
Di lereng gunung yang kini tengah dalam kondisi aktif, pertempuran antara manusia dan juga monster dari inti bumi telah berlangsung sangat seru. Jika ada yang melihatnya dari posisi yang lebih tinggi, seperti di atas langit tempat para dewa berada, pasti semuanya menonton dengan serius.
Monster dari inti bumi, semuanya merupakan monster dari elemen apa dan juga tanah. Cukup sulit menghancurkan mereka karena monster ini memiliki kemampuan beregenerasi, bagi yang memiliki elemen tanah. Bagi yang memiliki elemen api, mereka tidak akan mudah untuk didekati dan di serang dengan kekuatan sihir. Tubuh mereka kebal akan senjata dan kekuatan sihir, jika ingin mengalahkannya, haruslah dia memiliki kemampuan elemen petir dan air.
" Yang mulia.. Jika terus begini, kita bisa kehabisan manna.. " Seru marquess Vollin yang membantu Zeco bertarung.
" Sial.. Kita kekurangan pengendali elemen air dan petir.. Kalau saja ada ayah disini.. " Gumam Zeco sambil tangannya terus mengayunkan pedang menusuk soul stone milik para monster, agar mereka tidak beregenerasi.
Dugh
Brak
Aaarrrggghhh
Pasukan milik marquess Vollin terlempar ke segala arah, setelah mendapatkan hempasan dari ekor montres rubah api. Monster ini sangat besar, tiga kali lipat dari ukuran naga sebenarnya. Jelas saja, akan sangat kesulitan untuk menangani monster ini.
" Vollin.. Cepat perintahkan anak buah mu, untuk memberikan kabar pada ayah ku.. Minta ayah ku kemari.. " Titah Zeco.
" Baik yang mulia.. " Marquess Vollin lekas pergi untuk meminta seorang teleporter, agar menyampaikan pesan pada Kaisar Proston di istana.
" Lindungi Marquess.. " Titah Zeco begitu melihat para monster ternyata mengincar Marquess Vollin.
" Sial.. Bagaimana bisa mereka mengincar Vollin? Apa mereka memiliki kecerdasan seperti manusia? " Batin Zeco cukup terkejut dengan apa yang dia lihat.
Bruk..
Zeco mundur ke belakang setelah mendapatkan serangan dari monster yang mirip dengan monster rawa. Sangat jelek sekali, jika dilihat, dan Zeco benar-benar geli melihat monster seperti ini. Beberapa kali, terlihat dia bergidik ngeri dengan monster yang kini terus memepetnya dengan serangan demi serangan yang ditujukan pada kelemahannya.
__ADS_1
Beberapa kali, serangan monster ini hampir melukai tubuh Zeco. Beruntung Zeco memiliki kekuatan infinity, sehingga dia bisa membentuk sebuah perisai untuk dirinya sendiri. Meski begitu, penggunaan kekuatan ini, terlalu banyak menguras mannanya. Sebagai Demigod, Zeco tidak bisa sesempurna leluhurnya yang merupakan dewa dengan kekuatan infinity miliknya.
Huft
Huft
Huft
" Mereka bertambah banyak, dan kekuatan mereka justru semakin hebat setelah membelah diri.. Aish.. Dengan cara apa aku bisa mengalahkan mereka.. " Gerutu Zeco.
" Tuan.. Daripada anda menggerutu, lebih baik bantu kami.. " Sindir Klaen, pelindung Zeco.
" Diam kau.. Meminta ku membantu? Lalu apa yang aku lakukan sejak tadi jika kau masih meminta ku membantu.. " Sentak Zeco marah. Tangannya terayun dengan cepat menyerang monster, meski terkadang ditangkis oleh para monster ini.
" Yang mulia.. Sepertinya mereka adalah monster yang memiliki kemampuan berevolusi.. " Ucap Roszak Nelle.
" Kita bahas itu nanti.. Sekarang, bisakah kalian berdua fokus pada apa yang ada di depan kita terlebih dahulu? " Sindir Klaen yang sejak tadi berusaha menghadang serangan ke arah dua orang yang asyik mengobrol ini.
" Oh.. Maaf.. " Ucap Zeco dan Roszak bersamaan.
Semuanya masih terus melayang kan serangan pada monster-monster yang kini jumlah mereka sudah hampir melebihi pasukan milik marquess Vollin dan Zeco. Para pasukan sudah sangat kelelahan karena pertempuran ini sudah berlangsung hampir satu harian. Tapi lihat, bukan keadaan berangsur membaik dan kemenangan mereka raih, justru semakin lama, mereka semakin mendekati kekalahan.
Zeco bahkan sudah bersimbah darah milik para monster, tapi tidak ada yang mati meski darah para monster banyak yang mengenai nya. Zeco, sudah mirip monster dengan darah yang menutupi hampir seluruh zirah yang dia kenakan. Sebenarnya, Zeco sangat jijik dengan kondisinya saat ini. Tapi apa boleh buat, dia ternyata salah prediksi hingga membuat semuanya justru merugikan nya.
" Pangeran.. Awas... " Roszak langsung menerjang Zeco yang hampir saja terkena lemparan batu besar.
" Sialan.. Berani-beraninya monster sialan ini mencelakai ku.. " Dada Zeco naik turun karena emosi.
__ADS_1
" Roszak.. Kau bisa memanggil hujan kan? " Tanya Zeco tanpa mengalihkan pandangannya dari para monster itu.
" Memangnya kenapa pangeran? " Tanya Roszak heran. Disaat seperti ini, kenapa tuannya justru memikirkan hujan.
" Panggil hujan.. Kalau perlu badai sekalian.. Aku akan memancing petir dengan kekuatan ku.. " Ucap Zeco yang kemudian melesat menjauh dari Roszak yang menatap datar tuannya.
Zeco melesat terbang menuju ke arah pasukannya paling banyak berada. Zeco tidak ingin, jika dia memanggil petir dan para pasukannya akan ikut tersambar. Jadi lebih baik, dia meminta pasukannya mundur di jarak yang aman. Waktunya tidak banyak, karena Roszak sudah mendatangkan hujan saat ini.
" KALIAN SEMUA.. MUNDUUURRRRRRR... " teriak Zeco.
Meski tidak paham maksud dari perintah tuan mereka. Tapi sebagai anak buah, tentu saja semua pasukan menjalankan perintah tuan mereka. Dengan menggunakan dorongan angin yang cukup kencang deri marquez Vollin, pasukan monster langsung mundur menjauh dari pasukannya. Hal ini segera dimanfaatkan oleh para pasukan untuk mundur sampai ke dekat benteng mereka.
" Pangeran.. Apa Anda membutuhkan bantuan saya? " Marquez Vollin menawarkan bantuan.
" Hm.. Buat angin yang kencang di sekitar para monster itu.. Buat dinding dari angin, sehingga meraka tidak akan meninggalkan titik mereka berada sekarang!! " Titah Zeco, yang tentunya langsung dilaksanakan oleh marquez Vollin.
" Roszak... PERGI DARI SANA!!! " Zeco berteriak meminta Roszak untuk mundur. Sudah cukup hujan yang begitu deras mirip badai ini.
Zeco memiliki kemampuan untuk memaksimalkan suatu kondisi. Dalam artian saat ini, dengan kemampuannya dia bisa membuat hujan semakin deras melebihi apa yang Roszak buat saat ini. Hal itu nantinya akan memicu munculnya petir dan guntur, dan Zeco akan kembali memaksimalkan kondisi itu hingga petir itu nantinya akan menyambar para monster yang terperangkap pusaran angin milik marquez Vollin.
Hujan semakin deras, di langit yang tadinya cerah karena siang hari, kini berubah menjadi sangat gelap. Petie mulai terlihat samar-samar dari awan yang berwarna gelap itu. Zeco lun langsung terbang ke langit, tangannya dia naikan mengharap langit. Saat Zeco kemudian menurunkan tangannya, petir mulai tidak terkendali dimana mereka mulai menyambar apa saja yang ada di tanah.
Bau gosong meruak kemana-mana, karena benda di daratan yang tersambar oleh petir. Belum lagi, kini Zeco mengarahkan semua petir itu mengatakan ke satu titik. Monster-monster mulai mengaum karena tersambar oleh petir. Berlarian kesana kemari menghindari petir, namun karena Zeco mengarahkan semuanya pada area dimana Monster berada. Sudah dipastikan tidak akan ada yang selamat.
*********
Dari ibukota, bisa dilihat di langit yang mengarah ke arah gunung berapi berada, menjadi sangat gelap. Kilat terlihat menyambar terus menerus, seperti ada orang yang mengarahkannya. Alaglosa duduk di balkon kamarnya menghadap ke arah gunung berapi. Ketika dia mengedipkan mata, saat dia kembali membuka matanya, dia sudah berada di tempat yang tidak dia sangka sebelumnya.
__ADS_1
" Kenapa.. Aku disini? " Gumam Alaglosa.