Lord Of Chronos And Choros

Lord Of Chronos And Choros
Di serang


__ADS_3

Pesta dansa sudah berakhir, semua mata para tamu masih menatap ke arah ku. Mereka pasti berpikir betapa beruntungnya diri ku bisa mendapatkan kasih dan sayang dari seorang pria bergelar putra mahkota yang konon katanya terkenal dengan sikap dingin dan cuek dengan wanita manapun. Tapi sekarang bisa aku katakan bahwa itu bukan sebuah keberuntungan, melainkan kesialan yang aku alami semasa hidup ku. Dan aku tidak akan menjadi mirip keledai, dengan terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.


Mata ku melihat ke sekeliling, dan jatuh pada sosok yang terlihat seperti sedang menahan amarah, terlihat dari wajahnya yang merah padam, belum. lagi raut wajahnya ditekuk. Terlihat menyeramkan bagi orang lain, tapi entah kenapa bagi ku, itu terlihat seperti seorang anak yang tengah merajuk karena apa yang dia miliki hampir direbut oleh anak lainnya. Diam-diam aku tersenyum melihat itu, sudah pasti pria itu cemburu melihatku berdansa dengan putra mahkota.


Terus aku lihat banyaknya tamu undangan, mata ku terjatuh kembali pada keluarga kerajaan Amanecer. Jujur saja melihat mereka membuat hati ku nyeri. Karena ingatan ku kembali ke masa hidup ku yang lalu, dimana merekalah yang menjerumuskan aku pada kematian. Membuat ku meninggalkan pria yang aku cintai dan menyakiti pria itu. Mengingatnya, dimana dia sekarang. Aku bahkan dulu tidak begitu ingat dengan namanya karena saat itu aku terlalu malu untuk bertemu dengannya, pria yang aku sakiti tapi memiliki seluruh hati ku padanya.


Sialan...


Kata itu keluar begitu saja dari dalam diri ku ketika bersitatap dengan wanita iblis yang telah mengambil tempat ku. Wanita iblis yang meracuni pikiran semua orang untuk mempersembahkan ku di masa hidup ku yang lalu. Dan lihatlah betapa angkuhnya wanita yang hanya pelayan Ratu itu berani menatap ku. Apa dia ingin mengibarkan bendera perang pada ku seperti dulu. Tapi sayangnya aku tidak memiliki minat untuk itu. Fokus ku bukan pada balas dendam, tapi pergi dan menyelamatkan banyak nyawa yang mati karena keegoisan ku.


" Cih... Penyihir sialan.. " gumam ku lirih, tapi rupanya Bhuralea bisa mendengarnya.


" Tuan putri,, tidak boleh mengumpat.. Pesta kedewasaan akan segera dimulai. Anda harus membersihkan pikiran dan hati anda, dan menerima berkah dari dewa.. " tegur Bhuralea.


Aku pun merotasikan mataku jengah mendengar tegurannya. Tidak ada yang berubah dari pelayan ku ini sejak di kehidupan pertama maupun kehidupan ku saat ini. Ingin rasanya aku memeluknya dan berterima kasih atas pengorbanannya, tapi aku tidak bisa melakukannya agar orang-orang tidak ada yang curiga pada kami.


" Untuk semua yang akan menerima berkah dari dewa, silahkan maju ke tengah altar dan bersiap untuk menjalankan ritual kalian semuanya menuju proses menjadi seseorang yang dewasa.. " ujar tetua elf yang akan memimpin jalannya ritual ini.


Tidak memakan waktu lama, karena ritual ini hanya untuk meminta berkah dewa agar kehidupan meraka yang beranjak dewasa ini akan dilindungi dewa hingga mereka bisa menghasilkan keturunan dan berguna untuk Anchestral Land. Dan setelah ritual itu berakhir, maka pesta kedewasaan juga berakhir. Semuanya langsung bubar menuju ke tempat mereka menginap untuk malam ini sebelum besok mereka akan kembali ke asal mereka.


Malam ini rembulan bersinar terang, dan aku jadi kesal melihat bulan karena ucapan Bhuralea tadi tentang putra mahkota. Mood ku langsung jelek karena hal itu, padahal aku sangat ingin melihat rembulan malam yang indah bertemankan bintang. Tapi karena ucapan pelayan pribadi ku tadi, aku jadi enggan melihat bintang.


Kaki ku terus melangkah menyusuri malam, yang sudah berteman dengan ku sejak dulu. Bahkan di kehidupan ku dulu, aku sangat senang berjalan di tengah malam seperti ini. Angin malam dan suasana malam yang sunyi, selalu bisa membuat perasaan ku membaik.

__ADS_1


Srek... Srek...


Aku mendengar ada bunyi ranting seperti diinjak oleh sesuatu. Rasanya tidak mungkin jika itu hewan karena di tempat terdengarnya suara itu bukanlah hutan tempat hewan tinggal. Perasaan ku menjadi tidak tenang, aku pun melangkah kan kaki ku lebih cepat dari tadi berusaha sesegera mungkin sampai di tempat yang lebih terang dari di tempat aku berasa saat ini.


" Dewa, ibu, ayah, siapapun itu lindungi lah aku... " gumam ku dengan kedua jemari ku yang saling bertaut meremas.


" Kenapa jadi begini.? Rasanya kaki ku tidak bisa diajak kerja sama... " keluh ku kesal karena langkah ku bukan semakin cepat malah semakin lambat dan....


BOOM...


Ledakan kecil dan asap keluar dari arah ledakan itu. Suara ledakan itu sangat kecil, sehingga aku yakin para penjaga yang ada di jarak beberapa puluh meter dengan ku itu tidak akan bisa mendengarnya.


" TO...... " belum selesai kalimat ku untuk meminta tolong, dua orang muncul dari kepulan asap itu dan langsung menyerang ku.


Srek


Melihat dari cara serang mereka, aku tahu mereka ini adalah assasin level tinggi. Beruntung setelah hidup kembali, aku selalu membawa belati kemana pun aku pergi. Ternyata ada gunanya juga aku membawa benda ini kemana pun aku pergi.


Dak... Bugh...


" Aargghhh... " aku meringis sakit saat mereka berhasil menendang ku dari samping. Rasanya begitu sakit sekali.


Srringg...

__ADS_1


Pedang itu terhunus tepat di depan leher ku. Yah, bisa aku katakan bahwa lebih baik aku mati di pedang assasin ini, daripada harus mati sebagai perkembangan dan dikhianati oleh orang-orang terdekat ku. Aku yang pasrah kemudian menutup mata, bila ini akhir dari hidup ku lagi, setidaknya aku tidak menyakiti pria itu. Karena itulah penyesalan terbesarku selama ini.


BRAKK..


Eh,, kenapa aku tidak merasakan sakit sama sekali, dan hal ini menjadi aneh karena apa aku pernah mengalami rasa yang lebih menyakitkan jadi tidak sakit lagi saat leher ku ditebas oleh assasin itu.


" Tuan putri anda tidak apa? " tanya seseorang yang suaranya sangat aku kenal.


" Jendral... " pekik ku terkejut karena melihat pria ini di depan ku.


" Sialan mereka kabur.. " ujarnya masih bisa aku lihat. Wajahnya juga menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar pada ku. Kenapa pria ini bisa begitu khawatir dengan ku.


" Mari saya kawal anda sampai ke kediaman anda tuan putri.. " dia membantu ku bangun dan memapah ku. Kami berjalan beriringan sampai ke rumah tempat aku tinggal.


" Bagaimana anda bisa sampai ada di tempat tadi Jendral? " tanya ku yang tidak lagi bisa menahan rasa penasaran ku.


" Saya tidak bisa tertidur karena selalu mengingat ucapan anda tempo hari.. Tadi saya lihat ada yang di serang jadi saya datang.. Maaf karena terlambat. " lihatlah betapa baiknya dia. Benar-benar seperti matahari. Kali ini aku sanjung Bhuralea karena benar.


Tiba-tiba saja pria ini maju ke depan hingga wajahnya begitu dekat dengan wajah ku. Hidung kami pun nyaris bersentuhan. Jantung ku langsung berdetak cepat, aku kira akan ada adegan seperti kejadian di masa lalu ku dimana aku akan dicium oleh putra mahkota. Eh,, aku salah, ini bukan putra mahkota, jadi apakah aku akan senang kali ini yang mencium ku adalah pria yang berhasil menggetarkan jiwa ku.


Hanya sebuah khayalan karena ternyata dia sedang membisikan sesuatu pada ku dan itu membuat ki sangat terkejut sekali. Tapi kemudian tersenyum dan mengangguk.


" Selamat malam.. Putri Alaglosa.. "

__ADS_1


__ADS_2