
Di kastil kerajaan wilayah selatan di Eldrogo, sangat sunyi lantaran sudah malam. Tidak ada yang berlalu lalang di dalam kastil, semua beristirahat di kamar mereka masing-masing. Termasuk sepasang suami istri yang merupakan pemimpin sementara di kastil ini lantaran penguasanya tengah berperang.
Meski suasana sangat tenang dan begitu nyaman untuk terlelap. Namun hal itu tidak bagi Alaglosa. Sepanjang malam, dia terus gelisah dalam tidur dan terjaganya. Perasaannya tidak menentu, dia pun terus merasa gelisah seperti akan ada sebuah peristiwa besar. Ingin mencari tahu dengan kekuatannya, sayangnya tidak ada yang terjadi meski dia menginginkan jiwanya berpindah tempat.
Alaglosa semakin tidak menentu kegelisahan nya setiap kali matanya menatap mata dari suaminya. Rasanya seperti tatapan mata terakhir di antara mereka kedua dalam kehidupan Alaglosa yang sebelumnya. Sedih, resah, yang dirasa tanpa sebab sama sekali.
" Belum tidur? " Lamunan Alaglosa buyar begitu dia mendengar suara dari suaminya.
" Eh.. Belum.. " Jawab Alaglosa langsung mendekat ke arah suaminya berada.
" Memikirkan sesuatu? " Alis Tyrian menyatu lantaran tidak biasanya Alaglosa jadi manja begini.
" Sebenarnya tidak ada yang aku pikirkan, hanya saja... " Alaglosa tidak melanjutkan ucapannya.
Dirinya semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami, menghirup aroma tubuh yang begitu maskulin dengan diselingi aroma dari tembakau. Aroma yang selalu mampu membuat Alaglosa mabuk kepayang. Aroma inilah yang selalu mampu menjadi penyemangat nya dalam melakukan apapun.
" Hanya saja.. Apa? Jangan membuat ku menebak-nebaknya.. " Nada dari ucapan Tyrian terkesan dingin sekali.
" Pfffttt... Bukan hal yang besar.. Hanya saja, aku merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Tentang diri mu dan juga seluruh wilayah ini.. " Ucap Alaglosa berubah menjadi sendu.
" Maksudnya bagaimana? "
" Aku merasa akan ada sebuah peristiwa besar yang melibatkan diri mu di dalamnya. Ketakutan ku, jika sesuatu yang buruk terjadi pada mu.. " Ucap Alaglosa. Dia sendiri bingung harus menjelaskan seperti apa lagi tentang perasaannya ini.
Tidak ada kata yang mampu menggambarkan dengan jelas perasaan tidak nyaman yang dirasakan oleh Alaglosa. Yang jelas, dia ketakutan. Entah karena apa dan pada siapa, yang jelas Alaglosa kini tengah ketakutan. Rasanya tidak nyaman sekali, karena berada dalam situasi yang tidak memiliki kepastian.
" Selama kita bersama. Aku yakin kita akan bisa melewati semuanya dengan baik.. Aku.. Akan selalu berada di samping mu, untuk menemani mu melalui segala macam kejadian yang menyenangkan ataupun menyedihkan.. " Tyrian berusaha menghibur sang istri.
" Baik.. Aku pegang janji mu.. " Alaglosa menatap tajam Tyrian. Dia menuntut Tyrian untuk bisa membuktikan ucapannya barusan. Dan tentu saja tantangan ini disambut baik oleh Tyrian. Mencintai Alaglosa saja sudah dia jalani selama bertahun-tahun, apa lagi hanya untuk membuktikan.
__ADS_1
" Sekarang sudah sangat larut, dan kita harus istirahat.. Ayo.. " Tyrian mengangkat tubuh sang istri yang baginya seringan kapas itu dalam sekali hentakan.
Tyrian menggendong Alaglosa dengan gaya mirip koala yang menggendong anaknya. Tyrian yang tadinya berada di dekat sofa yang ada di kamarnya, segera membawa Alaglosa ke ranjang dan membaringkan sang istri. Keduanya pun bersiap untuk beristirahat.
Rasanya baru sebentar Alaglosa memejamkan matanya, terdengar suara ribut-ribut di luar kamarnya. Saat tangannya meraba bagian sampingnya dimana tadi di sanalah suaminya berbaring, namun kini bagian di sampingnya ini kosong. Lekas saja Alaglosa membuka mata, dan mencari keberadaan dari suaminya.
" Masih malam.. Kemana dia? " Gumam Alaglosa yang langsung turun dari ranjang.
Alaglosa melangkah keluar dari kamarnya, dan matanya sudah disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya tidak percaya. Api besar telah melahap bagian depan kastil yang biasanya dijadikan untuk Raja dan Tyrian bekerja. Pertanyaan yang hadir dalam benak Alaglosa, siapa yang membakar kastil.
" Tunggu.. Apa yang terjadi? " Tanya Alaglosa para salah satu pelayan yang lewat.
" Yang mulia.. Yang mulia.. Anda harus segera pergi dari sini.. " Belum juga pelayan yang dihentikan oleh Alaglosa menjawab pertanyaannya, Dalyor sudah menarik tubuh Alaglosa untuk mengikuti kemana dia pergi.
" Tunggu.. Hei.. Tunggu... Jangan menarik ku.. " Teriak Alaglosa kesal pada pengawal pribadinya ini.
SYUUUTTT
BLAARRR
AAAARRRRRGGGGHHHHHH
Tubuh Alaglosa dan Daylor terpentang jauh lantaran sesuatu yang tiba-tiba melesat kearah mereka dan meledak. Setelah debu dan puing-puing bangunan tidak lagi bergejolak, mata Alaglosa bisa melihat dengan jelas jika di langit malam ini, ada dua naga yang terbang dan saling menghembuskan nafas api mereka.
" Tyrian... " Alaglosa sampai menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya karena terkejut melihat apa yang ada di langit sana.
" Jika yang satu Tyrian, lalu yang satunya siapa? Apakah ayah sudah kembali? " Alaglosa menatap ke samping, dimana Daylor berada.
Namun disini yang mengganggu pikiran Alaglosa adalah ekspresi wajah Daylor yang terlihat sangat tegang. Manusia yang terkenal bermuka datar itu, tiba-tiba saja terlihat tegang, membuat Alaglosa menyimpulkan jika yang terjadi saat ini adalah kondisi yang genting.
__ADS_1
" Ayo yang mulia.. Kita harus pergi dari tempat ini menuju ke tempat yang paling aman di wilayah ini.. " Daylor langsung menggendong Alaglosa ala bridal dan berlari cepat menuju ke kastil es di tempat yang paling ada di belakang.
" Siapa naga yang satunya lagi? " Alaglosa masih penasaran, langit malam membuat matanya tidak bisa melihat dengan jelas.
" HYDRAGONEUS. " Jawab Daylor singkat jelas dan padat.
" APA?? BAGAIMANA BISA?? " Teriak Alaglosa terkejut.
Menurut perkiraan kapan gunung meletus, masih ada dua minggu lagi. Lalu bagaimana bisa keadaan menjadi maju begini. Belum lagi, monster itu yang langsung menyerang kastil begitu saja. Bukankah di bagian lereng ada pasukan dari Kaisar dan juga pangeran Zeco. Mungkinkah dua pasukan ini sudah...
Alaglosa menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran buruk tentang yang terjadi saat ini. Dia harus kuat dan memikirkan jalan keluar terbaik dari permasalahan ini. Alaglosa ingin membantu Tyrian, hanya saja, jika Tyrian dalam bentuk naga seperti itu, akan sangat sulit bagi Alaglosa untuk mendekat.
" Apa yang harus aku lakukan? " Batin Alaglosa bertanya-tanya.
" Tenang saja yang mulia.. Tuan Tyrian, akan segera kembali ke bentuk manusia jika pasukan dari yang mulia kaisar dan Pangeran pertama tiba di ibukota. " Ujar Daylor seolah bisa mendengar jeritan batin Alaglosa.
" Kenapa kita ke kastil ini? " Tanya Alaglosa ketika Daylor menurunkannya begitu memasuki kastil yang terbuat dari es abadi ini.
" Menurut Alpus, tempat ini dulunya dirancang untuk melindungi tubuh dari yang mulia permaisuri. Dengan kata lain, tempat ini dirancang untuk menghalangi siapapun dan apapun yang berencana mengusik tubuh yang mulia Permaisuri. Jadi, tempat ini seperti benteng dan perisai yang melindungi siapa saja di dalamnya. " Tutur Daylor menjelaskan.
Alaglosa tidak lagi bertanya, karena matanya telah teralihkan dengan kondisi di dalam bangunan ini. Disebut es abadi karena tidak akan pernah mencair meski dalam cuaca sepanas apapun. Tempat ini, memang dibuat untuk bisa mempertahankan tubuh Permaisuri agar tidak lekang dimakan waktu.
WUUUUSSSHHH
BRUK
BRAK
BRAK
__ADS_1
GRUDUK... GRUDUK.. GRUDUK..
" TYRIAN... " Alaglosa berteriak sangat kencang memanggil suaminya.