke dapur yang ada di kastil tengah untuk menyiapkan apa yang diinginkan tuannya.
Fuchsia dengan gerakan yang cekatan langsung memijit pundak dari Alaglosa saat mengetahui pundak Alaglosa terasa kaku karena tegang. Sedangkan Siroselle, tengah mengipasi Alaglosa agar rasa panas di dalam tubuhnya sedikit berkurang dengan angin sejuk yang dihasilkan oleh kipas yang digerakan Siroselle.
__ADS_1
Alaglosa hanya menatap kosong apel yang menjadi objek yang akan dipindahkan Alaglosa ke ruang lain. Tapi nyatanya dia masih belum mampu melakukannya, padahal waktu yang dia dan Tyrian miliki tidak banyak untuk menguasai kemampuan ini. Disaat pikirannya tangah kosong karena kelelahan dan fokus pada sesuatu yang tidak mendasar, Tiba-tiba saja ketika sadar, Alaglosa sudah berada di tempat lain.
" Kenapa sekarang aku berpindah tempat, sedangkan apel itu saja tidak berpindah sejak tiga hari yang lalu... " keluh Alaglosa merasa frustasi.
" Eh.. Bukankah ini di istana putra mahkota.. Lalu kenapa aku bisa ada disini sedangkan yang bersangkutan saja ada di selatan? " Alaglosa sedikit bingung. Namun kedua kakinya tetap melangkah ke arah kamar tidur putra mahkota. Dia tentu tahu tempat itu karena memang di kehidupannya yang lalu, dia sering sekali datang ke tempat ini.
Alaglosa semakin mendekat ke arah ruangan yang setahunya adalah kamar pribadi Saturn. Tapi yang aneh disini, Alaglosa mendengar suara-suara laknat dari kamar itu. Padahal setahu dirinya, pemilik tempat ini tidak berada di tempat. Kini yang menjadi pertanyaan, suara laknat siapa yang menggema di tempat ini. Apalagi anehnya tidak ada penjaga sama sekali, yang Alaglosa lihat sepanjang langkahnya.
" Kau sungguh luar biasa... Tidak ada tandingannya.... Kemampuan mu di atas ranjang, mengalahkan semua wanita yang pernah merasakan kemampuan ku.. " terdengar suara seorang pria yang berucap. Pria itu tengah memuji kemampuan wanita yang tengah menemaninya di dalam ruangan itu.
" Tentu saja... Apa hebatnya ratu yang kurus dan tidak pandai merawat diri itu? Masih hebat saya dalam segala hal... Tapi yang mulia, apakah saya boleh meminta sesuatu? " kali ini terdengar suara seorang wanita.
" Bantu saya menjadi putri Mahkota dan berikan kekuasaan atas tanah para elf pada saya.. Apakah anda sanggup memberikan hal itu untuk saya? "
" Baik... Tapi bantu aku untuk kembali menidurkan ini***... "
__ADS_1
Mendengar ucapan antara pria dan wanita itu membuat Alaglosa semakin penasaran dengan kedua sosok yang tengah dengan beraninya menjadikan tempat pribadi putra mahkota sebagai tempat mesum. Rahang Alaglosa sampai jatuh ke bawah ketika melihat adegan dewasa di hadapannya dan yang lebih membuatnya tidak percaya adalah dua orang yang tengah berbagi peluh di atas ranjang putra mahkota itu.
" Gila... Sejak kapan semua ini terjadi? Dan apa tadi katanya, menguasai wilayah para elf.. Aku harus memberikan peringatan pada ayah untuk waspada dengan tindakan yang akan diambil kedua orang ini.. " Alaglosa menjadi lebih waspada lagi dengan fakta baru yang dia dapatkan. Sepertinya, dia memiliki cara untuk menarik Saturn ke dalam kubunya.
" Kalian lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian.. Benar-benar menjijikan melihat mereka seperti ini.. Apakah di kehidupan dulu, semua ini juga pernah terjadi? Jika iya, sungguh bodoh aku tidak menyadarinya.. " Alaglosa sungguh sangat terkejut dengan penemuannya kali ini.
" Ossa... Ossa... Alaglosa... Hei... Hei.. sadar..!! " Tyrian menepuk pelan pipi Alaglosa yang terlihat sangat aneh sekali saat ini.
Mata Alaglosa terbuka lebar, tapi sama sekali tidak merespon ketika dipanggil dan digoyang tubuhnya. Seakan tubuh Alaglosa tidak memiliki jiwa, sehingga mirip seperti mayat hidup.
" Jangan-jangan... " gumam Tyrian yang sepertinya mengerti apa yang terjadi pada sang istri.
" Salah satu dari kalian, panggilkan guru besar.. Katakan pada beliau bahwa jiwa istri ku kini berada di tempat yang berbeda.. " titah Tyrian. Fuchsia langsung berlari masuk ke kastil untuk menemui seseorang yang dipanggil guru besar itu.
Setelah kepergian Fuchsia, Tyrian tidak menyerah untuk menyadarkan sang istri agar jiwanya kembali ke raganya lagi. Jujur saja, Tyrian sedikit takut melihat ini semua. Rasanya sungguh tidak bisa dipercaya, ketika pertama kalinya bagi Tyrian melihat sang istri melintas ruang. Apakah dia nantinya bisa melakukan seperti apa yang dilakukan sang istri?
__ADS_1
Tak lama, datanglah guru besar bersama dengan Kaisar Proston dan diikuti Fuchsia di belakang mereka. Guru besar langsung melihat Alaglosa, dan dia membenarkan bahwa di dalam tubuh Alaglosa sudah tidak ada jiwanya sama sekali. Guru besar tidak bisa sembarang menarik jiwa Alaglosa untuk kembali masuk ke dalam raganya karena itu sangat berbahaya karena dapat melukai jiwa Alaglosa.
Satu-satunya cara untuk menghadapi situasi seperti ini adalah dengan mengerahkan semua pada Alaglosa sendiri dan juga waktu. Semoga saja sama seperti sebelumnya, jiwa Alaglosa dapat kembali lagi ke raganya.