
Alaglosa terduduk di sebuah baru besar yang berada di tempat barak pasukan Tyrian, dibangun sementara di area luar hutan beku sambil menunggu pagi tiba. Mereka semua juga butuh istirahat setelah pertempuran yang sengit tadi. Jadi mereka semua memutuskan membangun barak di sini dan menunggu pagi tiba baru kembali ke kastil.
Alaglosa termenung, memikirkan apa yang dia lihat tadi saat monster naga itu tersegel. Entah apa yang dia lihat, bisa saja kenangan dari monster naga itu, atau justru masa depan, yang jelas apa yang Alaglosa lihat membuatnya semakin ketakutan akan hukum alam.
Tyrian yang sejak tadi mencari keberadaan sang istri, akhirnya bisa bernafas lega saat menemukan sang istri berada di sebuah bebatuan besar yang tak jauh dari barak tempat mereka beristirahat malam ini.
" Kenapa di luar dengan pakaian tipis seperti ini? Kau bisa membeku karena kedinginan.. " Tyrian menyampaikan selimut tebal di pundak Alaglosa untuk menghangatkan tubuh sang istri.
" Sedang ingin menikmati angin malam.. " Jawab Alaglosa sekenanya karena dia sedari tadi sebenarnya tidak merasakan dingin sama sekali lantaran pikirannya tengah diliputi banyaknya perkiraan akan apa yang akan terjadi di masa depan.
" Apa kau ingin bercerita? Aku bisa mendengarkan apapun yang ingin kau ceritakan.. " Tyrian menatap wajah Alaglosa yang terlihat tengah tersenyum menatapnya.
" Saat monster tadi tersegel.. Aku mendapatkan sebuah penglihatan yang diluar nalar dan aku cukup takut dengan apa yang aku lihat.. Entah itu tentang masa lalu atau masa depan, yang jelas aku sangat takut jika hal buruk terjadi pada mu.., . Ucap Alaglosa jujur. Berbohong juga tidak akan mendapatkan apa-apa malah justru membahayakan mereka jika Alaglosa tidak mengatakan yang sebenarnya.
" Apa yang kau lihat? " Sejak tadi memang Tyrian sudah sangat penasaran tapi memilih untuk menunggu istrinya ini mengatakan yang sebenarnya.
" Melihat bagaimana sepasang kekasih harus menjadi musuh karena hukum alam yang harus dijalani salah satunya.. " Alis Tyrian berkerut.
__ADS_1
" Maksudnya.. Bagaimana? " Tanya Tyrian yang memang sudah tidak sabar mendengar cerita lengkapnya.
Alaglosa pun akhirnya menceritakan penglihatan nya saat monster naga itu tersegel. Dalam penglihatan Alaglosa, dia melihat ada dua orang yang satu perempuan dan yang satu adalah laki-laki. Keduanya digambarkan awalnya saling mencintai hingga akhirnya yang laki-laki justru membuat kesalahan yang tidak akan pernah bisa diterima oleh siapapun.
Laki-laki ini telah membunuh banyak manusia yang mengancam kaumnya. Hingga akhirnya laki-laki ini berubah menjadi monster yang menelan kegelapan dari semua makhluk. Dan perempuan yang menjadi kekasihnya pun akhirnya harus berperan dengan hatinya untuk mengalahkan laki-laki yang sebenarnya adalah calon suaminya itu.
" Hukum alam yang dilanggar si pria itu akhirnya membuatnya mati ditangan wanita yang dia cintai.. Menurut mu, bukankah itu adalah hal yang menakutkan.. " Ujar Alaglosa di akhir ceritanya.
" Sejak dalam pertarungan tadi.. Aku merasa kau terpaku pada perkataan dari ratu kegelapan. Apa ada yang kau sembunyikan dari ku? " Tyrian menatap Alaglosa penuh kecurigaan.
" Tidak.. Tidak ada.. Ngomong-ngomong, dimana ratu kegelapan? Aku tidak melihatnya setelah kita berhasil menyegel monster itu. " Alaglosa lekas mengganti topik pembicaraan mereka karena tidak ingin jika Tyrian lebih mencurigai dan bertanya hal-hal yang tidak bisa dijawab Alaglosa sekarang.
Tidak ada lagi pembicaraan di antara sepasang suami istri ini. Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk masuk ke barak tempat mereka beristirahat. Mengistirahatkan sejenak lelah mereka karena pertempuran dengan monster naga yang memakan waktu hampir tiga hari.
Besok, ketika matahari pagi menyongsong, mereka akan kembali ke kastil. Memulai semuanya hari awal, mempersiapkan semua kebutuhan yang dibutuhkan ketika membangun kembali ibukota yang sempat dihancurkan oleh para monster.
************
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di dalam sebuah hutan yang dipenuhi dengan kegelapan. Terlihat seorang wanita terduduk di bawah pohon dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Di tubuhnya terlihat banyak sekali darah yang mengalir membawahi gaun berwarna merah tua yang dikenakan wanita ini.
" Sial.. Mereka kembali menggagalkan ku.. " Gumam ratu kegelapan marah.
" Andai saja aku adalah wadah dari pemilik kegelapan sejati, maka aku tidak akan dikalahkan oleh bocah kemarin sore seperti ini. " Kesal ratu kegelapan.
" Aku... Harus memanggil.. Bantuan... " Ucap ratu kegelapan ini.
" Ho ho ho.. Rupanya kau berada disini? Sungguh mengejutkan sekali, melihat seorang ratu kegelapan berakhir seperti ini.. " Seorang pria datang menghampiri ratu.
" Kau.. Kau.. Bagaimana bisa? " Ratu kegelapan terkejut melihat sosok pria yang berdiri di depannya ini.
" Tentu saja bisa.. Kau sudah memberikan sumpah pada dewa bahwa tidak akan pernah anak dan keturunan mu yang akan membuat keturunan Iynx dan Braern celaka.. Tapi perbuatan mu kali ini sudah jelas telah melanggar sumpah ku sendiri.. Karena itu aku datang untuk membuat perhitungan dengan mu.. Terimalah, apa yang seharusnya diterima bagi mereka yang melanggar sumpah mereka sendiri.. " Pria ini kemudian mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya.
CRASH
BUGH
__ADS_1
Tubuh ratu kegelapan tergeletak begitu saja di tanah dengan kepala yang sudah tidak lagi menyatu dengan tubuhnya. Pria ini pun kemudian mendekat dan menyalakan api kemudian melemparkan api itu tepat di tubuh ratu kegelapan, hingga muncul api berwarna biru yang membakar tubuh ratu kegelapan.
" Hukuman bagi siapa saja yang sudah melanggar sumpahnya sendiri pada dewa.. "