Lord Of Chronos And Choros

Lord Of Chronos And Choros
infinity


__ADS_3

Rombongan kaisar Proston telah bersiap di depan kastil. Mereka masih menunggu pemimpin mereka yang tengah berbincang dengan putranya tak jauh dari rombongan yang tengah berkumpul. Sebelum meninggalkan kastil, kaisar harus memastikan terlebih dahulu jika semuanya akan tetap baik-baik saja selama perjalanannya kali ini. Dan kaisar menyerahkan semua tanggung jawab kepemimpinan di sini, pada putranya.


" Ayah yakin tidak butuh aku menemani ke sana?" tanya Tyrian yang khawatir dengan sang ayah. Usia ayahnya sudah tidak muda lagi, dan mengikuti pertempuran adalah sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh ayahnya.


" Tidak apa.. Kau lupa siapa aku. Sebelum kau menjadi pemimpin pasukan wilayah selatan, sebelumnya adalah aku. Dan kau tahu sendiri sebanyak apa prestasiku." ucap kaisar dengan wajah yang terlihat sombong.


" Ya...Ya... Awas saja jika ayah kembali dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Selamanya aku tidak akan membiarkan ayah turun di medan perang lagi." ucap Tyrian menanggapi kesombongan sang ayah.


" Jaga ibu mu.. Bisa saja dia bangun saat aku tidak ada di sini.. Pastikan dia baik-baik saja. Dan katakan padanya untuk menanti ku kembali bersama putra sulungnya." Tyrian mengangguk.


Satu-satunya alasan bagi kaisar Proston tidak mengizinkan putra bungsunya ikut ke medan perang karena sang istri masih belum sadarkan diri setelah melepas segel kekuatan Tyrian beberapa waktu yang lalu. Menurut tabib yang memeriksa permaisuri, kondisinya sudah baik-baik saja. Hanya saja, membutuhkan waktu untuk permaisuri sadar kembali.


Sistem segel pada diri Tyrian kecil, sama seperti penjara bagi jiwa permaisuri. Karena itulah, jiwanya bisa saja belum bisa menyesuaikan perbedaan tempatnya berada saat ini. Pasti yang mulia permaisuri akan bangun, akan tetapi kapan pastinya, tidak ada yang bisa memprediksinya.


" Ayah pasti akan baik-baik saja.. Beliau adalah penguasa wilayah selatan yang kehebatannya sudah menjadi rahasia umum.." Alaglosa memeluk suaminya untuk menenangkan Tyrian yang tengah dilanda kekhawatiran akan ayahnya yang pergi berperang.


" Yah.. Dia tadi juga menyombongkan kemampuannya pada ku.. Lagipula Zeco juga ada di sana, mereka pasti akan baik-baik saja." Tyrian mencoba untuk menguasai dirinya.

__ADS_1


" Hm.. Dewa Haukra, tidak akan membiarkan keturunannya mengalami kematian. Aku yakin akan hal itu."


Tyrian dan Alaglosa melihat rombongan kaisar pergi sampai satu pun dari rombongan ini sudah tiak terlihat lagi oleh mata mereka. Barulah setelahnya, sepasang suami istri ini kembali memasuki kastil. Ada beberapa pekerjaan yang harus mereka kerjakan, berhubung penguasa wilayah sedang tidak berada di tempat.


*****************


Di tempat yang mana pertempuran masih berlangsung, keadaan dan situasinya sangat tidak mendukung pasukan Zeco. Setengah dari pasukan Zeco sudah gugur dan sebagian dari yang tersisa sudah terluka dan tidak bisa melanjutkan pertempuran. Zeco dan marqeus Vollin hanya bia mengandalkan sisa pasukan yang tersisa untuk melanjutkan pertempuran.


" Pasukan yang masih bisa bertarung, semuanya berkumpul di belakang ku. Yang sudah tidak mampu lagi melanjutkan pertempuran, kembali ke barak dan sembuhkan diri kalian.. Setelah kalian dalam kondisi prima, kembalilah kemari untuk menggantikan kami.." titah Zeco.


" Tapi yang mulia, apa anda tidak apa tanpa saya dan pasukan ini?" tanya marques Vollin terlihat mengkhawatirkan Zeco.


" Tapi tuan, manna anda juga sudah banyak terkuras. Anda bisa tidak selamat jika memaksakan diri."


" Vollin.. Kau lupa siapa diri ku? Bagaimana mungkin leluhurku akan membiarkan aku mati.. Tenang saja, aku tidak akan mati.. Aku masih belum melihat keponakan ku lahir.." ucap Zeco kemudian melesat menjauhi marques Vollin yang kini menatapnya dengan tatapan heran.


" Keponakan? Keponakan dari mana?" gumam marques Vollin heran.

__ADS_1


Zeco memimpin pasukan yang bisa dikatakan masih mampu bertarung meski tidak seprima saat pertama kali mereka turun ke area pertempuran ini. Meski begitu, setidaknya mereka masih mampu mengeluarkan kekuatan mereka untuk membantu Zeco membasmi para monster yang tidak ada habisnya ini. Terhitung sudah hampir empat malam mereka bertarung, dan belum ada kepastian pasti jika kemenangan ada di tangan mereka.


Harapan pasukan yang Zeco pimpin saat ini hanyalah pasukan bantuan dari ibukota, atau pasukan yang marques Vollin bawa tadi secepatnya kembali. Jika tidak, mungkin mereka akan menjadi bagian dari setengah pasukan mereka yang sudah gugur terlebih dahulu.


" Kalian semua.. Buat lingkaran, pastikan tidak ada celah untuk para monster ini keluar dari lingkaran yang kalian buat. Keluarga kekuatan sihir kalian, dan buat benteng dari tanah yang mengelilingi seluruh monster itu. Aku akan menyegel mereka.. " Ucap Zeco memberikan arahan rencana yang sudah dia pikirkan matang sejak tadi.


" Yang mulia, sisa penyihir di pasukan ini tidak ada sepersepuluh pasukan.. Apakah kami mampu, melakukan sesuatu sesuai arahan anda? " Tanya salah satu pasukan Zeco yang seorang penyihir.


" Bisa.. Pasti bisa.. Kalian lupa apa saja yang bisa aku lakukan dengan kekuatan dewa yang aku miliki? " Ucap Zeco dengan penuh percaya diri.


" Baik yang mulai.. Siap laksanakan perintah dari anda.. "


Zeco tersenyum melihat semangat yang masih dimiliki oleh anggora pasukannya. Padahal bisa saja keadaan yang Zeco rencanakan ini justru membuat semua orang kehilangan nyawa mereka. Tapi, sebagai kesatria, bukankah gugur di medan perang adalah sebuah pencapaian terbaik dari seorang kesatria.


Semua pasukan yang Zeco pimpin, benar-benar membuat sebuah lingkaran yang sangat besar. Jarak dari satu orang ke orang lain mendapat dua meter. Kemudian di belakang kesatria yang tengah membuat lingkaran ini, para penyihir tengah mempersiapkan kekuatan mereka untuk membuat sebuah shield setelah tembok tanah selesai dibangun.


Shield yang diciptakan ini nantinya akan memantulkan segel yang tengah dibuat oleh Zeco. Mungkin saja rencana kali ini akan berhasil, monster ini akan tersegel. Akan tetapi tidak ada jaminan jika nanti akan ada monster lain yang keluar dari inti bumi yang lubangnya saja sebesar kawah gunung berapi di atas sana.

__ADS_1


Disaat Zeco mengeluarkan mannanya untuk memperbesar semua kekuatan dari pasukannya, Zeco akhirnya mengeluarkan kemampuan infinity miliknya dimana dia bisa meningkatkan kemampuan dirinya sendiri dan orang-orang yang dia tandai. Namun, tiba-tiba saja sebuah petir menyambar tepat di tengah para monster ini.


Pasukan Zeco yang awalnya tengah bersiap mengeluarkan kemampuan mereka menciptakan tembok dari tanah, kini terhempas ke segala arah. Zeco memicingkan mata, menatap ke depan, berharap bisa tahu siapa orang yang melakukan ini. Apakah dia kawan atau lawan?


__ADS_2