
Di ibukota, tempat yang letaknya sedikit jauh dari letak peperangan yang terjadi di lereng gunung. Raga Alaglosa tergeletak di kursi yang ada di balkon kamarnya. Mata Alaglosa terbuka, namun jiwanya melayang jauh ke tempat dimana hatinya berkenan. Entah apa yang memicu Alaglosa berpindah tempat, meski hanya jiwanya. Karena kemampuan Alaglosa ini, kini sudah berhasil dia kendalikan.
Alaglosa tidak akan berpindah jiwa tanpa keinginannya. Dengan kata lain, jika Alaglosa tidak menginginkan ke suatu tempat, maka jiwa Alaglosa tidak akan berpindah. Namun kali ini jelas berbeda, karena Alaglosa sama sekali tidak memiliki kehendak untuk berpindah tempat.
" Kenapa.. Aku bisa ada disini? " Gumam Alaglosa saat melihat ke sekitar. Tempat yang begitu Alaglosa hafal, karena di kehidupannya yang lalu, dia sempat berada di tempat ini untuk waktu yang cukup lama.
Merasa penasaran kenapa dia tiba-tiba saja datang ke penjara bawah tanah yang ada di kediaman putra mahkota. Kaki Alaglosa terus masuk ke lebih dalam lagi ruang bawah tanah ini. Hingga di tempat yang dia rasa hampir dekat dengan tempat dimana dia dulu disekap, Alaglosa mendengar suara-suara yang cukup tidak masuk akal, jika terdengar di tempat ini.
Penasaran, Alaglosa semakin mempercepat langkahnya hingga di sampai di tempat asal suara aneh itu. Alaglosa langsung mundur beberapa langkah, hingga membentur dinding. Apa yang dia lihat saat ini, sama sekali tidak pernah dia sangka sebelumnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya, akan ada kejadian seperti ini.
" Jadi selama ini mereka... Lalu dulu? " Alaglosa tak mampu lagi melanjutkan ucapannya yang penuh dengan praduga.
" Apakah ini mimpi? Tapi, bukankah aku tadi ada di balkon melihat langit.. Lalu? Ini mimpi, atau aku berpindah tempat.. Kenapa terasa nyata sekali? " Alaglosa meracau karena panik.
**" Bagaimana rasanya bercinta di tempat yang mana,dulunya pernah kakak tiri mu tempati,karena dianggap sebagai ratu yang gagal? "** suara wanita yang amat sangat Alaglosa benci itu, bertanya pada seseorang yang tengah memacu tubuhnya di atas wanita yang Alaglosa benci.
**" Apa maksud mu? Kakak ku? Alaglosa? Di sini? Bagaimana bisa...aaarghhh? "** Tanya seorang pria yang tengah mengejar kepuasan nya.
**" Hahahahahaha..aarrgghh.. Kau tidak percaya? Dulu, di kehidupan yang lalu.. Aku melihat kakak mu dipenjara sebagai ratu yang telah berkhianat karena berzinah dengan...aargghh.. Adik iparnya sendiri.." ** ujar Circe.. Wanita yang amat Alaglosa benci, yang kini tengah menikmati apa yang dipersembahkan oleh pria bodoh yang adalah adik tiri Alaglosa, Caballero.
__ADS_1
**" Kapan? Sejak kapan Ossa menjadi ratu? Itu tidak mungkin.."** Caba, sama sekali tidak percaya dengan ucapan dari wanita yang telah menjadi miliknya selama beberapa bulan ini.
Circe, akan melakukan banyak sekali hal, untuk bisa membuatnya mendapatkan apa yang dia inginkan. Selain King Kriston, Circe juga merayu putra mahkota dan juga pangeran elf. Tujuannya, tentu saja untuk mendapatkan dukungan melawan seseorang yang sangat dia benci, bahkan sejak dia masih kecil.
Di antara ketiga pria yang Circe rayu, dua diantaranya merupakan orang terdekat dari Alaglosa. Di mulai sejak pertama kali Alaglosa bertemu dengan Circe saat ratu elf terdahulu, bertamu di wilayah selatan. Saat itu, semua orang memuji Alaglosa karena cantik, anggun dan pintar. Warna matanya yang berwarna hijau emerald, rambutnya yang pirang dan tergerai panjang, mampu menyihir semua orang yang melihatnya. Karena itulah, Circe begitu membenci Alaglosa.
" Menjijikan.. Sejak kapan mereka berbuat hal gila seperti ini? " Ujar Alaglosa terlihat sangat marah. Dia merasa dikhianati oleh keluarga yang selama ini selalu dia utamakan. Cabarello, adalah saudara yang sangat Alaglosa sayangi meski mereka berbeda ayah. Tapi, lihat sekarang apa yang dilakukan oleh adiknya.
**" Di kehidupan yang lalu.. Maksud mu, kakak ku adalah orang yang berasal dari masa depan"** Tanya Caba, setelah dia menyelesaikan pertempuran kenikmatan dengan Circe.
**" Tepatnya, jiwa Alaglosa lah yang berasal dari masa depan.. Di masa itu, kakak mu menikahi putra mahkota, dan berakhir dikorbankan sebagai korban persembahan untuk bintang Saturn, agar bisa membangkitkan kekuatan Iynx dalam diri putra mahkota.." ** terang Circe.
" Ternyata memang benar.. Sampah akan lebih cocok bersama dengan sampah.." gumam Alaglosa merasa kecewa.
Dirinya pun berbalik dan berniat meninggalkan tempat dimana dia berada sekarang. Rasanya tidak akan sanggup jika dirinya terus berada di tempat ini dan hanya mendengarkan hal-hal yang menyakitkan telinga dan hatinya. Namun, langkah Alaglosa langsung terhenti ketika dia mendengar ucapan Circe yang membuatnya terpaku di tempat.
" Wilayah selatan sebentar lagi akan dilululantahkan oleh leluhur mereka sendiri yang akan bangkit esok.. Jadi, selagi ada waktu, coba kirimkan pesan untuk kakak mu dan sampaikan permintaan maaf mu, karena telah membuatnya kembali menemui nerakanya meski dengan orang dan takdir yang berbeda, namun hasil akhirnya tetap sama, dia akan mati." Alaglosa langsung terduduk di tempatnya saat ini.
Seorang penyihir seperti Circe dan leluhurnya, apalagi Circe merupakan reinkarnasi dari penyihir hitam terhebat sepanjang masa, EElaysator. Jelas pasti apa yang dia lihat, memang benar adalah gambaran masa depan. Lalu, benarkan Alaglosa akan kembali mengalami kematian di kehidupannya kali ini.
__ADS_1
Dengan langkah yang gontai, Alaglosa meninggalkan tempat itu. Ketika dia memejamkan matanya, saat dia kembali membuka mata, dia sudah berada di balkon kamarnya. Akan tetapi, Alaglosa terkejut karena melihat suaminya sudah berada tepat di depannya. Entah kapan suaminya datang ke kamar pribadinya, yang jelas ketika Alaglosa melihat senyum dari suaminya, hatinya yang tadi gundah, kini berangsur membaik.
" Sudah kembali? Kenapa kali ini lama sekali? Kau pergi kemana?" tanya Tyrian dengan tidak sabaran.
" Satu-satu kalau bertanya.. Kalau kamu bertanya seperti itu, bagaimana aku bisa menjawabnya.." Alaglosa terkekeh pelan.
" Maaf.. Aku sungguh tidak sabar mendengarkan cerita mu." Tyrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu.
Alaglosa geleng-geleng kepala setiap kali melihat antusiasme dari suaminya setiap dia selesai berpindah jiwa. Tyrian akan menanyakan apapun yang memang sangat ingin dia ketahui. Tapi sepertinya untuk kali ini, Alaglosa tidak bisa sepenuhnya menceritakan yang terjadi, karena takut, suaminya akan kepikiran dengan masalah yang Alaglosa dengar tadi.
" Aku pergi ke tempat dimana kamu dulu pernah menyelamatkan aku dari tangan putra mahkota, sebelum akhirnya kita menikah.." jawab Alaglosa untuk pertanyaan pertama Tyrian.
" Penjara bawah tanah, kediaman putra mahkota?" Alaglosa mengangguk.
" Di sana, aku melihat pangeran dari negeri elf, bersama dengan pelayan ratu, tengah berbuat tidak sopan. Mereka sepertinya memiliki hubungan khusus dan intim.." Tyrian melongo saat ini.
" Pelayan ratu? dengan pangeran elf? Apa mata dari adik mu itu bermasalah? " sarkas Tyrian yang entah mengapa kelihatan kesal.
" Kenapa kamu jadi kesal? jangan-jangan, kamu suka sama pelayan ratu ya?" mata Alaglsoa memicing tajam, memindai wajah Tyrian.
__ADS_1
" Hei... Hei... bagaimana bisa kau mengatakan aku menyukai wanita yang memiliki bau busuk seperti itu? " alis Alaglosa berkerut. Ucapan suaminya, menjadi tanda tanya besar baginya karena suaminya mengatakan Circe bau busuk. Tapi, karena apa suaminya sampai berucap seperti itu?