
Wajah Alaglosa tidak berhenti memerah sejak percakapan terakhir dengan ayah mertuanya. Dia merasa begitu malu, jika memikirkan tentang malam pertamanya dengan Tyrian yang akan terjadi tidak lama lagi. Apalagi ketika mendengar suara derap kuda yang Alaglosa yakin bahwa itu adalah suaminya.
" Kenapa aku gugup sekali? Ini bukan pertama kalinya... Kenapa aku merasa seperti anak gadis yang baru pertama kali akan melakukannya..? " Alaglosa tertunduk lesu karena dirinya bahkan tidak tahu harus bagaimana saat ini.
" Mengolah juga tidak bisa, karena jika begitu dia pasti akan beranggapan aku terpaksa dengan pernikahan ini.. Tapi jika harus melakukan itu,, aduh.... aku benar-benar gugup sekali saat ini.. " Alaglosa sudah mondar mondir di dalam kamarnya.
Diluar memang benar bahwa yang baru saja tiba adalah Lord Tyrian. Seharian dia membuat laporan tentang perang yang berakhir beberapa hari yang lalu. Sekaligus menyambut kedatangan dari pasukannya yang memang datang sesuai hari yang sudah diperkirakan, hanya memang Tyrian saja yang terlalu cepat datang untuk menyelamatkan Alaglosa.
" Dimana istri ku? " tanya Tyrian ketika kepala pelayan datang menyambutnya.
" Lady Alaglosa berani di dalam kamarnya, Lord... " lapor kepala pelayan.
" Katakan pada siapapun untuk tidak naik ke lantai dua sampai besok pagi.. Kau paham kan? " titah Tyrian.
" Baik my Lord.. " kepala pelayan itu tersenyum karena tahu kenapa pelayan dilarang naik ke lantai dua. Sudah pasti nanti malam akan terjadi sesuatu yang menyenangkan bagi tuan mereka.
Tyrian bergegas naik ke lantai dia menuju ke kamar pribadinya dulu untuk membersihkan diri. Baru setelahnya dia akan ke kamar milik sang istri, tentunya untuk melakukan olahraga malam sesuai anjuran dari sang ayah. Tyrian masuk ke kamar sang istri melalui pintu penghubung yang ada di dinding antara kamar mereka yang memang bersebelahan.
Tyrian tersenyum ketika melihat sang istri yang mengenakan pakaian tidur dari kain sutra tengah mondar mandir tidak tentu arah di kamarnya. Sepertinya akan ada yang gugup nanti malam, untuk menyempurnakan pernikahan mereka.
" Kau belum tidur? Apa kau menunggu ku pulang?" tanya Tyrian dengan senyum menggoda menghiasi wajahnya.
" Ehm... Saya belum mengantuk.." jawab Alaglosa tertunduk. Dia sadar wajahnya kembali merah padam setelah melihat suaminya. Sialnya suaminya ini masuk ke kamarnya tanpa mengenakan pakaian bagian atasnya. Bisa dikatakan dia bertelanjang dada. Yang membuat Alaglosa gagal fokus adalah bentu otot dada suaminya yang begitu bidang dan nampak kokoh, belum lagi otot perut yang membentuk kotak-kotak. Otak polos Alaglosa semakin tercemar.
__ADS_1
" Boleh aku temani? Dan tolong, jika hanya kita berdua bisakan kau bicara biasa saja. Tidak perlu formal dengan ku, kau itu adalah istri ku." pinta Tyrian dengan langkah pelan mendekati istrinya.
" Apakah boleh? Secara peraturan yang berlaku, anda memiliki kedudukan lebih tinggi dari saya.." ujar Alaglosa tidak langsung menyetujui dan kakinya juga semakin mundur ke belakang.
" Adakah dalam hubungan suami istri kedudukan salah seorang dari keduanya lebih tinggi? Kita setara Ossa, jadi bersikaplah biasa saja pada ku. Jika kau tidak nyaman setidaknya jika kita hanya berdua. jangan bersikap formal.. Mengerti..." Tyrian sudah berdiri tepat di depan Alaglosa dan hanya berjarak satu langkah saja.
Kaki Alaglosa sudah tidak bisa mundur lagi karena terbentur dengan sisi ranjang. Tidak berani menatap wajah suaminya, Alaglosa hanya mampu tertunduk menatap lantai. Jantungnya berdegup sangat kencang lagi keringat dingin sudah mulai keluar karena Alaglosa sangat gugup.
" Rileks... Aku tidak akan menyakiti mu... Tapi bisakah aku meminta hak ku? Aku tidak bisa menahannya lagi.." bisik Tyrian di telinga sang istri. bahkan dengan sengaja Tyrian meniup daun telinga Alaglosa, membuat tubuh gadis ini meremang.
" Aku janji akan pelan-pelan... " belum Alaglosa menjawab, Tyrian sudah menyatukan bibir mereka berdua. Secara bergantian Tyrian menyesap bibir atas dan bawah milik Alaglosa. Bibir yang telah menjadi candu untuk Tyrian karena sangat manis sekali.
" Emmmmmhhhh..." keluar suara-suara yang berasal dari mulut Alaglosa.
Ciuman dari Tyrian begitu intens hingga membuat Alaglosa tidak bisa bernafas. Dengan pelan, Alaglosa menepuk lengan suaminya agar melepaskan ciuman mereka sejenak agar dia bisa menghirup udara lebih banyak.
" Bibir mu begitu manis,, mulai hari ini, bibir ini akan menjadi candu ku.." jemari Tyrian menyelusuri bibir mungil merah cherry milik Alaglosa.
" Bolehkah aku lanjut, istri ku?" Alaglosa mengangguk. Seperti apa yang dikatakan oleh mertuanya tadi, bahwa Alaglosa tidak boleh menolak.
Permainan pun berlanjut, tyrian kembali menyatukan bibir mereka. Bahkan lidah Tyrian sudah melesat masuk dengan cepat ke dalam mulut Alaglosa, sehingga lidah keduanya mulai berperang. Alaglosa begitu kewalahan mengikuti gerakan suaminya, sepertinya suaminya ini begitu mahir dalam urusan seperti ini.
setelah puas menikmati bibir sang istri, dalam sekali hentakan Tyrian mengangkat tubuh istrinya dan membawanya untuk berbaring di ranjang. Bagian lain dalam dirinya begitu tidak lagi bisa menunggu lebih lama, sehingga Tyrian harus segera menyelesaikan ini semua dengan cepat agar dia tidak uring-uringan.
__ADS_1
" Akan sedikit sakit,, jadi aku akan pelan-pelan.. Tahan ya..." ucap Tyrian sebelum kembali menyerang bibir Alaglosa, menyesap sebentar dan kecupan itu mulai turun ke leher kemudian ke bagian yang biasanya menjadi favorit kedua para pria.
Mata Tyrian terbelalak ketika dia melihat milik Alaglosa benar-benar akan memuaskan dirinya. Begitu kencan, besar dengan puncak berwarna merah muda. Sangat indah sekali di matanya. Kecupan dan ******* pun dimulai di bagian itu, Terus dan terus membuat Alaglosa mendesah merasakan geli yang menyebar ke seluruh tubuhnya setiap lidah suaminya menyentuh kulitnya.
" Euuhhhh..." mulut Alaglosa kembali mengeluarkan suara yang aneh.
" Kita mulai ya..." Tyrian memberikan kode agar Alaglosa mempersiapkan diri karena mereka akan masuk ke bagian intinya.
" Lakukan... Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.." ucap Alaglosa memberikan izin suaminya untuk memulai pertempuran mereka malam ini.
Meski Tyrian melakukannya dengan pelan dan lembut, namun tetap saja Alaglosa merasakan kesakitan yang luar biasa. Apalagi saat selaput daranya koyak oleh milik Tyrian yang tidak bisa diremehkan besar dan panjangnya.
" Dewa... Kenapa sebesar dan sepanjang itu bisa masuk? Ini jauh lebih besar jika dibandingkan milik Saturn.." batin Alaglosa yang dengan bodohnya membandingkan senjata kedua pria itu.
" Sakit.... tolong... pelan..." pinta Alaglosa yang merasakan nano nano di bagian intinya karena milik Tyrian.
" Tahanlah,, sebentar lagi kau akan merasakan enak.." ucap Tyrian dengan bekerja keras di bagian atas.
Tyrian mulai kehilangan kendali saat dirinya merasakan nikmatnya terjepit sesuatu yang licin dan empuk. Gerakannya yang awalnya pelan, kini justru semakin cepat seperti tengah memacu kudanya untuk berlari kencang. Alaglosa bahkan sampai berteriak kencang, tapi kali ini bukan teriak kesakitan, melainkan berteriak karena saking nikmatnya.
" Aku ingin keluar... Lebih cepat dan dalam..." pinta Alaglosa yang penampilannya jauh dari kata sempurna itu. Rambut sudah acak-acakan, dengan tebaran kissmark yang memenuhi hampir setiap inci tubuhnya. Dan tentunya dengan senang hati dituruti langsung oleh Tyrian.
" Arrrrgghhhh...." teriak keduanya setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan.
__ADS_1
" Terima kasih istri ku, karena aku telah menjadi yang pertama bagi mu..." ucap ttyrian ketika melihat darah di ranjang dan juga bagian inti dari dirinya.
Tyrian berharap, semoga saja benih yang dia tanamkan dalam diri sang istri bisa segera membuahkan hasil. Karena bukan hanya Kaisar Proston saja yang ingin cucu, Tyrian juga ingin lekas punya momongan.